Ekosistem perikanan berdikari yang menggunakan pendekatan holistik diterapkan dalam budidaya ikan belida. (BP/Istimewa)

JAKARTA, BALIPOST.com – Ekosistem perikanan berdikari yang menggunakan pendekatan holistik diterapkan dalam budidaya ikan belida. Ikan tersebut terancam punah karena maraknya praktik penangkapan yang tak terkendali dan memicu degradasi ekosistem serius.

Menurut Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth M.V. Dumatubun, pihaknya sejak 2022 telah mengembangkan ekosistem perikanan itu di Sungai Musi, Sumatera Selatan. Upaya yang berlangsung hampir 4 tahun ini membantu memulihkan ekosistem Sungai Musi sekaligus mengangkat martabat ekonomi masyarakat setempat.

“Sungai Musi bukan hanya ikon Provinsi Sumatera Selatan, tapi juga menjadi urat nadi kehidupan, jejak sejarah dan identitas budaya masyarakat disana. Termasuk Ikan Belida yang sudah ratusan tahun menjadi bagian jati diri warga Sumsel, sehingga dijadikan bakan baku utama kuliner pempek yang otentik,” ujar Roberth dalam keterangan tertulisnya.

Baca juga:  Pasar Motor Listrik Makin Menjanjikan, Brand China Ini Ekspansi ke Indonesia

Kerusakan ekosistem membuat masyarakat bantaran sungai, terutama nelayan dan pembudidaya, terjebak dalam kerentanan ekonomi. Nilai Tukar Pembudidaya Ikan (NTPi) cukup memprihatinkan, hanya 95,53.

Kondisi ini tergambar jelas di Kampung Perikanan Sungai Gerong yang sempat mengalami fenomena “gulung waring”, yakni kegagalan usaha perikanan akibat tidak mampu beradaptasi dengan perubahan lingkungan.

Roberth menjelaskan, Program Belida Musi Lestari mencakup lima pilar, yaitu berdikari benih untuk memastikan ketersediaan benih ikan secara mandiri. Lalu berdikari proses yang menekankan pada tata kelola budidaya yang efisien. Ketiga berdikari pakan, yang mengimplementasikan inovasi pengolahan pakan mandiri untuk menekan biaya produksi.

Setelah itu berdikari produk yang merupakan hilirisasi perikanan menjadi produk bernilai tambah. Terakhir berdikari pengetahuan yang fokus pada transfer ilmu pengetahuan sebagai pondasi dan upaya keberlanjutan. Menurut Roberth, penerapan lima pilar ini berhasil menciptakan konsep “sustainable fisheries, empowering community”.

Baca juga:  Experience Senggigi, the Oldest and Most Famous Tourism Destination in Lombok

“Program ini tidak memberikan bantuan instan yang bersifat sementara, melainkan membangun sistem yang mandiri dari hulu hingga ke hilir. Hasilnya pun nyata, kini telah terbentuk 30 sentra perikanan terintegrasi,” jelas Roberth.

Dampak sosial dan ekonomi yang dihasilkan dari program ini perlahan terlihat. Secara inklusif, program ini melibatkan 307 jiwa dari 8 kategori kelompok rentan.

Secara finansial, program ini menghasilkan lompatan yang sangat besar, dengan hasil penjualan ikan yang meningkat tajam hingga 809% atau sekitar Rp750-an juta.

Dari sisi lingkungan, program ini berhasil menjawab tantangan limbah dengan mengolah 36 ton sampah makanan menjadi pakan ikan atau pellet food waste. “Angka ini bukan sekadar statistik, melainkan simbol pulihnya daya beli dan kesejahteraan keluarga nelayan di sepanjang bantaran Sungai Musi,” tutur Roberth.

Baca juga:  Survei, Ini Deretan AMDK Paling Dipercaya Konsumen Indonesia

Dari sisi pelestarian, program Belida Musi Lestari berhasil mengkonservasi 4 jenis Ikan Belida khas Sumatera Selatan yang hampir punah. Sementara itu, dari sisi keberlanjutan, program ini juga melahirkan Pusat Pembelajaran Masyarakat yang dilengkapi dengan 2 model pembelajaran dan 18 kelas edukasi perikanan.

“Program Belida Musi Lestari adalah bukti nyata bahwa kerusakan lingkungan dapat diatasi melalui kolaborasi dan inovasi. Dengan menyatukan aspek konservasi Ikan Belida dan pemberdayaan ekonomi berbasis kemandirian, program ini tidak hanya menyelamatkan ekosistem Sungai Musi, tetapi juga membangun benteng ketahanan ekonomi masyarakat lokal,” tutup Roberth. (kmb/balipost)

BAGIKAN