Alat pelindung diri yang digunakan oleh petugas kesehatan juga dipisahkan dan diangkut ke lokasi insinerasi untuk dimusnahkan sesuai dengan protokol pengelolaan limbah biomedis, menyusul meninggalnya seorang warga yang terinfeksi virus Ebola di Bunia, Republik Demokratik Kongo (RDK), pada 13 Juni 2026. (BP/Antara)

MOSKOW, BALIPOST.com – Separuh dari 2.500 kasus kematian akibat Ebola di Republik Demokratik Kongo terjadi dalam 20 hari terakhir. Ini terjadi seiring dengan cepatnya penyebaran wabah di wilayah seluas Prancis tersebut, kata Koordinator Senior PBB untuk Ebola di RD Kongo, Julien Harneis, dilansir dari Kantor Berita Antara.

Harneis, Jumat (21/8), mengatakan sumber daya tambahan sangat dibutuhkan untuk mengendalikan wabah Ebola.

Menurut dia, wabah Ebola ini terjadi di sebuah wilayah yang telah terdampak konflik bersenjata selama 30 tahun, dengan kebutuhan bantuan kemanusiaan yang tinggi.

Baca juga:  Ini, Hasil Autopsi Pelajar yang Tewas dengan Leher Tergorok

Institut Kesehatan Masyarakat Nasional RD Kongo, Kamis (20/8), melaporkan jumlah kasus terkonfirmasi Ebola meningkat menjadi 5.208 kasus dengan angka kematian tercatat 2.476 orang.

Wabah Ebola yang diumumkan pada 15 Mei lalu itu berbeda dari sebagian besar wabah sebelumnya lantaran belum ada vaksin atau pengobatan yang disetujui untuk jenis patogen baru bernama Bundibugyo. (kmb/balipost)

BAGIKAN