Warga malukat di pancoran yang ada di air terjun Tangkup. (BP/nan)
BANGLI, BALIPOST.com – Objek Wisata Air Terjun Tangkup berada di Banjar Undisan Kelod, Desa Undisan, Tembuku, Bangli. Air terjun yang memiliki ketingginya kurang lebih mencapai 20 meter tersebut bersumber dari lima sumber mata air yakni kebutan Kibul, Besi, Belatuk, Pasucian Betara Pucak Sari, dan Kebutan Getar.

Di bawah air terjun ini terdapat dua pancoran yang dapat dipergunakan pengunjung untuk melakukan panglukatan (pembersihan diri, red). Dua pancoran tersebut, satunya mengeluarkan air dingin dan yang satunya airnya hangat. Dua pancoran itu konon diyakini dapat penyembuhkan penyakit non medis dan penyakit medis gangguan jiwa atau gila.

Penjaga Objek Wisata Air Terjun Tangkup, Banjar Undisan Kelod, Desa Undisan, Tembuku, Bangli, I Wayan Gentos mengatakan, pada Objek Wisata Air Terjun Tangkup ini terdapat dua pancoran yang berdampingan dengan air terjun. Kata dia, dua pancoran tersebut mempunyai makna yang berbeda yakni pancoran Dasa Mala (Pembersihan Dasa Mala), dan Pancoran Tamba (Penyembuhan orang yang kejiwaannya terganggu).

“Untuk air pancoran di sebelah kanan jika dirasakan sekilas, airnya hangat yang diyakini dapat menyembuhkan penyakit non medis. Sementara pancoran sebelah kiri yang airnya dingin dipercayai dapat menyembuhkan penyakit gila,” ungkap Gentos.

Baca juga:  Peserta BPJS Kesehatan Manfaatkan Layanan Khusus Lebaran Capai 91 Ribu Orang

Menurut Gentos, pihaknya meyakini hal tersebut, mengingat sudah banyak orang yang melakukan panglukatan dengan berbagai penyakit yang mampu sembuh. Termasuk orang yang mengalami gangguan jiwa atau gila juga sudah banyak yang datang untuk melakukan panglukatan tersebut.

“Dulu ada warga dari sini yang gila dan dilukat di sini. Akhrinya orang yang sebelumnya gila, kini sembuh dan normal kembali. Semenjak itu kita yakini pancoran yang sebelah kiri bisa menyembuhkan penyakit gila. Begitu juga pancoran sebelah kanan juga dapat menyembuhkan penyakit non medis setalah melukt disini,” katanya.

Pria Kelahiran 1943 itu mengungkapkan pihaknya juga tidak berani memastikan semua orang yang malukat ke sana dengan berbagai keluhan penyakit bisa sembuh. Kata dia, itu kembali ke mereka masing-masing. Mengingat apa yang dilakukan jika tidak didasari atas dasar keyakinan, maka tidak akan mendapatkan hasil yang baik.

“Intinya kita harus yakin. Seperti halnya kita nunas tamba ke balian (berobat ke dukun, red). Jika kita yakin pasti akan diberi kesembuhan. Begitu juga sebaliknya jika kita kurang yakin atau pesimis kemungkin tidak akan sembuh. Karena hal-hal seperti ini kita berbicara masalah keyakinan saja,” katanya. (Eka Parananda/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.