Pegawai salah satu toko emas di Denpasar sedang menata perhiasan dalam etalase kaca. Harga emas beberapa bulan ini mengalami penurunan. (BP/eka)

DENPASAR, BALIPOST.com – Sempat melambung hingga Rp3 juta per gramnya, harga emas beberapa bulan terakhir terus mengalami penurunan yang saat ini menyentuh Rp2,5 juta per gram. Transaksi emas masih tetap tinggi baik emas murni ataupun perhiasan.

Bahkan untuk perhiasan mulai mengalami pergeseran pola konsumen yang sebelumnya lebih memilih emas muda, saat ini dengan harga yang cenderung menurun ini lebih kepada emas yang kadar tua. Hal tersebut diakui oleh salah seorang pelaku usaha perhiasan emas di Denpasar, Akmar.

Saat diwawancarai, Senin (21/9), CEO Galery Kohinoor ini mengatakan, dibandingkan Januari lalu, saat harga emas berada di level Rp3 jutaan, konsumen saat ini jauh lebih responsif dan lebih rajin membandingkan harga sebelum memutuskan membeli. Meski demikian, dari sisi transaksi diakuinya terlihat tren yang cukup positif terutama dari konsumen yang memang sudah merencanakan pembelian emas sejak awal.

Baca juga:  Petenis Meja Bali Turunkan 7 Ganda

Menurut Akmar, konsumen saat ini makin paham terhadal investasi. Hal tersebut dilihat dari perhiasan dipilih lebih ke kadar tua atau 16 karat ke atas. Berbeda saat harga emas tinggi dulu konsumen lebih memilih kadar muda. “Penjualan kami saat ini didominasi perhiasan kadar tua. 16 karat ke atas, karena konsumen semakin memahami nilai investasi di baliknya,” terang Akmar.

Disinggung terkait penurunan harga perhiasan, Akmar mengatakan, pada dasarnya, harga perhiasan emas memang mengikuti pergerakan harga emas dunia, namun tidak selalu turun dengan persentase yang sama persis. Ini karena harga perhiasan juga dipengaruhi oleh kadar emas, berat, ongkos pembuatan, dan tingkat kerumitan desain.

Baca juga:  Harga Emas di Pegadaian dan Antam Kompak Menguat, UBS Tembus Rp3,1 Juta per Gram

“Jadi ketika harga emas turun, harga jual perhiasan kami pun menyesuaikan mengikuti harga emas yang berlaku saat itu. Kami selalu berupaya menjaga transparansi harga agar customer bisa membeli dengan tenang dan percaya diri,” katanya.

Sementara itu, transaksi emas di Pegadaian pun mengalami fluktuasi. Deputi Bisnis Pegadaian Area Denpasar 1, Kusumo Seno Aji mengatakan, ketika harga emas mengalami koreksi, nasabah yang sebelumnya merasa harga emas sudah terlalu mahal, mulai melihat koreksi sebagai kesempatan masuk.

Baca juga:  Pembunuh Satpam Baru Bebas dari Lapas

Transaksi Cicil Emas (Investasi Emas), kata dia mengalami peningkatan omset cukup tinggi. Khususnya di Pegadaian Area Denpasar 1, mengalami kenaikan omset sebesar Rp6 miliar, dari Rp18 miliar selama bulan Agustus menjadi Rp24 miliar, dengan gramasi 10,9 kilogram dari tanggal 1 – 20 september 2026. (Widiastuti/balipost)

BAGIKAN