
PRAYA, BALIPOST.com – Ratusan siswa di Kecamatan Batukliang, Lombok Tengah (Loteng), Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) Jumat (11/9), diduga mengalami keracunan setelah menyantap menu makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Berasal dari lima sekolah sekitar 352 siswa mendapat layanan MBG dari SPPG Gunung Kedul Desa Mekar Bersatu milik Yayasan Budi Sain Mangkling, Kecamatan Batukliang. Sampel sisa makanan serta muntahan dari siswa saat ini sudah diamankan Dinas Kesehatan (Dikes) Loteng untuk keperluan pemeriksaan di laboratorium.
Banyaknya siswa yang terdampak membuat penanganan awal dilakukan di empat puskesmas. Rinciannya, Puskesmas Pringgarata sebanyak 140 siswa, Puskesmas Bagu 17 siswa, Puskesmas Aik Darek 124 siswa serta Puskesmas Mantang sebanyak 67 siswa.
“Rata-rata gejala yang dialami siswa berupa pusing, mual-mual, muntah, mulas, lemas, sesak, dan diare,” sebut Kepala Dikes Loteng dr. Mamang Bagiansah.
Hanya saja dari ratusan siswa yang diduga mengalami keracunan makanan, sebagian besar di antaranya saat ini sudah diperbolehkan pulang setelah melalui proses pemeriksaan, observasi dan pengobatan selama dua jam awal.
Sedangkan beberapa siswa lainya masih menjalani perawatan intensif di Puskesmas Mantang, Pringgarata serta Aik Darek.
Informasi yang diperoleh menyebutkan, menu MBG diantar oleh pihak SPPG sekitar pukul 08.15 WITA dan baru dibagikan ke siswa sekitar pukul 09.00 WITA. Gejala keracunaan baru muncul beberapa saat kemudian setelah menu makanan disantap siswa.
Dengan menu makanan yang disajikan berupa kulit kebab, stik tempe, ayam sautis serta selada. Awalnya hanya beberapa siswa yang mengalami gejala keracunan dan oleh pihak sekolah langsung dibawa ke puskesmas terdekat untuk mendapat penanganan medis.
Tapi hingga siang, jumlah siswa yang mengalami gejala yang sama terus bertambah. Dan, tidak hanya dari satu sekolah saja. Tetapi dari lima sekolah. Yakni SDN 2 Lendang Tampel, SDN Beber, SDN Repok Puyung, MTs Qudwatun Hasanan dan SDN Mertak Kesambik Kecamatan Batukliang. Beberapa siswa di antaranya bahkan ada yang sudah sempat pulang ke rumah.
Kejadian tersebut sempat membuat resah para orang tua yang mengetahui anaknya mengalami gejala keracunan. Terlebih jumlah siswa yang mengalami gejala keracunan cukup banyak dan tidak hanya berasal dari satu sekolah saja.
Puskesmas Pringgarata dan Aik Darek yang paling awal menerima kedatangan siswa sampai kewalahan menangani banyak siswa, sehingga siswa yang lain kemudian diarahkan ke Puskesmas Mantang serta Puskesmas Bagu.
Bahkan pihak Kecamatan Pringgarata sampai harus memindahkan siswa ke aula kantor Camat mengingat terbatasnya daya tampung Puskesmas Pringgarata. “Siswa yang kondisinya tidak begitu parah, kita minta dipindahkan ke aula Kantor Camat untuk proses observasi. Karena di Puskesmas Pringgarata tidak bisa menampung banyaknya siswa yang harus ditangani,” sebut Camat Pringgarata, Lalu Winata Kusuma.
Ketua Satgas MBG Provinsi NTB, Dr. H. Fathul Gani membenarkan ada gejala keracunan yang dialami siswa sehabis menyantap MBG. Ia menyampaikan, sejumlah siswa yang sebelumnya dirawat di Puskesmas Pringgarata, Aik Darek, dan Mantang telah diizinkan pulang. Hingga Jumat sore, hanya satu siswa yang masih dirawat.
“Tapi saya lihat kondisinya mudah-mudahan sudah membaik semua, tinggal menunggu observasi saja. Karena observasi ini menurut keterangan dokter itu 3 jam. Masuk jam 11.00, mereka harus menunggu sampai 3 jam, sekitar jam 14.00, jam 15.00-lah. Baru dipastikan tetap dirawat atau pulang. Nah ini kita masih menunggu update terakhir,” ujarnya di Mataram, Jumat (11/9).
Atas kejadian tersebut, Asisten I Setda NTB ini memastikan, SPPG yang bersangkutan akan dikenakan sanksi. Langkah ini diambil, mengingat dampak yang ditimbulkan. Bahkan, peristiwa dugaan keracunan ini dimasukkan dalam kategori kejadian menonjol alias fatal.
“Untuk jangkanya, suspend sementara, itu prosedurnya. Nah sambil menunggu kebijakan lebih lanjut dari BGN. Tapi berdasarkan fakta lapangan dan selama ini kalau terjadi hal (semacam ini) sepertinya langsung di-suspend,” tegasnya.
Setelah kejadian itu, Fathul menginstruksikan seluruh satgas yang ada di Kabupaten, Kecamatan, SPPG, mitra, hingga yayasan untuk melakukan evaluasi secara menyeluruh. Pelayanan mesti ditingkatkan, termasuk agar lebih selektif dalam memilih bahan makanan.
Termasuk memastikan, bahan pangan yang dipilih harus melalui pertimbangan yang matang. SPPG diminta tidak menggunakan bahan yang berpotensi cepat basi.
“Yang terpenting, semua pihak harus mengevaluasi diri dengan memastikan bahan-bahan makanan yang diolah itu benar-benar sehat. Kan ada ahli gizi juga, tadi ahli gizinya juga sudah menjelaskan. Kemudian yang terpenting, kepala dapur betul-betul menjadi kepala rumah tangga di SPPG itu, yang bertanggung jawab penuh terhadap siklus dari proses memilih dan memilah bahan, lalu bagaimana prosesnya, lalu bagaimana mendistribusikan,” terangnya.
Hal lain yang disoroti Satgas adalah tidak dicantumkannya keterangan durasi maksimal makanan tersebut layak dimakan. Menurut Fathul, keterangan tersebut merupakan aspek vital yang mesti ada di setiap ompreng MBG.
“Nah, tadi tadi nggak dicantumkan, itu saya tegur langsung. Saya periksa omprengnya, nggak dicantumkan di situ,” tegas Fathul. (kmb/suarantb)










