Naga banda dan padma mengiringi Palebon Rajadewata Ida Bhagawan Blibar, Sabtu (7/3), di Setra Beng, Gianyar. (BP/kup)

GIANYAR, BALIPOST.com – Puncak karya palebon Ida Rajadewata Anak Agung Gde Agung Bharata yang medwijati menjadi Ida Bhagawan Blibar, Sabtu (7/3) berlangsung khidmat dengan hadirnya ribuan warga Gianyar yang memadati kawasan Puri Agung Gianyar dan Setra Beng.

Upacara palebon kali ini menggunakan sarana naga banda, padma dan lembu putih.

Penglingsir dari 16 Puri Warih Ida Bhatara Manggis Kuning yang diwakili Anak Agung Gde Alit Asmara, bersama Anak Agung Gde Oka Wisnu Murti menyampaikan upacara puncak palebon diawali dengan upacara Macaru dan Marisuda Bumi di Setra Adat Beng.

Selanjutnya, layon dijemput dari Bale Sumanggen dengan iringan Tari Gambuh Masatya, lalu dipundut menuju Padma sebelum prosesi menuju setra.

Baca juga:  Bicara di Bimtek PDIP di Sanur, Megawati: Kader Harus Patuh Keputusan Partai

Alit Asmara menyampaikan iring-iringan terdiri dari Gambelan Angklung, pembawa lalontek dan upakara, pedanda diusung gayot, lembu putih, panandan, penari Gambuh Masatya, Naga Banda, Padma, serta baleganjur.

Memasuki tengah hari, tepat pukul 12.00 WITA, suasana di Ancak Saji semakin khidmat dengan prosesi Pemendak Layon. Sebanyak 70 penari Deeng Istri beserta iringan Gamelan Grumpyungan akan menyambut kedatangan Layon dalam suasana religius yang kental.

Salah satu puncak estetika dan spiritualitas dalam palebon ini adalah ritual Memanah Naga Banda pada pukul 12.30 WITA. Posisi struktur pengiring akan diatur secara presisi, yakni Padma Agung (Pekoleman) menempati titik timur Catus Pata, Naga Banda bergerak menuju sisi barat, ​dan Lembu Putih bersiap di depan Puri Gianyar Baleran.

Baca juga:  Kasus Pembunuhan di Semebaung, Polisi Ungkap Motif Pelaku

​Setelah ritual memanah usai, Tragtag (tangga bambu suci) diusung paling depan sebagai pembuka jalan menuju Tunon (tempat pembakaran), diiringi dentuman dinamis irama Baleganjur.

Iring-iringan Megah Menuju Setra

Iring-iringan menuju Setra (pemakaman) diprediksi akan menjadi pemandangan kolosal. Urutan barisan (Pemarigi) melibatkan ribuan krama, di antaranya ​Gong Beri dan Angklung, Lelontekan (Tombak dan Bandrangan), Kecak Bona (70 orang), dan Pasemetonan Puri Agung Manggis Gianyar (lebih dari 160 orang pria dan wanita). Naga Banda yang diusung oleh 60 orang lebih.

Pekoleman Padma Agung yang diusung oleh sekitar 200 orang sebagai tanda bakti masyarakat Gianyar.

Baca juga:  Penyumbang Terbesar Pajak Bali Ternyata Bukan dari Pariwisata

Setibanya di Setra, sebelum prosesi pembakaran dimulai, Pemerintah Kabupaten Gianyar akan melaksanakan Apel Persada.

Alit Asmara menegaskan berdasarkan catatan sejarah, Karya Palebon Rajadewata di lingkungan Puri Agung Gianyar pernah digelar pada 1948, ketika istri Raja Gianyar yang telah menempuh jalan spiritual sebagai bhagawanti wafat. Saat itu, palebon dilaksanakan dengan sarana utama Naga Banda, Padma Putih, dan Lembu Putih, sebagaimana tata upacara agung bagi sosok raja atau bhagawanti.

Pelaksanaan palebon kali ini sekaligus menjadi pengingat akan kesinambungan sejarah spiritual di Puri Agung Gianyar, yang telah tercatat sejak peristiwa tahun 1948 hingga kini. (Wirnaya/balipost)

BAGIKAN