
DENPASAR, BALIPOST.com – Opem Gateball Tournament Piala Gubernur Bali 2026 di Stadion Ngurah Rai, Denpasar, ditutup pada Sabtu (8/8) sore. Pegatsi Gianyar menjadi satu-satunya wakil Bali yang tembus podium.
Turnamen yang berlangsung selama tiga hari, 6-8 Agustus 2026, tersebut ditutup Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Gateball Indonesia (PB Pergatsi) Diana Kusumastuti. Penutupan turut dihadiri Gubernur Bali Wayan Koster. Keduanya juga menyerahkan penghargaan kepada para pemenang.
Piala Gubernur Bali 2026 yang untuk pertama kalinya digelar ini mempertandingkan tiga nomor, yakni Beregu Mix, Double Mix, dan Triple Mix. Persaingan berlangsung ketat hingga partai final. Tiga tim berbeda akhirnya berbagi gelar juara.
Puncak drama terjadi pada final nomor Beregu Mix yang mempertemukan Pelindo-A dengan Pergatsi Sulawesi Tengah. Kedua tim tampil ngotot dan saling menekan. Suasana tribun pun bergemuruh setiap kali pemain berhasil menyingkirkan bola lawan ke pinggir lapangan.
Ketegangan semakin memuncak menjelang pertandingan berakhir. Pelindo-A akhirnya memastikan kemenangan setelah salah seorang pemain berhasil mengantarkan bola menyentuh tiang finis. Teriakan kemenangan langsung pecah dari kubu Pelindo-A yang berada di luar garis lapangan.
Pergatsi Sulawesi Tengah harus mengakui keunggulan lawannya dan puas sebagai runner-up. Sementara Water Life Sulawesi Tengah menempati posisi ketiga dan Pelindo-B berada di peringkat keempat.
Persaingan ketat juga terjadi pada dua nomor lainnya. Pada nomor Double Mix, Pergatsi Sulawesi Tengah tampil sebagai juara pertama. Pergatsi Gianyar A menyusul di posisi kedua, Pandawa Brother di tempat ketiga, dan Pelindo-A menempati posisi keempat.
Sedangkan nomor Triple Mix menjadi milik Spartan NTT. Pelindo-A harus puas sebagai runner-up, disusul Water Life di peringkat ketiga dan Pergatsi Gianyar B sebagai juara keempat.
Ketua Umum PB Pergatsi Diana Kusumastuti memberikan apresiasi kepada seluruh peserta, panitia, pemerintah daerah, dan pihak-pihak yang mendukung pelaksanaan turnamen tersebut.
Menurut Diana, Piala Gubernur Bali 2026 memiliki nilai penting karena menjadi turnamen perdana yang digelar di Bali sekaligus bagian dari rangkaian peringatan Hari Jadi ke-68 Provinsi Bali pada 14 Agustus 2026.
Ia menilai penyelenggaraan turnamen tidak semata-mata berbicara mengenai perebutan gelar juara. Lebih jauh, event tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat olahraga sekaligus mengembangkan konsep sport tourism di Bali.
“Gateball yang pertama diperkenalkan di Bali. Ke depan penyelenggaraan turnamen seperti ini digelar lebih baik lagi,” katanya.
Diana juga meminta jajaran Pergatsi di kabupaten/kota semakin aktif membangun jejaring dengan berbagai pihak. Penguatan sumber daya manusia dan kemitraan strategis dinilai penting agar olahraga gateball semakin berkembang dan memiliki kompetisi yang berkelanjutan.
“Ke depan kita harus terus memperkuat jejaring dan sumber daya dengan proaktif para pengurus Pergatsi di kabupaten/kota, menjalin hubungan dengan berbagai mitra strategis,” pintanya.
Dari kubu Bali, Pergatsi Gianyar menjadi satu-satunya tim yang berhasil menembus podium. Gianyar meraih juara kedua pada nomor Double Mix dan menempati posisi keempat pada nomor Triple Mix.
Ketua Panitia Pelaksana, I Ketut Ariantana, mengatakan capaian tersebut menjadi bukti bahwa atlet Bali memiliki potensi untuk bersaing dengan daerah lain. Ia juga menilai Bali memiliki daya tarik kuat sebagai lokasi penyelenggaraan turnamen gateball.
“Penonton sangat antusias dan pesertanya banyak. Kami juga melibatkan kabupaten/kota, kecuali Bangli,” katanya.
Menurut Ariantana, antusiasme peserta dan penonton menjadi modal penting untuk menggelar turnamen serupa dengan skala yang lebih besar pada masa mendatang.
Sementara itu, Wakil Ketua Pergatsi Gianyar, Ketut Jiwa, mengaku bangga dengan perjuangan anak didiknya yang berhasil mengamankan posisi kedua pada nomor Double Mix. Ia menyebut timnya hanya kalah tipis dari Pergatsi Sulawesi Tengah. Faktor pengalaman bertanding atau jam terbang dinilai turut memengaruhi hasil pertandingan.
“Kami kalah tipis dengan Sulteng. Mungkin karena jam terbang. Anak-anak bermain menekan pada 15 menit pertama, tapi mereka bisa membalikkan keadaan,” ungkapnya.
Meski tampil dengan keterbatasan anggaran, atlet Gianyar tetap mampu menunjukkan semangat bertanding. Bahkan, Jiwa menyebut permainan anak didiknya relatif minim kesalahan.
Namun, persoalan pendanaan masih menjadi pekerjaan rumah. Jiwa mengungkapkan Pergatsi Gianyar membutuhkan lebih banyak pertandingan untuk meningkatkan pengalaman dan kualitas atlet. Sayangnya, dukungan anggaran masih terbatas.
“Proposal pengajuan anggaran kami belum turun, sehingga untuk mengikuti kejuaraan ini kami urunan dengan teman-teman,” ungkapnya.
Ia berharap dukungan dari KONI Gianyar dapat semakin diperkuat sehingga atlet gateball Gianyar memiliki kesempatan lebih banyak mengikuti kompetisi. (Suka Adnyana/balipost)




