Suasana dialog bertema "Women's Empowerment and Inner Strength Through Different Disciplines", Sabtu (22/8). (BP/Istimewa)

DENPASAR, BALIPOST.com – Di balik pencapaian besar seorang perempuan, sering kali ada teladan kuat yang membentuk fondasi nilai dan keberanian mereka. Bagi banyak perempuan, ibu adalah sumber inspirasi utama hingga membawa mereka ke titik sukses saat ini.

Hal ini terungkap saat dialog di Sudakara Art, Sanur, yang menghadirkan 5 perempuan dari berbagai profesi, Sabtu (22/8).

Bertema “Women’s Empowerment and Inner Strength Through Different Disciplines”, dialog ini menghadirkan lima perempuan dari berbagai profesi yang menceritakan pengalamannya menemukan panggilan hidup karena inspirasi dari sang ibu.

Dialog diawali dari pengalaman Cokorda Istri Ratih Iryani yang merupakan maestro tari Bali asal Peliatan, Ubud. Perempuan yang lahir 1963 ini mengungkapkan bahwa pada awalnya ia tidak pernah menyangka akan dikenal luas sebagai seorang penari.

Ia menyadari bahwa profesi seniman sering kali dipersepsikan sulit memberikan kecukupan materi. Meski sempat berusaha menghindari jalur tersebut, jalan hidupnya justru terus bermuara pada kesenian.

“Saya sangat menyadari sebagai seniman itu tidak bisa jadi kaya… Tapi sejalan dengan waktu, justru penghasilan saya selalu dari kesenian. Seniman itu adalah gift dari Tuhan, jadi memang jalan saya menjadi seniman,” ungkap Cok Ratih.

Baca juga:  Serombotan Spicy Taste is Addicted

Cok Ratih yang merupakan generasi ketiga menekuni dunia tari ini mengaku terinspirasi sang ibu yang merupakan penari terkenal pada zaman Presiden Soekarno. Sang ibu bisa pergi ke Amerika Serikat untuk mempromosikan budaya Indonesia sejak usia 12 tahun.

Bahkan, karena menari, sang ibu disebutnya sudah pergi ke 40 negara. “Tumbuh di Ubud era 1960-an yang belum dialiri listrik, cerita ibu mengenai keajaiban di luar negeri membuat saya merasa iri,” kenangnya.

​Didorong tekad untuk mengikuti jejak sang ibu, Cok Ratih mendaftarkan diri belajar menari secara mandiri. Melalui perjuangan keras, ia terpilih membawakan tari Oleg Tamulilingan hingga akhirnya berhasil melalang buana menari di berbagai negara.

Sementara itu, dr. Ni Made Wulandari, Sp.M mengaku memilih menjadi dokter mata karena profesi ini tak hanya mengobati penyakit, melainkan memberikan dampak nyata bagi kualitas hidup pasien. Dokter di RS Mata Bali Mandara ini mengaku berkeinginan membantu mengembalikan penglihatan orang yang sebelumnya mengalami gangguan.

Wulandari mengutarakan motivasi terbesarnya berakar dari ajaran sang ibu. Nilai-nilai ketekunan, ketulusan, serta rasa peduli terhadap sesama yang ditanamkan sejak kecil membentuk jiwa sosialnya. “Nilai ini yang akhirnya mendorong saya memilih jalan hidup sebagai dokter demi menolong sesama,” ungkapnya.

Baca juga:  Megawati dan Bintang Puspayoga Tokoh Perempuan Inspiratif Pencegahan Stunting

Senada disampaikan Ni Wayan Sutariyani. Perempuan yang menekuni dunia melukis dan terapi seni ini mengaku sang ibu adalah inspirasinya.

Sang ibu yang memilih menjadi ibu rumah tangga dianggapnya sebagai panutan meski sering kali dipandang sebelah mata.

Menurutnya, menjadi ibu rumah tangga adalah salah satu pekerjaan tertua dan tersulit. Ibu adalah sosok penopang doa, penjaga kedamaian rumah, serta tempat berlindung utama bagi anak-anaknya.

Pesan mendalam dari ibunya untuk selalu bergantung pada Tuhan menjadi pilar kekuatannya hingga kini.

Lain lagi yang disampaikan Made Prabhanika Rahayu Dharmeswari. Perempuan yang merupakan seorang psikolog ini mengungkapkan bahwa panggilan jiwanya berakar dari ketenangannya saat berinteraksi dengan orang lain.

Ia memilih profesi ini karena rasa senang dan nyaman saat bertemu serta mendengarkan orang lain.

Perempuan yang akrab disapa Arma ini membagikan sudut pandang tentang memiliki dua figur panutan, yakni ibu dan kakak perempuannya.

Ibunya memberikan teladan sebagai perempuan tangguh yang sanggup bekerja dan berkuliah sambil membesarkan anak. Di sisi lain, sang kakak senantiasa mendorongnya untuk menjadi versi yang lebih baik.

“Di balik perempuan hebat, selalu ada perempuan yang lebih hebat yang mendukung,” ungkapnya.

Baca juga:  DLHK Finally Closes Illegal Landfill at Mumbul

Sedangkan Widianty Hidayat yang merupakan Skin Expert membagikan kisah uniknya yang dahulu merupakan sosok tomboi, gemar memanjat pohon dan mengendarai sepeda motor besar, berubah setelah pindah ke Bali dan mengenal produk perawatan kulit sejak 2006.

Ia mengaku merasa puas saat rekomendasi produknya berhasil membantu orang lain menemukan solusi kulit mereka. Ia pun mengajak sesama perempuan untuk berpenghasilan dan mandiri secara finansial melalui peluang bisnis perawatan kulit.

Widi mengingat almarhumah ibunya merupakan seorang multitalenta dan berjiwa pengayom meski memiliki keterbatasan fisik. Ia menekankan bahwa kasih dan kenangan terhadap ibu akan selalu hidup.

“Rasa syukur atas kehadiran figur perempuan kuat di sekitar menjadi fondasi bagi setiap individu untuk berkembang,” sebutnya.

“Melalui diskusi ini kami ingin para perempuan pulang dengan rasa terinspirasi dan keberanian untuk mengambil langkah. Mengenali kekuatan yang sudah mereka miliki dan berani meraih peluang yang ada di hadapan mereka,” ujar I Wayan Suastana, Commercial Director Sudamala Resorts.

Ia pun mengatakan dialog ini merupakan agenda tahunan tempat ide, budaya, wellness dan manusia saling bertemu dan terhubung. (Diah Dewi/balipost)

BAGIKAN