Pengunjung mengamati rangkaian lukisan NiWay saat pembukaan pameran di Sudakara ArtSpace, Jumat (3/7). (BP/Istimewa)

DENPASAR, BALIPOST.com – Karya bukan hanya visualisasi di atas kanvas. Bagi seorang seniman, karya merupakan cerminan dari kontemplasi diri dan mencari makna hidup.

Hal ini lah yang ingin disampaikan pelukis Bali, Ni Wayan Sutariyani. Perempuan yang akrab disapa NiWay ini, berupaya memvisualisasikan tentang cinta tanpa syarat atau unconditional love lewat karya lukisnya.

Dalam 19 karyanya yang dipamerkan di Sudakara ArtSpace, Sudamala Resort, Sanur mulai Jumat (3/7) hingga Senin (31/8), NiWay membagikan kisah mendalam tentang tema yang terus ia gali, cinta tanpa syarat.

Dalam karyanya, NiWay yang juga merupakan terapis seni di Ubud, Gianyar ini menggunakan warna dalam menyampaikan perasaan. Unconditional love banyak direpresentasikan melalui hubungan emosional yang kuat antara orang tua dan anak, terutama figur ibu dan anak.

Namun, bagi Sutariyani, konsep cinta tanpa syarat ini memiliki akar yang lebih personal dan spiritual. “Semua yang saya lakukan di sini adalah only by His grace (hanya karena anugerah-Nya). Karena saya hidup cuma dari belas kasih-Nya,” ungkapnya.

Secara spiritual, ia meneladani sosok Yesus Kristus sebagai representasi tertinggi dari unconditional love dalam hidupnya. Salah satu manifestasi terbesarnya dituangkan dalam lukisan yang ia selesaikan selama tiga hari berturut-turut, yang mengisahkan tentang penyaliban, kematian, hingga kebangkitan Yesus. Inspirasi inilah yang menjadi bahan bakar utamanya dalam berkarya.

Di dunia nyata, Sutariyani melihat potret kecil unconditional love ini ada pada hubungan keseharian, yakni antara ibu ke anak, bapak ke anak, maupun suami ke istri. “Bahkan, cinta tanpa syarat ini juga tecermin dari bagaimana manusia memperlakukan alam, binatang, dan hewan peliharaan mereka,” paparnya.

Sebagai pelukis, NiWay mengaku telah lama berproses. Berdarah Bali, kemampuan melukis seolah sudah mengalir dalam nadinya. Namun, perjalanan tersebut tidak selalu mulus.

Baca juga:  Film portrays plight of women jailed under Salvador abortion laws

Ia sempat melewati fase pasang surut, perubahan suasana hati (mood), hingga rasa putus asa karena merasa karyanya kurang maksimal. Titik balik terbesar dalam hidupnya terjadi dalam lima tahun terakhir, semenjak ia menetap di Bali dan kehilangan kedua orang tuanya.

Momentum kehilangan tersebut menjadi pemantik besar baginya untuk bangkit dan memaksimalkan talenta yang telah Tuhan berikan.

Dalam dua tahun terakhir, produktivitasnya semakin tidak terbendung. Ia merasa seperti lagu “Unstoppable”—tidak bisa berhenti berkarya.

Tuhan telah memberikan tubuh, talenta, dan kesempatan hidup. Bagi Sutariyani, cara terbaik untuk bersyukur adalah dengan menjaga dan memaksimaliskan potensi tersebut, bukan justru merendahkannya dengan tampil seadanya atau bermalas-malasan.

Kurator seni yang juga writer dalam pameran Unconditional Love, Hartanto mengatakan NiWay menyuguhkan vibrasi spiritualitas yang mendalam bagi para penikmat seni. Ia mengungkapkan bahwa karya-karya yang ditampilkan merupakan ekspresi spiritual yang sangat kuat dari sang pelukis.

Menurutnya, penuangan elemen visual seperti pilihan warna, bentuk, dan garis pada kanvas menjadi media bagi seniman untuk mengomunikasikan rasa tersebut. Hartanto bahkan menyejajarkan kedekatan karakter ekspresi NiWay dalam rangkaian karyanya dengan maestro seni ternama dunia, Frida Kahlo dan Georgia O’Keeffe.

“Jika Frida Kahlo mengekspresikan penderitaan dan kesakitan, maka Mbak Wayan (Ni Wayan Sutariyani, red) ini mengekspresikan spiritualitas dan rasa cinta yang tak terbatas,” ujar Hartanto.

Lebih lanjut, Hartanto memaparkan bahwa esensi cinta tanpa syarat yang diangkat dalam pameran ini bersifat universal. Nilai ini melampaui sekat-sekat formalitas karena cinta sejati selalu ada dan diajarkan di setiap ajaran agama, baik Islam, Hindu, maupun agama lainnya.

Bagi kalangan pencinta seni, khususnya seni lukis, Hartanto berpesan bahwa ada hal-hal mendalam yang perlu dipahami secara saksama. Meskipun karya yang ditampilkan memiliki bentuk figuratif, penikmat seni diharapkan tidak berhenti pada apa yang tampak di permukaan saja.

Baca juga:  Cardi B cancels US show because of 'security threat'

“Di dalamnya ada tafsir yang perlu diperdalam lagi. Ada nilai-nilai universal, kebaikan, dan spiritualitas yang diperjuangkan oleh perupanya,” tambahnya.

Menanggapi karya-karya NiWay di Sudakara ArtSpace, Sanur, budayawan Bali, Putu Suasta, memberikan pandangan mendalam mengenai makna spiritual di balik tema tersebut serta pentingnya menjaga ruang interaksi budaya di kawasan Sanur.

Sebagai salah satu pendiri Sudamala, Putu Suasta mengisahkan kembali awal mula berdirinya ruang seni tersebut bersama rekannya, Ben Subrata, sekitar 15 tahun yang lalu.

“Tempat ini memang sejak awal kami canangkan sebagai wadah pertukaran kebudayaan dan tempat bertukar pikiran bagi pegiat seni,” ungkap Putu Suasta.

Ia menceritakan bagaimana salah satu sudut yang awalnya direncanakan sebagai area restoran sengaja “dikorbankan” demi memberikan ruang bagi kegiatan sosial, kemasyarakatan, dan seni budaya. Ruang ini pun aktif menghidupkan ekosistem diskusi budaya yang diadakan secara berkala setiap dua minggu sekali.

Terkait dengan tema yang diangkat oleh NiWay, ia mengaitkannya dengan pengalaman spiritual pribadinya saat menjalani ritual jalan kaki Camino de Santiago di Eropa—sebuah rute ziarah sepanjang ratusan kilometer yang telah melintasi sejarah selama 800 tahun.

Bagi Suasta, esensi dari cinta tanpa syarat serta perjalanan spiritual yang ekstrem memiliki kesamaan logis, yaitu proses melepaskan diri dari segala bentuk keterikatan duniawi.

“Di dalam perjalanan itu, jabatan hilang, kekayaan hilang, rasa hormat hilang. Seseorang berjalan sendirian dan melepaskan egonya. Itulah bentuk praktik nyata dari cinta tanpa syarat. Jika cinta masih di kota, syaratnya terlalu banyak—mulai dari uang bulanan, cicilan, hingga urusan domestik lainnya yang memicu stres,” kelakarnya.

Baca juga:  Sultans of spin: the Japanese breakdancers busting Olympic moves

Ia menambahkan bahwa seni spiritual sejatinya melampaui sekat-sekat institusi dan agama formal.

Suasta memberikan apresiasi tinggi terhadap karya NiWay dan menyebutnya sebagai karya yang sangat memesona, di mana kata-kata saja tidak akan cukup untuk mendefinisikan keindahan, rasa empati, serta simpati yang terpancar dari kanvas.

Ia juga mengajak masyarakat untuk memberikan dukungan nyata kepada para seniman lokal, tidak hanya lewat apresiasi lisan, tetapi juga dengan mengoleksi karya mereka. Menurutnya, di era modern saat ini, nilai sebuah karya seni tidak lepas dari rekam jejak, sejarah, serta persepsi publik terhadap seniman tersebut.

“Sekarang dimensi lukisan adalah soal seberapa luas karya dan nama seniman itu dikenal. Semakin kuat sejarah di balik figur tersebut, nilai investasinya akan semakin tinggi. Hal ini serupa dengan karya tokoh besar lainnya yang dicari karena nilai historisnya,” jelasnya.

Sementara itu, Stephan Winkler selaku Cluster Manager Sudamala Resort menyampaikan rasa bangga atas kelanjutan kolaborasi ini. Bagi Sudamala, figur Ni Wayan Sutariyani sudah tidak asing lagi.

“Merupakan kebahagiaan besar bagi saya untuk menyambut kembali Ibu Ni Wayan, yang sudah bisa kita sebut sebagai resident artist kami,” ujar Stephan.

Ia pun mengatakan kehadiran Sudakara ArtSpace sebagai ruang pameran khusus bukanlah tanpa alasan. Stephan menjelaskan bahwa ruang ini lahir dari visi besar pendiri Sudamala, Ben Subrata.

Sejak awal berdiri, Ben Subrata memiliki visi kuat untuk mengawinkan dunia seni dengan industri pariwisata dan hospitalitas. Langkah ini terbukti sukses menemani perjalanan selama 15 tahun terakhir.

“Konsep unconditional love atau cinta tanpa syarat ini adalah apa yang kami terapkan di industri hospitalitas,” tutur Stephan. (Diah Dewi/balipos

BAGIKAN