Pemanfaatan AI dinilai menjadi kunci transformasi bisnis Indonesia. Agung Yunanto (kiri) mendorong perusahaan nasional meningkatkan produktivitas dan daya saing global. (BP/par)

DENPASAR, BALIPOST.com – Kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) bukan sekadar teknologi baru, melainkan peluang bagi pelaku usaha Indonesia untuk meningkatkan produktivitas, memperkuat daya saing, dan mengambil peran lebih besar di pasar global. Pemanfaatan AI diharapkan mampu membawa Indonesia menuju masa depan yang lebih baik, menjadi pemain aktif, bukan sekadar pemain cadangan atau penonton.

Hal tersebut disampaikan Ketua Dewan Pakar Asosiasi Manajemen Mutu dan Produktivitas Indonesia (AMMPI), Agung Yunanto, dalam rangkaian 31st Asia Pacific Quality Organization International Conference (APQO-IC) 2026 di Sanur, Senin (26/10).

Konferensi yang mengusung tema “Intelligence Innovation for Sustainable Impact” ini menjadi forum internasional untuk membahas pemanfaatan teknologi digital, AI, inovasi, serta peningkatan mutu dan produktivitas organisasi di kawasan Asia-Pasifik.

Baca juga:  Bersama Dandim, Bupati Tamba Resmikan Pompa Hydram

Menurut Agung, transformasi digital tidak cukup hanya dengan mengadopsi perangkat berteknologi tinggi atau membeli teknologi mahal. Perusahaan perlu memastikan teknologi tersebut benar-benar mampu memperbaiki proses kerja, meningkatkan efisiensi, dan memberikan nilai tambah kepada pelanggan.

Esensi transformasi digital, kata dia, terletak pada kemampuan menata ulang cara menyampaikan produk dan layanan agar lebih efektif serta sesuai kebutuhan pelanggan.

“Harapan terbesarnya adalah agar Indonesia dan perusahaan-perusahaan di dalamnya dapat menjadi pemain aktif, bukan sekadar pemain cadangan atau bahkan penonton,” ungkapnya.

Ia menekankan, keberhasilan pemanfaatan AI juga bergantung pada kesiapan sumber daya manusia, budaya organisasi, dan kepemimpinan. Perusahaan perlu meningkatkan keterampilan (upskilling) serta memberikan pelatihan ulang (reskilling) kepada karyawan agar mampu beradaptasi dengan perubahan teknologi yang berlangsung cepat.

Baca juga:  DPRD Klungkung Tetapkan Dua Ranperda Menjadi Perda

Selain itu, perusahaan harus membangun budaya inovatif yang memberikan ruang aman bagi karyawan untuk mengembangkan ide dan mencoba pendekatan baru. Pemimpin juga dituntut lebih terbuka terhadap pengetahuan dan gagasan generasi muda yang terkadang memiliki penguasaan teknologi lebih baik.

“Harapan terbesarnya adalah agar Indonesia dan perusahaan-perusahaan di dalamnya dapat menjadi pemain aktif, bukan sekadar pemain cadangan atau bahkan penonton,” tegasnya.

Presiden IQPMA, Sunarso, S.E., M.M., menilai forum ini membuka peluang bagi pimpinan dan manajemen perusahaan untuk memperluas wawasan, meningkatkan produktivitas, dan membangun kerja sama internasional.

“Konferensi ini membuka wawasan baru bagi pimpinan dan manajemen perusahaan dalam menyikapi penerapan Sistem Manajemen beserta perkembangannya di Asia-Pasifik. Selain itu, ajang ini membuka potensi kerja sama internasional dan pertukaran pengalaman untuk meningkatkan produktivitas,” jelasnya.

Baca juga:  Soal Penanganan Pengungsi Gunung Agung di RSUD Klungkung, BNPB Segera Koordinasikan

Melalui pemanfaatan AI yang diimbangi peningkatan kompetensi manusia, budaya inovasi, dan perbaikan berkelanjutan, perusahaan Indonesia diharapkan mampu menjaga kinerja saat ini sekaligus mempersiapkan diri menghadapi persaingan masa depan.

“Upaya ini menjadi bagian penting dalam mendorong perusahaan nasional tumbuh lebih kompetitif, berkelanjutan, dan berkontribusi aktif menyongsong Indonesia Emas,” katanya.

Ketua Penyelenggara APQO-IC 2026, Ir. Budihartono, M.Sc., menjelaskan konferensi tersebut menjadi wadah berbagi pengetahuan, pengalaman, praktik terbaik, dan perkembangan terbaru di bidang mutu, produktivitas, serta inovasi. Konferensi tahun ini diikuti sekitar 550 peserta dari 14 negara. (Parwata/balipost)

BAGIKAN