Ubur-ubur blue bottle ditemukan di Pantai Sanur, BPBD imbau warga yang beraktivitas di pantai lebih waspada. (BP/istimewa)

DENPASAR, BALIPOST.com – Kemunculan ubur-ubur blue bottle atau yang dikenal masyarakat Bali sebagai lateng layar kembali ditemukan di kawasan Pantai Sanur, Denpasar.

Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Bali mengingatkan masyarakat dan wisatawan agar tidak menyentuh hewan laut tersebut. Sebab, sengatannya dapat menimbulkan rasa sakit yang sangat hebat.

Kepala DKP Provinsi Bali, Putu Sumardiana, mengatakan fenomena ini merupakan kejadian alam yang hampir terjadi setiap tahun, terutama pada musim angin kencang dan perubahan arus laut dari laut lepas menuju pesisir Bali.

“Blue bottle atau lateng layar ini cukup berbahaya. Sengatannya bisa menyebabkan rasa sakit luar biasa, muncul bilur merah, bengkak, dan nyeri yang dapat berlangsung selama dua sampai tiga hari,” ujarnya, Rabu (29/7).

Baca juga:  Puncak IBTK Besakih Dipuput Sepuluh Sulinggih

Menurut Sumardiana, kemunculan Physalia utriculus di Pantai Sanur bukan berarti terjadi serangan hewan laut secara tiba-tiba, melainkan bagian dari fenomena blooming ubur-ubur, yakni peningkatan populasi ubur-ubur secara drastis di suatu perairan.

Ia menjelaskan, ada beberapa faktor lingkungan yang memicu fenomena tersebut. Kenaikan suhu air laut akibat perubahan musim dan pemanasan global dapat mempercepat reproduksi ubur-ubur. Selain itu, melimpahnya plankton sebagai sumber makanan, perubahan pola arus dan angin, serta berkurangnya predator alami seperti penyu dan ikan besar juga ikut memengaruhi ledakan populasi ubur-ubur.

“Pada periode Juli sampai September, angin dari laut lepas cenderung lebih kuat sehingga kawanan blue bottle terbawa arus dan gelombang menuju perairan dangkal dan pantai,” jelasnya.

Blue bottle memiliki ciri khas gelembung transparan berwarna biru terang yang mengapung di permukaan air. Dari gelembung tersebut menjulur tentakel panjang kebiruan yang mengandung sel penyengat atau knidosit. Tentakel ini tetap dapat menyengat meskipun hewan tersebut sudah terdampar di pasir.

Baca juga:  Bapenda Temukan Ratusan Potensi Pajak Reklame Baru

DKP Bali mengingatkan bahwa pada kasus tertentu sengatan blue bottle tidak hanya menimbulkan nyeri lokal, tetapi juga dapat memicu gejala lebih berat seperti mual, demam, sesak napas, hingga reaksi alergi yang berpotensi mengganggu fungsi jantung.

Fenomena blooming ubur-ubur juga memiliki dampak lebih luas.

Selain mengancam keselamatan wisatawan, kepadatan ubur-ubur dapat mengganggu aktivitas perikanan karena memenuhi jaring nelayan. Di berbagai wilayah, massa ubur-ubur yang sangat padat bahkan berpotensi menyumbat saluran pendingin fasilitas vital seperti pembangkit listrik.

Baca juga:  Murtiana Dewi dan Indrawan Susul ke PON

Terkait kondisi di Sanur, Sumardiana mengimbau pengelola pantai, pelaku wisata, dan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama terhadap anak-anak yang bermain di tepi pantai.

“Kami minta jangan menyentuh ubur-ubur yang mengapung maupun yang terdampar di pasir. Orang tua harus mengawasi anak-anak saat mandi atau bermain di sekitar pantai,” tegasnya.

DKP Bali juga meminta wisatawan yang tersengat segera keluar dari air dan mencari pertolongan petugas pantai atau tenaga medis apabila muncul keluhan berat seperti sesak napas, pusing, atau reaksi alergi.

Kemunculan blue bottle di Pantai Sanur saat ini masih dipantau oleh DKP Bali bersama pihak terkait untuk memastikan kondisi perairan tetap aman bagi aktivitas masyarakat dan pariwisata. (Ketut Winata/balipost)

BAGIKAN