pupuk
Pupuk organik menumpuk di pinggir jalan di Subak Pegatepan, Desa Gelgel sejak beberapa waktu lalu belum terangkut. (BP/sos)
SEMARAPURA, BALIPOST.com – Minat petani di Kabupaten Klungkung untuk menggunakan pupuk organik secara umum masih rendah. Alasannya, dapat memicu tumbuhnya gulma pada lahan dan memberikan dampak yang lebih lambat.

Berbeda halnya dengan pupuk organik yang sifatnya instan. Padahal, dibalik penggunaanya yang tergolong tinggi, berdampak buruk pada struktur tanah. Demikian disampaikan Kepala Dinas Pertanian Klungkung, Ida Bagus Gde Juanida, Senin (16/10 ).

Menurut Juanida, subsidi pupuk organik tahun ini dari Pemerintah Brovinsi Bali diperuntukkan pada 2.355 hektar lahan, dengan volume 500 kilo per hektar. Pendistribusiannya ke seluruh subak sudah berjalan sesuai jadwal. Namun, penggunaannya oleh petani masih tergolong rendah. “Alasannya karena memicu pertumbuhan gulma. Kalau dari sisi harga, sangat murah. Petani hanya bayar Rp 150 per kilo. Rp 800 disubsidi Pemprov,” terangnya.

Selain itu, petani juga beranggapan penggunaan pupuk ramah lingkungan ini memberikan dampak lebih lambat pada pertumbuhan padi. Berbeda halnya dengan pupuk kimia yang lebih cepat dan mampu mengurangi pertumbuhan gulma.

“Sebenarnya mampu memberikan hasil yang sama kalau pemakaiannya sesuai SOP. Malahan, untuk organik, dampaknya tak hanya baik untuk tanaman, tapi juga tanah. Beda dengan kimia. Tanaman subur, tapi tanah yang kehilangan unsur hara,” ungkapnya.

Mengalihkan petani untuk menggunakan pupuk organik diakui cukup sulit. Namun demikan, pemkab terus melakukan upaya, salah satunya sosialisasi secara berkelanjutan ke subak-subak. Pada 2018, juga direncanakan ada pembuatan demplot seluas 50 hektar. “Dulu saat menggunakan pupuk organik diimbau beralih ke kimia juga sulit. Sekarang juga begitu. Untuk merangsang, kami juga tidak berani menyuruh begitu saja. Tapi membuat demplot supaya petani tahu hasilnya,” kata mantan Kepala Kantor Ketahanan Pangan Klungkung ini.

Baca juga:  BNI Siap Salurkan 1,3 Juta Kartu Tani

Khusus untuk subsidi pupuk kimia tahun ini, Juanida menyampaikan untuk jenis urea sebanyak 1.920 ton, SP36 sebanyak 65 ton, ZA 180 ton, NPK 1.100 ton. “Kami tidak tahu kedepan seperti apa pasokan pupuk ini. Tidak menutup kemungkinan akan berkurang. Makanya kami berharap petani bisa menggunakan organik dari sekarang,” imbuhnya.

Sementara itu, salah satu petani di Subak Pegatepan, Desa Gelgel, Nyoman Sudiarsana tak menampik petani masih lebih banyak yang bergantung pada pupuk kimia. Pupuk organik yang telah didistribusikan ada yang dibiarkan terbengkalai hinggga kemasannya robek. “Kalau saya sudah pakai organik. Tetapi banyak yang belum. Mereka mengamprah saja, tetapi tidak diambil,” tuturnya.

Mantan klian subak ini menyatakan penggunan pupuk organik memberikan hasil lebih baik untuk tanaman cabai yang kini tengah dibudidayakan.  Itu menyebabkan dirinya kembali mengamprah untuk bisa mendapat pasokan susulan. “Malahan saya sudah ngamprah lagi. Tetap belum datang,” tandasnya. (sosiawan/balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.