
MANGUPURA, BALIPOST.com – Menyusul adanya 150 hotel, restoran, dan kafe (horeka) di Bali yang memperoleh sanksi administrasi dari Kementerian Lingkungan Hidup karena pengelolaan sampahnya, Menteri Pariwisata, Widiyanti Putri Wardhana, meminta agar Horeka melakukan pengolahan sampah secara mandiri.
Kementerian Pariwisata, kata dia, telah menindaklanjuti surat dari Wakil Menteri Lingkungan Hidup dengan menyurati pelaku horeka agar tertib dalam pengelolaan sampah.
“Kami sudah bersurat kepada industri horeka untuk mengolah sampahnya sendiri sesuai peraturan Menteri Lingkungan Hidup. Kami berharap mereka bisa patuh,” ujarnya, Jumat (6/2) di sela-sela korve bersih sampah di Pantai Kedonganan, Badung.
Ia mengatakan menjaga kebersihan Bali sebagai destinasi utama pariwisata nasional yang menyumbang devisa terbesar bagi Indonesia sangat penting dilakukan. Terutama oleh industri pariwisata, khususnya Horeka.
Menurut Widiyanti, kebersihan lingkungan, khususnya pantai dan kawasan wisata, menjadi faktor penentu keberlanjutan pariwisata Bali. “Kalau destinasi kita kotor, tidak ada lagi wisatawan yang mau datang. Berdasarkan studi, dampaknya bisa lebih dari 3 persen terhadap penurunan devisa dan kunjungan wisata,” ujar Widiyanti.
Ia menekankan, menjaga kebersihan Bali merupakan tanggung jawab bersama, mulai dari masyarakat, pelaku industri pariwisata, hingga pemerintah daerah. Masyarakat diimbau untuk tidak membuang sampah sembarangan, terutama ke sungai, karena sampah tersebut akan bermuara ke laut dan mencemari pantai.
Widiyanti mengatakan Kementerian Pariwisata akan berkoordinasi dengan pemerintah daerah guna memastikan pengangkutan sampah dilakukan tepat waktu. Ia mengingatkan, persoalan sampah yang viral di media sosial dapat berdampak signifikan terhadap citra pariwisata Bali.
“Di media sosial dampaknya bisa sangat besar, bahkan bisa menurunkan minat kunjungan hingga 30 persen,” katanya.
Widiyanti menegaskan, aksi bersih-bersih sampah tidak boleh berhenti sebagai kegiatan seremonial. Upaya menjaga kebersihan harus dilakukan secara berkelanjutan dan menjadi bagian dari budaya sehari-hari masyarakat.
Menurutnya, pembiasaan menjaga kebersihan sejak dini, termasuk melalui kegiatan rutin membersihkan lingkungan sekolah, penting untuk membentuk karakter generasi muda yang peduli lingkungan hingga dewasa. “Kalau dimulai dari sekolah dan dilakukan setiap hari, itu akan menjadi kebiasaan masyarakat ke depan,” pungkasnya.
Ia juga mengingatkan agar masyarakat tidak membuang sampah ke sungai karena akan berdampak buruk bagi lingkungan dan pariwisata, termasuk terjadinya sampah kiriman lintas daerah yang mencemari perairan Bali. (Ketut Winata/balipost)










