Penonton memadati arena pertunjukan kesenian di Art Center saat PKB. (BP/dok)
GIANYAR, BALIPOST.com – Sebanyak 1.500 seniman dari Kabupaten Gianyar yang akan dikerahkan untuk memerihakan perayaan Pesta Kesenian Bali (PKB). Kabupaten seni ini juga bersiap membawa kejutan dengan kembali mengangkat dua kesenian langka yang sudah direkontruksi, yakni Gong Saron dan Angklung Ende.

Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Gianyar Gusti Ngurah Wijana menyatakan untuk penampilan PKB tahun ini pihaknya sudah melakukan persiapan sejak HUT Kota Gianyar ke 246 kemarin. “Dari 24 materi seluruh kita ikuti dengan melibatkan 1500 lebih seniman Gianyar. Rincian 1 pawai, 10 Lomba, 10 parade dan 3 pementasan terkait dengan upaya pengambangan dan pelestarian,” jabar Wijana saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa (23/5).

Kadisbud menjelaskan dalam materi pengembangan dan pelestarian, Kabupaten Gianyar akan menampilkan dua kesenian gong Saron dan angklung Ende ke panggung PKB di Denpasar. Dikatakan dua kesenian yang hampir punah ini merupakan hasil pendataan yang dilakukan oleh tim Listibia (Majelis Pertimbangan dan Pembinaan Kebudayaan) Kecamatan. “Tim ini lah yang mendata kesenian yang hampir punah dan melakukan rekontruksi,” ujarnya.

Selanjutnya, dari hasil rekontruksi tersebut, dua kesenian itu kembali bangkit dan bisa dipentaskan. Pertama yang akan dipentaskan di PKB adalah angklung Ende yang dibawakan oleh sekaha teruna Pandawa di Banjar Tarukan, Desa Mas, Kecamatan Ubud. “Angklung Ende ini sifatnya lebih ke hiburan, namun memang sudah lama tidak ditampilkan,” jelasnya.

Baca juga:  Karangasem Ikuti 9 Materi di PKB 2019

Meski hiburan, Gede Agung mengaku kesenian angklung Ende bisa dipentaskan di pura Taman Pule di Desa Mas, Ubud. Angklung ini dimainkan oleh modelnya wayang wong. “Angklung ini hampir punah juga dan kami angkat lagi,” paparnya.

Sementara untuk gong Saron di Gianyar hanya ada dua sekaha yang membangkitkan. Nanti yang akan membawakan ke PKB adalah dari sanggar Cupu Kembang Dewata, di Banjar Pujung Kaja, Desa Sebatu, Kecamatan Tegalalang. “Sanggar Cupu ini pernah saya panggil untuk mementaskan gamelannya ke Puri Bitera,” ungkapnya.

Dijelaskan gong Saron ini memiliki filosofi sebagai musik persembahan untuk para dewa. Sehingga hanya dipentaskan saat upacara besar seperti Ngenteg Linggih, Memungkah dan sejenisnya.

Dijabarkan pula bahwa Gong Saron ini berisi beberapa instrumen, seperti saron berupa alat yang bisa dipukul dan menghasilkan suara mirip piano, rebab alat mirip biola dimainkan dengan cara menggesek senar, dan keong untuk ditiup. (Manik Astajaya/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.