AMLAPURA, BALIPOST.com – Gelombang pengungsian warga semakin masif di desa-desa khususnya di KRB (Kawasan Rawan Bencana) III, Kamis (21/9). Tetapi, masih banyak juga yang enggan mengungsi, karena tak tahu update informasi bahwa sudah siaga dan tidak tahu harus mengungsi kemana.

Untuk mengatasi itu, jajaran kepolisian mengambil inisiatif semakin gencar ke pelosok desa-desa di KRB III untuk meminta mereka bersiap-siap mengungsi. Tidak hanya di KRB III, polisi juga turun ke lokasi desa di KRB II dan I agar juga bersiap-siap mengungsi.

Seperti yang dilakukan jajaran Sat Polair Polres Karangasem, mereka sudah turun ke pelosok desa untuk sosialisasi sejak Rabu (20/9). Ini sebagai upaya tanggap darurat bencana, agar warga paham bagaimana mempersiapkan diri menghadapinya.

Jajaran kepolisian turun ke desa-desa, seperti di wilayah Kedampal, Desa Datah, Kecamatan Abang, wilayah Desa Tulamben hingga ke Desa Muntig, Kecamatan Kubu. “Kami memberikan pesan agar jangan terlalu panik dan selalu mematuhi arahan pemerintah, warga juga harus tahu bahwa wilayahnya masuk KRB dan tahu apa yang harus dilakukan,” kata Kasat Polair Polres Karangasem, AKP I Made Wartama, Kamis (21/9) siang tadi.

Selain tanggap darurat bencana ke desa-desa, pihaknya juga melakukan patroli ke wilayah pesisir di Pantai Tukad Abu, Desa Tulamben. Sekaligus mempersiapkan jalur laut bilamana dalam situasi gawat diperlukan pengungsian melalui jalur laut.

Di pihak lain, guna memberikan rasa aman dan nyaman kepada masyarakat, Polsubsektor Amed Polsek Abang juga melaksanakan aktivitas serupa. Sebab, adanya aktivitas Gunung Agung yang meningkat dari level II ke level III mengakibatkan kekhawatiran dari beberapa warga yang tinggal di kaki Gunung Agung.

Baca juga:  Menkominfo Ucapkan Selamat Ultah ke Bali TV

Kekhawatiran itu, nampak ada warga atas inisiatifnya sendiri mengungsi ke keluarganya yang tinggal di daerah yang aman. Kapolsubsektor Amed Aiptu I Nyoman Sukarta salah satunya menuju rumah-rumah warga di Banjar Dinas Amed, Desa Purwakerti, Kecamatan Abang.

Salah satu warga di sana, I Nengah Subadia (21) mengaku mengungsi ke rumah iparnya I Nengah Suardana (28). Subadia mengungsi di rumah iparnya bersama lima orang anggota keluarga, Ni Nengah Ani (20) istrinya, Ni Kadek Novi anak umur 10 bulan, I Wayan Nuadi (22) kakaknya, Ni Luh Muliarsi (19) iparnya dan I Gede Sastra keponakan umur dua bulan.

Subadia mengaku dirinya dan keluarganya ada kekhawatiran terhadap keselamatan diri dan keluarganya akibat aktivitas Gunung Agung yang mulai meningkat ke level III. Dia khawatir karena setiap hari merasakan gempa yang terus meningkat, sehingga berinisiatif mengungsi sendiri.

Sukarta mengimbau masyarakat tidak resah dan panik, namun tetap waspada sambil menunggu informasi resmi dari pemerintah daerah. Polisi terus memantau perkembangan aktivitas Gunung Agung.

Setiap perkembangan, akan terus disampaikan kepada warga, agar memperoleh informasi yang benar. Untuk menghindari kebingungan warga, Kapolsek Abang AKP I Nyoman Sugita Yasa, mengatakan kepolisian Sektor Abang dan instansi terkait terus memberikan informasi kepada masyarakat di lereng Gunung Agung berkaitan aktivitas vulkanik Gunung Agung.

Pihaknya berharap setiap adanya perkembangan agar mematuhi himbauan dari pihak yang berwenang. “Seluruh personil juga sudah kami tugaskan untuk mendata jumlah truk masyarakat Abang yang bisa dijadikan alat angkut evakuasi, bila situasi semakin genting,” tegas kapolsek. (Bagiarta/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.