JAKARTA, BALIPOST.com – Uji coba pengembangan hidrogen untuk pasokan jaringan listrik dilakukan di Pembangkit Listrik Tenaga Diesel Gas (PLTDG) Unit Bisnis Pembangkitan (UBP) Pesanggaran milik Indonesia Power pada November 2025.

Saat itu, mesin melakukan uji campuran hidrogen hingga 23% pada beban parsial dan menunjukkan efisiensi pembakaran yang lebih baik serta emisi CO2 yang lebih rendah dibandingkan dengan pengoperasian gas alam murni.

Berselang 7 bulan, grup teknologi Wärtsilä memulai validasi mesin hidrogen 100 persennya untuk memasok jaringan listrik nasional Spanyol di Bermeo, Spanyol bagian utara pada Juni 2026. Demonstrasi pertama di dunia dari mesin hidrogen 100 persen berskala besar.

Rasmus Teir, Direktur Strategi Teknologi & Dekarbonisasi di Wärtsilä, mengatakan uji coba ini adalah masa depan energi terbarukan. “Seiring negara-negara dengan cepat meningkatkan skala energi angin dan surya, salah satu tantangan terbesar yang dihadapi transisi energi adalah bagaimana mempertahankan pasokan listrik yang andal secara berkelanjutan selama periode rendahnya pembangkitan energi terbarukan atau lonjakan permintaan,” jelasnya.

Baca juga:  Experience Senggigi, the Oldest and Most Famous Tourism Destination in Lombok

Uji coba ini menandai langkah maju yang besar dalam membuktikan bahwa teknologi mesin dapat beroperasi dengan bahan bakar berkelanjutan 100 persen seperti hidrogen   Dengan pembangkitan energi terbarukan global yang diperkirakan akan tumbuh hampir 4.600 GW pada 2030, teknologi fleksibel yang mampu menyeimbangkan jaringan listrik selama periode rendahnya output angin dan matahari menjadi semakin penting.

“Hidrogen hijau tidak menghasilkan emisi karbon, memungkinkan pembangkitan listrik bersih sekaligus mendukung dekarbonisasi jaringan listrik yang didominasi energi terbarukan. Hidrogen ini dapat menyimpan kelebihan listrik terbarukan dan menyediakan daya yang andal ketika pembangkitan angin atau surya menurun, membantu menstabilkan sistem dan meningkatkan keandalan energi,” paparnya dalam keterangan tertulis.

Baca juga:  31 Tahun Telkomsel Melayani Sepenuh Hati, Dari Jaga Cita Siswa di Tabanan hingga Pelosok Flores

Ditambahkan, Kari Punnonen, Energy Business Director, Australasia di Wärtsilä Energy, uji coba hidrogen Bermeo dan uji campuran hidrogen Pesanggaran Bali menyoroti sifat teknologi mesin yang siap menghadapi masa depan dan fleksibel terhadap bahan bakar. Kami secara aktif mengeksplorasi bagaimana kemampuan ini dapat mendukung transisi Indonesia menuju energi bersih,” tegasnya.

Dilansir dari Kantor Berita Antara, VP Technology Development PLN Indonesia Power sekaligus penanggung jawab program cofiring hidrogen, Hedwig Lunga Sampe Pajung saat uji coba lanjutan cofiring hidrogen di Pembangkit Listrik Tenaga Diesel Gas (PLTDG) Unit Bisnis Pembangkitan (UBP) Pesanggaran, menyebutkan pengujian ini dilakukan dengan pendekatan yang lebih komprehensif dibandingkan tahun sebelumnya.

Jika pada 2024 pengujian hanya dilakukan pada beban penuh (100 persen kapasitas mesin) dengan rasio cofiring 7 persen, pada 2025 pengujian melibatkan tiga variasi beban untuk mendapatkan gambaran performa yang lebih lengkap.

Baca juga:  Wright Partners and Fairatmos to Create Innovative Businesses Tackling Climate Change

“Pengujian kali ini kami lakukan pada beban 75, 85, dan 100 persen kapasitas mesin. Hasilnya, rasio cofiring hidrogen mencapai 23 persen pada beban 75 persen, 22 persen pada 85 persen, dan 17 persen pada 100 persen. Dengan variasi ini, kami bisa melihat perilaku mesin di berbagai kondisi operasi dan menentukan batas maksimum hidrogen yang aman untuk setiap level beban,” jelas Hedwig.

Hedwig menegaskan keberhasilan teknis pengujian ini menunjukkan potensi hidrogen sebagai energi bersih yang dapat diaplikasikan secara berkelanjutan di masa depan.

“Jika keekonomiannya juga terpenuhi, hidrogen dapat disuplai secara kontinu sebagai bagian dari strategi dekarbonisasi pembangkitan,” ujarnya. (kmb/balipost)

BAGIKAN