Antrean di salah satu SPBU di Jalan Gajah Mada, Singaraja. (BP/yud)

SINGARAJA, BALIPOST.com – Pasokan bahan bakar minyak (BBM) yang berkurang di Bali mulai berdampak pada aktivitas masyarakat di Kabupaten Buleleng. Sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Singaraja dipadati kendaraan pada Selasa (13/10).

Antrean panjang terlihat di SPBU Banyuasri, Ahmad Yani, hingga Gajah Mada. Pantauan di lapangan menunjukkan warga harus mengantre cukup lama untuk mendapatkan BBM. Kondisi ini dikeluhkan masyarakat karena menghambat aktivitas sehari-hari, termasuk warga yang harus bepergian ke kota untuk membeli kebutuhan dagangan.

Salah seorang warga Desa Tajun, Kecamatan Kubutambahan, Suanda (61), mengaku telah mengantri sejak pukul 07.00 WITA. Ia datang ke Singaraja untuk membeli sembako yang akan dijual kembali di kampung halamannya. Namun, rencana tersebut terkendala karena sulit mendapatkan bensin.

Baca juga:  Peningkatan Aktivitas Gunung Agung Tidak Pengaruhi Pariwisata di Gianyar

Suanda mengaku telah mendatangi tiga SPBU sebelum akhirnya mengantre di SPBU Gajah Mada. Ia berharap bisa mendapatkan bensin untuk menunjang aktivitas berjualannya. Pasalnya, persediaan BBM di rumahnya juga sudah habis. Bahkan pihaknya juga membawa cadangan BBM guna mengantisipasi kehabisan bensin di jalan.

“Di mana-mana antre. Saya sampai membawa minyak satu botol untuk cadangan kalau kehabisan bensin di jalan. Saya juga melihat informasi di media sosial kalau ada kelangkaan,” ujarnya.

Baca juga:  Di Jembrana, Jaring "Pakis" Masih Digunakan

Keluhan serupa disampaikan Nengah, warga Alasangker. Ia mengatakan, telah mengantre sekitar satu jam karena mobil yang digunakan untuk aktivitas sehari-hari belum terisi bensin. “Saya sudah satu jam di sini. Mengantre demi mendapatkan minyak. Kelangkaan minyak membuat tidak bisa beraktivitas seperti biasanya,” katanya.

Sementara itu, Pengurus SPBU Gajah Mada Singaraja, Wayan Suantara mengatakan bahwa pihaknya telah mengajukan pemesanan BBM setiap hari sebanyak 16 kiloliter (KL) untuk Pertalite. Sedangkan untuk Pertamax, ia mengusulkan 8 KL. Namun, jumlah yang diterima tidak selalu sesuai dengan pesanan.

Baca juga:  Gubernur Koster Tandatangani Perubahan Perjanjian BKK dengan 3 Pemda, 22 Proyek Strategis Siap Direalisasikan

Menurut Suantara, kondisi pasokan yang tidak menentu tersebut mulai dirasakan dalam dua hari terakhir. Berkurangnya jumlah BBM yang diterima membuat ketersediaan di SPBU harus menyesuaikan dengan pasokan yang datang. “Setiap hari kami memesan 16 KL, tetapi yang datang kadang hanya 8 KL. Jumlahnya tergantung pengiriman dari sana,” ujarnya. (Nyoman Yudha/balipost)

BAGIKAN