
BANGLI, BALIPOST.com – Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan, dan Perikanan (PKP) Kabupaten Bangli telah melakukan penanganan pascameninggalnya seorang balita akibat diserang anjing di Desa Songan, Kintamani.
Kabid Kesehatan Hewan Dinas PKP Bangli I Made Armana, mengatakan bahwa pihaknya telah turun ke lokasi untuk melakukan penelusuran. Namun, anjing yang diduga menyerang korban tidak berhasil ditemukan.
“Kami sudah melakukan penelusuran ke lokasi. Tetapi untuk anjing yang diperkirakan menggigit tidak di temukan,” ungkapnya, Rabu (29/4).
Hal itu menyebabkan pemeriksaan laboratorium melalui sampel otak anjing tidak dapat dilakukan. “Sampel tidak bisa diambil karena anjing yang diperkirakan menggigit tidak berhasil ditemukan,” jelasnya.
Sebagai upaya pencegahan, Dinas PKP Bangli telah melakukan eliminasi selektif terhadap anjing-anjing liar yang berada di sekitar lokasi kejadian pada Selasa (28/4). Fokus eliminasi dilakukan hanya di area sekitar lokasi kejadian.
Selain eliminasi, petugas juga menggencarkan vaksinasi rabies bagi anjing-anjing yang memiliki pemilik di wilayah tersebut. Armana mengatakan vaksinasi akan terus berlanjut untuk seluruh populasi anjing di wilayah tersebut dan seluruh desa-desa lain di kabupaten bangli.
Sebagaimana yang diberitakan sebelumnya, seorang balita di Desa Songan, Kintamani, meninggal dunia setelah diserang anjing di depan warung. Korban menghembuskan napas terakhir di RSUD Bangli akibat pendarahan masif.
Berdasarkan informasi, peristiwa yang dialami balita perempuan berusia 4 tahun berinisial MSD tersebut terjadi pada Senin (27/4) sore. Korban yang baru selesai dimandikan oleh ibunya sedang bermain sendirian di depan warung.
Sementara ibunya masuk ke dalam rumah untuk mandi. Sepuluh menit kemudian, sang ibu menemukan anaknya sudah terkapar bersimbah darah dengan seekor anjing di dekatnya.
Plt. Kadiskes Bangli, dr. Dewa Oka Darsana dikonfirmasi Selasa (28/4) mengatakan korban sempat dilarikan ke Puskesmas Kintamani V lalu dirujuk ke RSUD Bangli. Tiba di IGD pukul 18.05 WITA, kondisi korban sudah sangat lemah dengan luka robek luas di area wajah dan leher. Setelah dilakukan upaya resusitasi maksimal, korban dinyatakan meninggal dunia pada pukul 18.20 WITA.
Oka Darsana memastikan penyebab kematian korban adalah henti jantung akibat pendarahan akut yang masif. Hal itu terjadi karena luka gigitan anjing yang sangat luas mengenai area vital, yakni leher dan wajah.
“Kalau akibat rabies perlu waktu. Masa inkubasi atau sejak gigitan sampai timbul gejala paling cepat 7 hari-3 bulan. Kematian akibat rabies biasanya terjadi kurang dari 7 hari setelah muncul gejala rabies. Jadi pada anak ini penyebabnya dipastikan henti jantung akibat perdarahan akut yang masif karena luka gigitan yang luas di daerah vital leher dan wajah,” jelasnya. (Dayu Swasrina/balipost)










