Corporate Secretary BRI, Harry Siaga. (BP/son)
JAKARTA, BALIPOST.com – PT. BRI mengalokasikan dana sebesar Rp 72,2 triliun, untuk pencapaian program Kredit Usaha Rakyat (KUR).

Jumlah ini meningkat dari tahun lalu dengan alokasi dana yang hanya Rp 69,5 triliun. Menurut Corporate Secretary BRI, Harry Siaga, komposisi terbesar dialokasikan untuk usaha mikro.

Hal ini sejalan dengan program pemerintah yang berupaya meningkatkan perekonomian nasional melalui peningkatan usaha mikro. “Untuk alokasi (usaha) KUR mikro Rp 61,5 triliun, ini komposisi terbesar. Karena pemerintah berharap nasabah mikro bisa tersentuh lagi untuk percepat perkembangan ekonomi,” kata Harry saat media gathering di Bogor, Minggu (5/3).

Selain itu, menurut Harry, komposisi terbesar pengguna KUR berada di sektor perdagangan. Hal tersebut menurutnya dikarenakan input database saja. Ia memberi contoh, walaupun masyarakat tersebut adalah petani, tapi saat menunggu panen Ia berdagang.

Melalui alokasi tersebut, pihaknya berharap perekonomian nasional akan berkembang. Ia juga mengatakan, pihaknya sedang berusaha keras agar setiap masyarakat di pelosok bisa mengembangkan usahanya.

Selain KUR, Harry menjelaskan, untuk usaha yang belum feasible, BRI memiliki program Corporate Social Responsibility (CSR). Program tersebut digunakan untuk memicu produktivitas usaha menjadi lebih feasible.

Dalam hal ini BRI siap membantu sarana produksi dan pendukung usahanya. “Yang didagangkan ya pupuk atau barang-barang komoditas lainnya. Nah, disitulah dia berdagang. Seandainya sudah feasible, maka dia (masyarakat) sudah bisa menikmati KUR,” ujar Hari.

Baca juga:  Kecil, Kemungkinan Indonesia Alami Krisis Moneter

Sementara itu, untuk meningkatkan akses keuangan bagi masyarakat yang selama ini belum akrab dengan perbankan, BRI menargetkan 135 ribu agen laku pandai. Hingga akhir 2016, BRI telah memiliki 84.550 agen laku pandai, naik 68,2 persen dibanding capaian 2015 yang mencapai 50.259 agen.

Dari sisi volume transaksi, total yang dibukukan sepanjang 2016 mencapai 98,4 juta transaksi senilai Rp 139,4 triliun, naik dibanding tahun 2015 yang mencapai 23,6 juta transaksi dengan nilai 35,9 triliun.

Hari mengungkapkan, hal yang menarik dari pengembangan laku pandai yang digagas Bank Indonesia (BI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) karena terkait berkembangan akses keuangan di masyarakat, khususnya di wilayah jauh dari pusat kota.

Disebutkan, dari total agen laku pandai yang dikelolanya, masing-masing 32 persen untuk pengembangan di Jawa dan Indonesia Timur, sementara pengembangan laku pandai di wilayah Sumatera mencapai 36 persen.

“Capaian itu membuktikan program laku pandai yang dikembangkan BRI mengena masyarakat di sejumlah wilayah perkebunan di Sumatera. Mereka lebih giat memanfaatkan akses keuangan dibanding sebelumnya,” urai Hari. (Nikson/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.