Tumpeng Tiwul. (BP/ist)
PACITAN, BALIPOST.com – Pernah denger tiwul kan? Itu lho, makanan yang terbuat dari singkong yang bentuknya kayak nasi. Tiwul memang dari jaman dulu sudah dikonsumsi sama masyarakat di daerah, terutama penghasil singkong. Penduduk Pegunungan Kidul (Pacitan, Wonogiri, Gunung Kidul) dikenal mengonsumsi jenis makanan ini sehari-hari.

Nah, Gelaran surfing “Hello Pacitan 2017” yang menyajikan kompetisi surfing internasional ini juga akan diisi dengan “Pembuatan Tumpeng Tiwul Tertinggi dan Terbesar” yang akan berlangsung di Alun-Alun Kota Pacitan pada Sabtu (19/8). “Tiwul dibuat dari gaplek. Sebagai makanan pokok, kandungan kalorinya lebih rendah daripada beras namun cukup memenuhi sebagai bahan makanan pengganti beras. Memang tiwul terkesan sebagai makanan NDESO, tapi tidak untuk sekarang,kita buat tumpeng tiwul terbesar untuk lebih mengenalkan tiwul kepada dunia, momennya pas ada kejuaraan Surfing tingkat internasional,” kata Kepala Dinas Pariwisata Kepemudaan dan Olahraga Pacitan, Endang Surjasari.

Endang Surjasari menambahkan, tumpeng tiwul raksasa ini nantinya akan dihias dengan makanan hasil laut seperti ikan, udang dan lain-lain dengan melibatkan ibu-ibu desa atau kecamatan secara massal. “Kegiatan ini melibatkan dukungan dari desa-desa/kecamatan di Pacitan. Nantinya Museum Rekor Indonesia (MURI) akan mencatat “Tumpeng Tiwul Tertinggi dan Terbesar” di Indonesia ini,” lanjutnya.

Tumpeng Tiwul Raksasa ini nantinya akan ditempatkan di alun-alun kota Pacitan,selain itu wisatawan dan pengunjung akan dimanjakan dengan wisata kuliner khas pacitan yang tersedia berbagai booth di sepanjang alun-alun. “Diharapkan pembuatan Tumpeng Tiwul ini dapat menarik perhatian wisatawan lokal maupun internasional,” kata dia.

Deretan kuliner khas tersebut, yakni Nasi Krawu, Sate Madura, Bebek Sinjay, Rujak Soto, Sambel Wader, Pecel Lele dan Rujak Cingur. Selain itu juga ada Pecel, Tahu Tek, Lontong Balap, Rawon, Soto Lamongan, Nasi Timpang, Gado-Gado dan Bakso Malang.

Para pengunjung juga dapat menikmati suasana kemeriahan Kota Pacitan dengan menyaksikan kegiatan Budaya khas Pacitan seperti Reog, Ronteg dan lain-lain. Selain itu juga dimeriahkan penampilan artis ibukota dan lokal seperti Baby Zie, Yeyen dan Om Sagita.

Baca juga:  Tarik Wisatawan Malaysia dan Singapura, Batam Gelar Ladies Golf Fiesta 15-16 Juli

“Ini semua menjadi bagian dari kegiatan utama Hello Pacitan 2017 Make it Bright akan menjadi aktivitas akhir dari seluruh rangkaian acara Pesona Hello Pacitan 2017, yaitu berupa kegiatan gotong royong membersihkan pantai di Watu Karung yang telah digunakan sebagai lokasi World Surfing League selama empat hari. Gotong Royong akan melibatkan masyarakat dan siswa-siswa sekitar Pantai Watu Karung,” kata Endang.

“Pesona Hello Pacitan 2017” yang akan berlangsung pada 16 hingga 19 Agustus 2017.

Dalam kegiatan tersebut akan digelar berbagai acara, salah satunya yang bakal menarik perhatian adalah turnamen selancar tingkat dunia bertajuk “World Surfing League 2017” yang akan berlangsung di Pantai Watu Karung.

Pantai Watu Karung memang dikenal dengan ombaknya yang mencapai tujuh meter, salah satu surga bagi para peselancar dunia.

Bupati Pacitan Indartato mengatakan turnamen selancar dunia menjadi bagian dari rangkaian penyelenggaraan “Pesona Hello Pacitan 2017” yang melanjutkan kesuksesan penyelenggaraan di tahun sebelumnya yang didukung oleh Kementerian Pariwisata.

Menpar Arief Yahya mengapresiasi kegiatan Tumpeng Tiwul terbesar dan tertinggi yang akan dicatatkan dalam rekor MURI ini.

“Ide kreatif, menampilkan Originalitas setiap daerah salah satunya “kuliner”, yang merupakan potensi unggul untuk menjadi destinasi wisata,” ujar Menpar Arief Yahya.

Tiwul dan Pacitan tidak bisa dipisahkan. Makanan khas dari singkong/gaplek ini merupakan salah satu ikon wisata kuliner Pacitan. Wisata ke Pacitan belum lengkap jika belum menyantap Tiwul.

Bahkan Menpar Arief Yahya menyebut kuliner adalah produk budaya, yang menjadi alasan 60% wisman datang ke tanah air. “Kuliner dan fashion itu 45% dari 60% wisman yang berkunjung karena faktor budaya itu,” kata Arief Yahya.

Jadi menghidupkan kuliner, seperti Tiwul Pacitan itu sama dengan melestarikan budaya lokal. “Semakin dilestarikan, budaya itu akan semakin mensejahterakan,” pungkasnya. (kmb/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.