Ukiran
Usaha kreatif berupa Chasing HP Kayu berukir di Marga. (BP/san)
TABANAN, BALIPOST.com – Selain budaya, Bali terkenal akan kerajinannya yang unik salah satunya kerajinan ukir. Namun dalam perkembangannya, profesi tukang ukir di Bali mulai ditinggalkan. Saat ini jarang ada generasi muda yang mau meneruskan ketrampilan ini untuk dijadikan pekerjaan utama. Untuk melestarikan kerajinan ukir, sekaligus memberikan nilai ekonomi sehingga menarik minat generasi muda menekuni seni ukir, salah satu pemuda asal Desa Kuwum Marga Tabanan, I Wayan Lovayana (25) mengembangkan usaha chasing HP dari kayu dengan hiasan ukiran khas Bali.

Ditemui, Senin (14/8), Lovayana menuturkan latar belakang ia mulai mengembangkan usaha kreatif ini melihat potensi desa Marga sebagai daerah seni ukir. Banyak usaha seni ukir di desanya meski sebagian besar berkecimpung  diusaha bangunan baik itu pintu ukir maupun usaha mabel.  Tetapi pelaku seni ukir ini dikhawatirkan tidak ada penerusnya. Sebab, dengan berkembangnya kemajuan jaman dan teknologi, minat generasi muda untuk menekuni seni dan budaya tradisional semakin berkurang. Untuk di Bali, generasi mudanya lebih melirik usaha dibidang pariwisata.

‘’Kalau terus dibiarkan maka akan berdampak pada semakin hilangnya  identitas diri budaya Bali dan berdampak juga pada  kesejahteraan para seniman karena mulai hilangnya lapangan pekerjaan mereka,’’ ujar Lovayana.

Karenanya dimulai dari tesis S2 nya, Lovayana mulai memikirkan terobosan usaha kreatif yang mana merangkul seniman ukir di Bali sekaligus melestarikan seni ukir Bali dan memberikannya nilai usaha yang menjanjikan. Lovayana kemudian membuat chasing kayu berukir dimana ia menggandeng seniman ukir dari desanya serta seniman ukir dari Ubud. Target pasarnya adalah masyarakat kalangan menengah ke atas.

Olehkarena target pasar untuk kalangan menengah ke atas,  maka untuk pembuatan chasing HP kayu berukir dengan nama label Tattwa Nusantara fokus kepada jenis handpohone Iphone serta Samsung generasi Note, dan Galaxy S.  Harga jual untuk chasing kayu berukirnya adalah Rp 350 ribu hingga Rp 750 ribu. Lovayana berani menjual mahal karena didasari oleh karya seni serta keberadaan chasing kayu berukir baru pertama di Indonesia bahkan mungkin pertamakali di dunia.

Baca juga:  Kunjungi Lombok Utara, Bintang Puspayoga Buka Pelatihan Anyaman Ketak

Dalam mengembangkan usahanya, Lovayana tidak sendiri. Ia merangkul anak-anak muda di desanya untuk bekerjasama mengembangkan bisnis ini. Ada di bidang penjualan hingga mendesign. Ukiran yang terpahat di chasing HP biasanya tokoh dewa seperti Ganesha ada juga Barong dan lainnya. ‘’Bisa juga sesuai pesanan. Kami layani satu minggu karena pre order,’’ paparnya.

Untuk meningkatkan ekonomi seniman ukir, Lovayana menerapkan sistem bagi hasil dimana seniman ukir mendapatkan porsi hingga 50 persen dari harga jual. Dengan pemasukan yang besar lewat penjualan chasing kayu berukir ini diharapkan para generasi muda melirik untuk mulai menekuni seni ukir. Sehingga budaya seni ukir di Bali bisa dilestarikan.

Dalam pemenuhan bahan baku kayu, Lovayana menyerahkan pada seniman ukir. Namun biasanya, kayu didapat dari sisa kerajinan mebel maupun kerajinan ukir bahan bangunan yang banyak ada di Marga. ‘’Jadi selain melestarikan budaya kita juga melestarikan lingkungan dengan memaksimalkan pemakaian kayu yang sudah tidak terpakai lagi,’’ jelasnya.

Setelah ukiran selesai, barulah Lovayana memberikan sentuhan terakhir dengan memasang bahan rubber sebagai pelindung HP sehingga tidak lecet saat dipasang pada chasing HP kayu berukir ini.

Rata-rata penjualan chasing HP kayu berukir ini adalah 20 hingga 30 buah.  Tidak hanya Indonesia, peminat chasing HP ini juga sampai luar negeri. Hanya saja masih terbentur biaya kirim yang sangat mahal sehingga memerlukan pemesanan skala besar. ‘’Kedepan kita sedang jalin kerjasama dengan salah satu foundation di Hongkong. Jadi pemesanan bisa dalam jumlah besar dengan sistem jual konsinyasi,’’ ujar Lovayana. (wira sanjiwani/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.