kintamani
Ilustrasi. (BP/dok)
Oleh Yogha Mahardikha Kuncoro Putra, S.Tr.

 

Bencana alam sepertinya mengakrabi pulau Dewata beberapa hari belakangan ini. Yang terbaru adalah kejadian gempa bumi di selatan pulau Bali.

Berdasarkan parameter yang telah di-update oleh BMKG gempa bumi ini berkekuatan 5,1 dengan episenter berada di posisi lintang 9.73 LS dan bujur 115.62 BT pada kedalaman 59 km.

Dampak gempa bumi yang ditunjukan oleh peta guncangan (shakemap) menunjukkan bahwa wilayah selatan Bali. Tak terkecuali, seperti Kota Tabanan, Badung, Kuta, Denpasar, Gianyar, Klungkung mengalami guncangan kuat pada skala intensitas II SIG-BMKG (III-IV MMI).

Gempa bumi ini diakibatkan aktivitas tektonik pada zona pertemuan dua lempeng bumi (zona subduksi), yaitu antara lempeng Eurasia dan Indo-Australia di selatan pulau Bali. Selain itu, wilayah sebelah utara Bali juga terdapat generator pembangkit gempa bumi lain. Boleh dibilang pulau Bali rawan akan kejadian gempa bumi serta tsunami.

Selain bencana gempa bumi, Pulau Dewata Bali juga rawan kejadian bencana hidrometeorologi. Bencana alam tanah longsor yang melanda beberapa wilayah di Bali di antaranya bencana tanah longsor di Kintamani, Bangli merenggut 13 korban jiwa, 9 luka luka. Bencana tanah longsor lain juga terjadi di kabupaten lain seperti area wisata Bedugul-Tabanan, Petang-Badung, dan Sukasada-Buleleng pada 9-10 Februari 2017.

Bencana hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor, gelombang pasang/abrasi serta angin puting beliung lebih berpotensi terjadi. Potensi bencana lain di Bali adalah letusan gunung api mengingat pulau Bali memiliki beberapa gunung api seperti Gunung Batur dan Gunung Agung.

Potensi bencana yang besar ini tentunya menuntut para stakeholder untuk lebih berpikir keras dalam mengantisipasi dampak bencana yang timbul. Masyarakat Bali juga harus mulai tanggap terhadap bencana alam yang bisa terjadi kapan saja. Salah satu bentuk ketanggapan terhadap bencana alam yang dapat dilakukan ialah memahami mengenai informasi peringatan dini.

Sistem peringatan dini (Early Warning System) merupakan serangkaian sistem untuk memberitahukan akan timbulnya kejadian alam, dapat berupa bencana maupun tanda-tanda alam lainnya. Hadirnya peringatan dini penting untuk menentukan tindakan yang tepat apabila sewaktu-waktu suatu bencana alam terjadi.

Harapannya adalah agar masyarakat dapat merespons informasi tersebut dengan cepat dan tepat serta tidak timbul kepanikan yang berlebihan ketika bencana alam terjadi. Bagi stakeholder sendiri peringatan dini ini penting untuk mengetahui daerah-daerah mana yang rawan akan kejadian bencana alam, sehingga antisipasi dini dampak bencana alam dapat dilakukan.

Baca juga:  Pengungsi Harusnya Berjumlah 70 Ribuan, Kenyataannya Capai 150.109 Jiwa

Informasi peringatan dini bencana diperoleh dari data-data hasil pengamatan terhadap suatu bencana. Tentunya hal ini hanya bisa dilakukan oleh pihak-pihak yang berwenang. Tidak semua informasi peringatan dini bencana dapat ditelan mentah-mentah oleh masyarakat. Apalagi di zaman medsos seperti sekarang yang sangat rentan terhadap informasi hoax.

Hanya informasi yang dikeluarkan oleh instansi pemerintah terkait yang dapat dijadikan pegangan karena sudah tervalidasi dan dapat dipertanggungjawabkan. Beberapa instansi pemerintah seperti BMKG (Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika), BNPB (Badan Nasional Penanggualangan Bencana) serta PVMBG (Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi) memberikan informasi bermanfaat terkait bencana alam yang terjadi di tiap-tiap daerah.

BMKG memiliki fungsi untuk memberikan informasi yang berkaitan dengan Meteorologi, Klimatologi, Kualitas Udara dan Geofisika atau sering disebut informasi MKKUG. Informasi yang diberikan BMKG, salah satunya peringatan dini cuaca dan cuaca ekstrem. Selain itu, perkiraan tinggi gelombang perairan, dan peringatan dini terhadap badai tropis.

Ada pula, analisis akibat iklim ekstrem, informasi sebaran debu vulkanik maupun debu akibat kebakaran hutan. Informasi gempa bumi terkini, informasi terkait peringatan dini tsunami dan lain sebagainya.

Dalam informasi peringatan dini tsunami, BMKG tidak hanya memberikan peringatan dini di Indonesia. Tetapi, juga berperan sebagai penyedia informasi ke negara lain di wilayah ASEAN serta sekitar Samudera Hindia dan Samudera Pasifik.

Untuk informasi yang didapat dari BNPB di antaranya berupa informasi kegiatan penanggulangan bencana. Informasi tersebut mencakup pencegahan bencana, upaya tanggap darurat, rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana.

Melalui koordinasi dengan pemerintah daerah BNPB dapat membentuk BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) di tiap-tiap daerah seperti BPBD provinsi Bali. Sedangkan untuk informasi yang bisa diperoleh dari PVMBG di antaranya informasi terkait peringatan dini peningkatan aktivitas gunung api dan informasi peringatan dini gerakan tanah.

Staf Balai Besar Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Wilayah III Denpasar

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.