Kade Restika Dewi. (BP/gik)
AMLAPURA, BALIPOST.com – Apa yang pertama kali kita pikirkan ketika mendengar nama Muntigunung? Ya, tentu para peminta-minta yang sering disebut gepeng.

Muntigunung adalah sebuah daerah yang berada di Desa Tianyar Barat, Kubu, Karangasem. Seiring dengan program pemerintah daerah untuk memberantas keberadaan gepeng, munculah sosok Kade Restika Dewi.

Dalam Program Anak Bangsa SWiB 106,8 FM (Kelompok Media Bali Post), belum lama ini, berkesempatan mengundang sosok penuh inspirasi yaitu Kade Restika Dewi seorang guru berprestasi bidang studi Bahasa Inggris SMKN 1 Amlapura yang juga Dosen STKIP Amlapura. Kepeduliannya menghapus label gepeng yang melekat pada setiap orang mendengar nama desanya disebut, membuat guru berparas cantik kelahiran 1989 ini ingin menunjukan prestasinya mewakili Muntigunung. “Jika orang mendengar nama Muntigunung, orang akan ingat ada saya, Restika Dewi, bukan seorang gepeng, tapi seorang yang berprestasi, ” tegasnya.

Prestasi Restika memang telah ditunjukkan semenjak kecil. Bahkan peristiwa tak terlupakan yang dialaminya saat masih duduk di bangku sekolah dasar, tepatnya ketika mengikuti lomba menyurat Aksara Bali dalam ajang Porseni Tingkat Provinsi tahun 1998, menjadi pengalaman yang merubah cara pandang terhadap diri dan lingkungannya.

“Waktu perlombaan ada salah satu peserta yang menanyakan asal saya. Ya saya jawab polos saja, saya ini dari Desa Muntigunung. Tapi respons mereka yang memandang saya sebelah mata, menertawakan dan menuduh saya gepeng membuat saya berpikir, kenapa desa kelahiran saya justru terkenal dengan gepengnya, bukan dengan prestasinya,” kenangnya.

Hal itu membuat Restika bertekad bahwa dirinya akan membuat Desa Muntigunung dikenal lewat prestasinya bukan label gepengnya. Profesi sebagai seorang Pendidik memang telah dilakoninya sejak duduk di bangku kuliah di Undiksha Singaraja pada 2013.

Baca juga:  Dari Program Anak Bangsa SWiB, SMAN 3 Amlapura Pertahankan Juara Pelacakan

Berawal dari pengalamanan mengikuti lomba pertukaran pelajar Indonesia-Australia pada 2013 namun gagal, Restika kembali mencoba kemampuannya mengikuti ajang yang sama. Kali ini antar Indonesia dan Malaysia. Setelah berjuang memenuhi 7 aspek utama dalam penilaian ajang tersebut, ia mampu bersaing dengan wakil 34 provinsi lainnya dan terpilih menjadi salah satu delegasi Pertukaran Pemuda Indonesia-Malaysia pada 2014. “Melalui prestasi saya itu, akhirnya saya mampu membawa nama Desa Muntigunung lewat prestasi saya bahkan hingga Dunia Internasional. Sungguh suatu kebanggaan untuk saya juga,” lanjutnya.

Setelah terpilih menjadi delegasi dalam ajang Pertukaran Pemuda Indonesia-Malaysia, perempuan alumni SMPN 2 Kubu ini, akhirnya memilih mengabdikan dirinya di Rumah Pintar yang berada di desanya, Muntigunung. Di sini, ia kembali memperoleh kesempatan menunjukan kegigihannya dalam lomba yang digelar Kemendikbud pada 2016 yaitu “Tutor Paket C Berprestasi”.

Berhasil memperoleh juara di tingkat nasional dalam lomba tersebut membuatnya berhak sejumlah hadiah, berupa uang tunai puluhan juta rupiah serta kesempatan mengikuti Program Peningkatan Kapasitas GTK (Guru dan Tenaga Kependidikan) PAUD dan Dikmas (Pendidikan Masyarakat) ke Jerman. “Itu adalah pencapaian tertinggi dalam hidup saya. Sampai di Eropa, Jerman pun saya tetap membawa spanduk yang bertuliskan identitas saya, bahwa saya generasi Desa Muntigunung yang berprestasi,” tuturnya bersemangat. (Bagiarta/balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.