Sejumlah model mempromosikan endek Buleleng di event Endek Street Fashion. (BP/yud)

SINGARAJA, BALIPOST.com – Sebanyak 60 model berusia 3 hingga 17 tahun mempromosikan kain tenun endek khas Buleleng melalui ajang Endek Street Fashion yang digelar di kawasan Titik Nol Kota Singaraja, Sabtu (18/7) sore. Uniknya, peragaan busana tersebut memanfaatkan zebra cross sebagai catwalk sehingga menyedot perhatian ratusan masyarakat yang melintas.

Peragaan busana yang mengusung konsep street fashion tersebut menghadirkan nuansa berbeda di ruang publik Kota Singaraja. Para model tampil percaya diri memperagakan berbagai rancangan busana berbahan kain endek dengan motif khas Buleleng.

Founder Fortuna Manajemen, I Gede Arysantika mengatakan, kegiatan tersebut merupakan upaya memperkenalkan kain tenun endek kepada masyarakat, khususnya generasi muda, melalui konsep yang lebih dekat dengan perkembangan tren fesyen saat ini.

Baca juga:  5.029 Pendaftar SNBT Pilih Undiksha, UTBK Digelar 51 Sesi

Selain menjadi wadah bagi para model binaan untuk menunjukkan kemampuan, kegiatan itu juga diharapkan mampu mendorong pertumbuhan industri kreatif berbasis budaya di Buleleng.

Menurutnya, sebagian besar koleksi yang ditampilkan merupakan hasil rancangan Fortuna Bali Fashion. Namun, pihaknya juga melibatkan sejumlah desainer lain guna memperluas ruang kreativitas dan melahirkan ide-ide baru dalam pengembangan busana berbahan endek.

“Sebagian besar desain berasal dari Fortuna Bali Fashion, tetapi kami juga merangkul desainer lain untuk ikut berkreativitas. Harapannya semakin banyak ide baru yang lahir,” ujarnya.

Dikatakan, ide penyelenggaraan Endek Street Fashion telah dipersiapkan sejak lama. Konsep peragaan busana di ruang terbuka dipilih sebagai cara untuk mendekatkan kain endek kepada masyarakat sekaligus mengubah persepsi bahwa endek tidak hanya cocok digunakan sebagai seragam, tetapi juga dapat menjadi busana sehari-hari yang modis.

Baca juga:  Desa Adat Blahkiuh Hidupkan Kembali Tarian Kecak

“Pengaruh luar memang ada, tetapi kami tetap mempertahankan dominasi kain tenun endek khas Buleleng. Tujuannya agar endek tidak hanya dipakai sebagai seragam kantor, tetapi juga menjadi busana sehari-hari,” katanya.

Sementara itu, Bupati Buleleng, I Nyoman Sutjidra mengapresiasi pelaksanaan Endek Street Fashion yang mampu menghidupkan kawasan titik nol sebagai ruang publik kreatif. Tingginya antusiasme masyarakat yang hadir dinilai menjadi bukti bahwa ruang publik dapat dimanfaatkan sebagai pusat kegiatan seni dan budaya yang diminati masyarakat.

“Saya cukup terkejut melihat begitu banyak masyarakat yang datang menyaksikan kegiatan ini. Persiapannya singkat, tetapi antusiasmenya luar biasa,” ujar Sutjidra.

Baca juga:  Cuaca Laut Tidak Tentu, Aktivitas Nelayan Terganggu

Menurutnya, kawasan titik nol memang disiapkan sebagai ruang publik yang dapat dimanfaatkan masyarakat untuk berbagai kegiatan positif, mulai dari pertunjukan seni, musik hingga peragaan busana. Untuk mendukung aktivitas tersebut, Pemkab Buleleng berencana melengkapi sejumlah fasilitas pendukung seperti jaringan wifi, kamera pengawas (CCTV), serta area pertunjukan.

Selain itu, pemerintah juga akan menyusun jadwal pemanfaatan kawasan tersebut agar berbagai komunitas dapat bergantian menggunakan ruang publik tanpa terjadi benturan kegiatan. “Ini adalah ruang publik milik masyarakat. Kami ingin semakin banyak komunitas memanfaatkannya untuk berkarya dan menghidupkan Kota Singaraja,” tegasnya. (Nyoman Yudha/balipost)

BAGIKAN