BANGLI, BALIPOST.com – Wisata spiritual belakangan ini menjadi tren di masyarakat. Hal itu terbukti dari ramainya kunjungan wisatawan di hampir seluruh tempat wisata spiritual yang ada di Kabupaten Bangli, terutama saat rahinan Purnama atau hari raya Banyupinaruh.

Sebagaimana data yang dimiliki Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Bangli, di kabupaten berudara sejuk ini, sedikitnya kini ada enam tempat wisata spiritual yang sedang berkembang. Salah satunya, Tirta Sudamala di Banjar Sedit, Kelurahan Bebalang.

Sementara itu, ada juga Pancoran Solas di Banjar Guliang Kangin Desa Tamanbali, Patirtan Nawa Ratna di Tukad Cepung Desa Tembuku, Pancoran Solas di Desa Pekraman Batur, Pancoran Jaga Satru di Desa Kayubihi dan yang terbaru Taman Pecampuhan di Desa Pekraman Sala, Susut.

Dengan ciri dan keunikan masing-masing, keenam tempat wisata spiritual tersebut memiliki sumber mata air yang dialirkan melalui pancuran-pancuran. Oleh masyarakat keberadaan sumber air itu diyakini sangat baik dipakai untuk membersihkan diri (melukat).

Kabid Promosi Disparbud Bangli Wayan Merta, Sabtu (26/8) mengatakan keberadaan enam tempat wisata spiritual di Bangli yang kini berkembang pesat tersebut sejatinya sudah ada sejak lama. Hanya saja baru di tahun 2000an keberadaan tempat wisata itu mulai muncul di permukaan setelah dilakukan penataan dan pengembangan oleh masyarakat di wilayah masing-masing. “Dari enam tempat wisata spiritual itu, yang paling baru muncul adalah Taman Pecampuhan di Desa Sala,” terangnya.

Baca juga:  DLH Gianyar Uji 60 Titik Mata Air Minum

Dikatakan Merta, biasanya tempat-tempat wisata spiritual tersebut ramai dikunjungi wisatawan saat hari raya. Tirta Sudamala misalnya, saat hari raya Banyupinaruh, kunjungannya bisa mencapai ribuan orang. Pengunjung yang datang tak hanya dari wisatawan lokal di sekitar Bangli namun juga dari luar kabupaten.

Berkembangnya tempat-tempat wisata spiritual tersebut diakui Merta cukup berdampak positif terhadap perekonomi masyarakat sekitarnya. Banyaknya kunjungan wisatawan membuat masyarakat sekitar lokasi wisata mulai kreatif.

Parkir yang sebelumnya tidak tertata kini ditata dan dikelola dengan baik sehingga menghasilkan pendapatan. Masyarakat juga membuka usaha seperti kuliner, toko aksesoris dan lainnya untuk memenuhi kebutuhan wisatawan. “Kita sangat berharap aksesoris yang dijual masyarakat adalah yang berciri khas Bangli. Karena di Bangli sendiri cukup kaya dengan produk kerajinan,” terangnya.

Dalam upaya mendukung perkembangan tempat wisata spiritual yang ada, Disparbud, kata Merta, selama ini telah memberikan dukungan baik berupa pembinaan maupun bantuan peningkatan sarana dan prasarana seperti ruang pengganti dan penataan parkir. (Dayu Swasrina/balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.