
JAKARTA, BALIPOST.com – Inter Milan kembali mengusung ambisi besar di Liga Champions. Namun, kapten Nerazzurri Lautaro Martinez menegaskan bahwa keinginan mengangkat trofi Si Kuping Besar bukanlah sebuah obsesi.
Inter akan mengawali perjuangannya di Liga Champions musim ini dengan ujian berat. Tim asuhan Cristian Chivu tersebut harus bertandang ke Santiago Bernabeu untuk menghadapi Real Madrid pada Rabu (8/9).
Meski lawan yang dihadapi merupakan salah satu raksasa Eropa, Lautaro memastikan Inter tidak datang dengan tekanan berlebihan.
“Ini hanyalah target. Kami semua berambisi, tetapi ini bukan sebuah obsesi,” kata Lautaro Martinez seperti dikutip dari Kantor Berita Antara.
Ambisi Inter untuk kembali menjadi raja Eropa memang sangat besar. Nerazzurri terakhir kali menjuarai Liga Champions pada 2010, ketika mereka masih dilatih Jose Mourinho.
Menariknya, Mourinho kini berada di kubu lawan sebagai pelatih Real Madrid. Sementara itu, Cristian Chivu yang saat ini menangani Inter merupakan bagian dari skuad Nerazzurri ketika meraih gelar Liga Champions 2010.
Sejak terakhir kali menjadi juara, Inter sebenarnya dua kali kembali mencapai partai final. Mereka tampil di final 2023 dan 2025, tetapi selalu gagal mengangkat trofi.
Pada final 2023, Inter takluk dari Manchester City. Dua tahun berselang, mimpi mereka kembali kandas setelah dihancurkan Paris Saint-Germain dengan skor telak 0-5.
Kekalahan dari PSG bahkan tercatat sebagai salah satu malam paling kelam dalam sejarah Inter di kompetisi Eropa. Margin empat gol tersebut menjadi kekalahan terbesar dalam sejarah final Liga Champions.
Perjalanan Inter pada musim lalu juga tidak berjalan sesuai harapan. Nerazzurri secara mengejutkan tersingkir setelah dikalahkan Bodo/Glimt pada babak play-off fase gugur.
Tantangan semakin berat karena Real Madrid bukan lawan yang bersahabat bagi Inter. Nerazzurri menelan kekalahan dalam tiga pertemuan terakhir melawan Los Blancos dan selalu gagal mencetak gol.
Hanya Barcelona yang pernah membuat Inter lebih lama mengalami kebuntuan di kompetisi Eropa, yakni dalam empat pertandingan beruntun pada periode 2003 hingga 2009.
Catatan Inter di Liga Champions musim lalu pun menjadi perhatian. Dalam enam pertandingan terakhir, mereka menelan lima kekalahan dan hanya meraih satu kemenangan.
Jumlah lima kekalahan itu sama dengan total kekalahan Inter dalam 39 pertandingan sebelumnya. Dalam periode tersebut, mereka mampu meraih 25 kemenangan dan sembilan hasil imbang.
Kini, Inter memiliki kesempatan untuk menulis ulang cerita. Namun, sebelum berbicara tentang trofi, mereka harus terlebih dahulu melewati ujian berat di markas Real Madrid.
Lautaro dan kawan-kawan pun dituntut membuktikan bahwa ambisi besar bisa berjalan beriringan dengan ketenangan tanpa menjadikan gelar Liga Champions sebagai sebuah obsesi. (Suka Adnyana/balipost)










