Petani di Pancasari, Buleleng, sedang menyiram tanaman strawberry. (BP/dok)
DENPASAR, BALIPOST.com – Komoditas hortikultura yang dihasilkan petani Bali sejatinya memiliki keunggulan tersendiri. Mulai dari buah-buahan, sayur-sayuran, hingga bunga.

Namun, komoditas itu belum banyak bisa menembus sektor pariwisata seperti hotel dan restauran. Hal ini terjadi, salah satunya akibat masih banyaknya petani hortikultura di tingkat bawah yang buta informasi terkait kebutuhan sektor pariwisata.

“Sering kita lihat kesenjangan antara petani dengan pasar terutama kita petani daerah pedesaan ke daerah pariwisata, ini yang tidak nyambung hotel-hotel itu butuh apa,” ungkap Ketua Asosiasi Pelaku Usaha Hortikultura (Aspehorti) Bali, I Wayan Sugianta di Denpasar, Minggu (6/8).

Menurut Sugianta, petani hortikultura juga tidak banyak mendapatkan informasi mengenai tanaman apa yang harus ditanam. Seringkali mereka latah dengan ikut-ikutan menanam satu tanaman tertentu yang sedang menjadi tren. Akibatnya, terjadi over produksi pada saat panen raya sehingga petani tidak mendapatkan harga yang layak.

“Padahal kalau bicara kualitas, produk petani Bali itu tidak kalah. Hanya saja, kuantitas dan kontinuitasnya itu yang umumnya tidak terjaga. Ketika terjadi over suplai atau over produksi, saat itulah jadi kewalahan,” jelasnya.

Kepala Dinas Tanaman Pangan, Holtikultura, dan Perkebunan Provinsi Bali Ida Bagus Wisnuardhana mengatakan, ada banyak kendala yang selama ini dihadapi petani hortikultura. Mulai dari harga jatuh saat panen raya, produknya kalah bersaing dengan produk dari luar Bali dan luar negeri, hingga menanam tanaman yang ternyata kurang bernilai ekonomis.

Baca juga:  Harga Naik, Petani Naga Sumringah

“Oleh karena Bali ini kecil, kita harus mengembangkan hortikultura yang bernilai ekonomis tinggi. Memang kita sudah mempunyai buah unggulan seperti manggis, jeruk, salak, mangga, durian, buah naga, segala macam. Bunga dan sayur kita juga banyak karena iklim kita bagus,” ujarnya.

Mengatasi kendala yang ada, Wisnu mengaku sudah memiliki program dengan terlebih dahulu mengklasifikasikan unggulan dari masing-masing kabupaten. Dengan demikian, proses pembinaan menjadi lebih fokus untuk meningkatkan nilai tambah petani.

Namun, dinas saja tidak bisa berjalan sendiri sehingga dibutuhkan adanya koordinasi melalui Aspehorti. Mengingat, organisasi yang baru dikukuhkan 27 April 2017 ini beranggotakan petani, pengusaha, pedagang, dan pemasar. “Melalui koordinasi, kita bisa tahu kondisi di lapangan sehingga kita bisa memperbaiki kualitas, kuantitas hortikultura, kita siap bersaing termasuk mewujudkan sinergi pertanian dan pariwisata supaya hortikultura kita bisa terserap di hotel,” jelasnya. (Rindra Devita/balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.