Peringatan Earth Hour digelar pada Sabtu (28/3). (BP/Istimewa)

JAKARTA, BALIPOST.com – Earth Hour merupakan gerakan global yang mengajak individu, komunitas, pebisnis, dan pemerintah di seluruh dunia untuk berkontribusi dalam mitigasi perubahan iklim. Kegiatan secara simbolis melalui aksi mematikan lampu dan alat elektronik selama 1 jam pukul 20.30-21.30 waktu setempat, setiap hari Sabtu di pekan terakhir bulan Maret setiap tahunnya.

Dalam pelaksanaan Earth Hour 2026 yang jatuh pada Sabtu (28/3), banyak pihak di Indonesia melakukan aksi hemat energi untuk memitigasi perubahan iklim.

PT Pertamina Patra Niaga misalnya, memilih berkontribusi dalam aksi Earth Hour tahun 2026 di seluruh wilayah operasi kilang. Kegiatan dilakukan melalui pemadaman lampu secara serentak di Komplek Perumahan kilang dan perkantoran selama 1 jam pada pukul 20.30 – 21.30 waktu setempat pada Sabtu.

Baca juga:  Experience Senggigi, the Oldest and Most Famous Tourism Destination in Lombok

Kegiatan dilakukan di seluruh wilayah operasi kilang mulai dari Kilang Dumai, Kilang Plaju, Kilang Cilacap, Kilang Balikpapan, Kilang Balongan hingga Kilang Kasim. Kegiatan Earth Hour sendiri merupakan kegiatan yang diinisiasi oleh World Wide Fund for Nature (WWF).

“Pertamina Patra Niaga khususnya di lingkungan kilang telah melaksanakan kegiatan Earth Hour sejak beberapa tahun yang lalu. Tujuannya adalah untuk terus mengingatkan pentingnya perilaku hemat energi baik pekerja, mitra kerja dan keluarga,” kata Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth M.V. Dumatubun dalam keterangan tertulisnya.

Baca juga:  RAFI 2026, Penggunaan Online Gaming Diprediksi Naik Tajam di Jalur Mudik

Para pekerja Pertamina Patra Niaga bersama dengan masyarakat di berbagai belahan dunia memperingati Earth Hour sebagai bentuk kepedulian terhadap perubahan iklim dan kerusakan lingkungan. Kegiatan global ini dilakukan dengan mematikan lampu dan perangkat listrik yang tidak diperlukan selama satu jam, sebagai simbol komitmen dalam menghemat energi dan melindungi bumi.

“Earth Hour yang diperingati setiap tahun menjadi momentum penting untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya gaya hidup berkelanjutan,” kata Roberth.

Roberth menyampaikan bahwa kegiatan pemadaman listrik yang dilakukan selama 1 jam tersebut di seluruh wilayah kilang menghemat listrik lebih kurang 9 MW, menghilangkan emisi CO2 sekitar 6 ton CO2 Eq dan menghemat pemakaian setara BBM lebih dari 2 ribu liter.

Baca juga:  Dengan Agrosolution, Lahan Kering NTT Potensial Jadi Penopang Ketahanan Pangan Indonesia Timur

“Peringatan Earth Hour ini hanyalah simbolisasi. Namun yang terpenting, perilaku hemat energi harus menjadi budaya kita sehari-hari, dan harus dimulai sedini mungkin. Ayo kita jaga lingkungan kita. Lingkungan nyaman, kita pun ikut nyaman,” kata Roberth.

Roberth juga menjelaskan bahwa aktivasi Earth Hour ini sebagai langkah kampanye hemat energi dengan menggunakan energi secukupnya dalam kewajaran. “Kami juga mengapresiasi masyarakat yang sudah melakukan upaya hemat energi dan menggunakan energi secara wajar serta tidak panic buying,” pungkas Roberth. (kmb/balipost)

BAGIKAN