
BANGLI, BALIPOST.com – Seorang wisatawan menyatakan kapok dan enggan kembali berkunjung ke Dermaga Kedisan, Kintamani, akibat tindakan oknum pedagang asongan yang dinilai memaksa saat menawarkan barang dagangan. Kekecewan tersebut disampaikan melalui sebuah unggahan video di media sosial.
Dalam video tersebut, dia menceritakan bahwa kejadiannya bermula saat dirinya berniat mampir ke Dermaga Kedisan untuk menggunakan fasilitas toilet. Namun, sesaat setelah turun dari mobil, pedagang asongan langsung menghampiri dan menawarkan dagangan.
Awalnya, pengunjung tersebut berniat membeli barang dagangan berupa gelang seharga Rp25.000 untuk sekadar membantu pedagang lokal. Namun, situasi mulai membuat tidak nyaman ketika pedagang terus membuntutinya.
Saat membayar menggunakan uang pecahan Rp50.000 yang diambil di mobilnya, pedagang gelang hanya memberikan kembalian Rp20.000, lalu memberikan satu buah gelang tambahan. Di saat yang sama, pedagang kacang ikut meminta pengunjung untuk membeli dagangannya. Ketika diberikan uang Rp20.000, pedagang tersebut memaksa agar uang tersebut dihabiskan untuk membeli tiga bungkus kacang. Meskipun awalnya kacang ditawarkan seharga Rp10.000 per bungkus.
Merasa risih dan kesal dengan tindakan para oknum pedagang asongan tersebut, pengunjung akhirnya memilih untuk segera meninggalkan Dermaga Kedisan. Dalam unggahannya itu ia pun menyatakan kapok untuk kembali berkunjung ke sana.
Menanggapi keluhan pengunjung yang kini viral di media sosial tersebut, Kepala Disparbud Bangli I Wayan Dirga Yusa, menyatakan bahwa pihaknya akan mencari informasi lengkap untuk mengetahui kronologi dan situasi sebenarnya.
“Nanti kita identifikasi kejadian aslinya seperti apa. Saya akan cari data dulu seperti apa situasi sebenarnya, saya juga akan cari tahu pedagangnya dari mana. Identifikasi dululah, baru nanti berani berkomentar seperti apa sebenarnya kejadiannya,” ujar Dirga Yusa Jumat (29/5).
Disinggung terkait program pembinaan, Dirga Yusa mengungkapkan bahwa pihaknya sebenarnya sudah memiliki perencanaan untuk membina pedagang asongan di beberapa Daya Tarik Wisata (DTW). Hal ini bertujuan agar para pedagang tetap bisa berjualan tanpa mengganggu privasi dan kenyamanan pengunjung. Namun, ia mengakui bahwa pedagang asongan di kawasan Dermaga Kedisan saat ini belum masuk ke dalam sasaran pembinaan disparbud.
“Rencana kita lakukan di Penelokan dulu. Saya akan koordinasi dulu dengan Perbekel-nya (Kepala Desa) seperti apa yang di Dermaga Kedisan,” pungkasnya. (Dayu Swasrina/balipost)










