Luh Mely Puspadewi (kanan), Kadek Sastra Gunawan (tengah) dan Komang Tulus Radiasa (kiri) saat dikunjungi ke rumahnya, Jumat (10/3). Mereka menyandang status yatim piatu. (BP/sos)
KASIH sayang orang tua sangat didambakan seluruh anak, apalagi yang masih duduk di bangku sekolah. Namun, bagi anak tiga bersaudara di Banjar Dinas Sangborni, Desa Pakisan, Kubutambahan, yakni Luh Mely Puspadewi (14), Kadek Sastra Gunawan (10) dan Komang Tulus Radiasa (6) hanya merasakan hal demikian dalam waktu singkat.

Sebab, sejak usianya masih belia telah ditinggalkan untuk selamanya oleh kedua orang tuanya. Kini, dalam menyambung hidup, mereka terpaksa bergantung pada kerabatnya.

Mencari tempat tinggal anak perempuan yang akrab di panggil Mely itu tidaklah sulit. Mereka cukup dikenal oleh masyarakat. Rumahnya berada di tengah perkebunan rambutan yang tak jauh dari jalan raya. Jaraknya sekitar 100 meter. Dari pertama menginjakkan kaki dihalamannya, suasana sederhana sangat terasa. Saat itu, sejumlah orang tua mulai menghampiri. Mely dan dua adiknya pun turut datang menyambut dengan ramah.  Sekilas dari wajahnya juga memancarkan raut malu.

Ketika suasana semakin cair, siswa Kelas VIII SMPN 4 Kubutambahan ini mulai menceritakan kondisi hidupnya. Saat dirinya masih berusia 10 tahun dan adik bungsunya baru 13 bulan, sang ibu, Luh Sariasih sudah meninggalkan pergi untuk selamanya akibat menderita sakit asma.

Hal itu sudah pasti memunculkan kesedihan yang sangat mendalam. Ditengah kondisi demikian, ia masih beruntung lantaran sang ayah, Gede Cakra masih bisa menemani. Namun, itu hanya dirasakan dalam waktu singkat. Sekitar tiga bulan lalu, ayah kebanggaannya itu juga pergi untuk selamanya setelah menderita sakit diabetes. Dengan itu, status yatim piatu melekat padanya dan adiknya.

Baca juga:  Investor Lirik Kawasan Geopark Batur untuk Pembangunan Kereta Gantung

Mereka hanya diwarisi sebuah rumah sederhana yang merupakan bantuan program bedah pada 2015. Dihadapkan dengan kondisi demikian, anak-anak itu mencoba untuk tegar. Dalam menyambung hidup, terpaksa bergantung pada kerabat yang rumahnya menjadi satu pekarangan. Mely dan Tulus di asuh sepupu ayahnya, Nyoman Rempon yang hanya menggantungkan hidup jadi buruh serabutan.

Sementara Sastra yang kini duduk di bangku kelas IV SDN 1 Pakisan diasuh Luh Manis, yang juga keluarga ayahnya. Pekerjaannya pun sama dengan Rempon.

Manis menuturkan, adanya keinginan untuk mengasuh Sastra tak lain karena ada rasa sayang. Tidak tega melihatnya dalam kondisi hidup tanpa orang tua. “Sejak ditinggal ayahnya, saya ngajak dia. Biar ada yang memberi makan. Begitu juga dengan dua saudaranya,” tuturnya, Jumat (10/3).

Perempuan berperawakan sedang ini menyebutkan Mely dan adiknya kerap mengaku rindu dengan orang tuanya. Tak jarang mereka sampai menangis. Sesekali juga mengaku bermimpi sempat bertemu. “Kadang mereka menangis kalau ingat.  Mungkin kangen,” ucapnya.

Dibalik hidupnya yang pilu, anak-anak ini tetap semangat untuk belajar. Begitu juga membantu pekerjaan rumah. Melihat seperti itu, Manis pun sangat berharap mereka kelak bisa mendapatkan pendidikan yang baik. “Kalau memberi makan masih saya usahakan. Kalau untuk pendidikan, khawatir tidak bisa. Anak ini tidak punya apa-apa. Saya berharap nanti pendidikannya yang bagus. Biar punya masa depan,” harapnya.

Menyikapi itu, Dinas Sosial Buleleng langsung melakukan asisment sebelum diupayakan adanya penanganan lebih lanjut. (sosiawan/balipost)

 

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.