Salah seorang petugas SPBU yang tumbang akibat bekerja lembur berturut-turut selama 2 hari.(BP/istimewa)

DENPASAR, BALIPOST.com – Di tengah antrean pembelian bahan bakar minyak (BBM) yang mengular ditambah SPBU yang harus buka 24 jam, membuat petugas SPBU harus bekerja ekstra. Kondisi ini membuat para petugas kelelahan.

Salah satunya terjadi pada SPBU 54.801.20 di Jalan Badak Agung. Pegawai SPBU berinisial KA, tumbang setelah lembur selama 2 hari.

Perempuan asal Karangasem yang tinggal di kawasan Panjer itu tiba-tiba kelelahan dan terduduk saat bertugas. Ia kemudian segera dibawa ke mobil PMI yang kebetulan tengah bertugas saat itu.

KA menuturkan, telah bekerja selama delapan tahun di SPBU tersebut dan menjadi salah satu petugas yang harus bekerja ekstra di tengah situasi darurat BBM saat ini. Demi memenuhi tuntutan pekerjaan, ia harus meninggalkan anaknya yang masih berusia tujuh tahun di rumah untuk melayani masyarakat yang mengantre BBM.

Baca juga:  Jelang Akhir 2024, Ratusan Orang Meninggal Lakalantas

Diceritakannya, sejak Selasa (13/10) SPBU tempatnya bekerja mulai beroperasi selama 24 jam. Ia mendapat giliran lembur selama dua hari secara bergantian dengan karyawan lainnya.

Dalam satu giliran kerja, KA menjalani jam kerja mulai pukul 14.00 hingga 03.00 WITA. Setelah menyelesaikan tugas, ia sempat pulang untuk beristirahat sejenak dan makan sebelum kembali bekerja.

Namun, beban kerja yang meningkat membuat kondisi fisiknya menurun. Ia mengaku mulai merasakan tubuhnya tidak sehat sejak sekitar pukul 03.00 WITA.

Baca juga:  Layaknya di New Zealand, Embun Salju di Kaki Gunung Semeru Jadi Daya Tarik Wisata

Seluruh badannya terasa sakit, disertai kondisi tubuh yang semakin lemah, Jumat (16/10). “Badan terasa sakit semua,” ujar KA dengan suara serak saat menceritakan kondisinya.

Meski kondisi tubuhnya sudah tidak fit, ia tetap berusaha menjalankan tugasnya untuk melayani antrean kendaraan. Ia akhirnya tidak mampu melanjutkan pekerjaan setelah kondisinya semakin melemah.

Kondisi yang dialami KA menjadi gambaran beratnya beban kerja petugas SPBU di tengah meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap BBM. Antrean panjang yang berlangsung selama berjam-jam tidak hanya menguras tenaga warga, tetapi juga menambah tekanan fisik bagi para operator yang harus terus melayani pengisian bahan bakar.

Baca juga:  April 2025, Tiga Kapal Pesiar Mewah Sandar di Pelabuhan Celukan Bawang

Di SPBU tersebut, sebagian besar petugas operator pengisian BBM diketahui merupakan perempuan, sementara jumlah pekerja laki-laki hanya satu orang.

Di sisi lain, warga Denpasar juga masih terlihat rela berpanas-panasan dan menunggu selama berjam-jam demi mendapatkan BBM. Tidak sedikit pula yang rela menunggu bahkan saat SPBU belum buka atau stok BBM belum datang. (Widiastuti/balipost)

BAGIKAN