
SEMARAPURA, BALIPOST.com – Cuaca hujan dan gelombang laut tinggi membuat petani garam di Desa Kusamba, Kecamatan Dawan, Kabupaten Klungkung, tidak bisa berproduksi selama tiga bulan terakhir.
Salah satu petani garam, Nengah Kertayasa asal Banjar Batur, Desa Kusamba, mengaku tidak memperoleh hasil akibat kondisi cuaca yang tidak menentu.
“Sudah tiga bulan tidak membuat garam karena hujan. Pagi buat garam, sorenya hujan, akhirnya tidak dapat hasil,” ungkap Kertayasa, Kamis (29/1).
Selain hujan, kondisi laut juga tidak bersahabat. Selama lima hari terakhir, gelombang besar terjadi secara berkala.
“Memang tidak terus menerus ombaknya besar. Dua jam sekali ombak besar dan ini sering terjadi siang dan sorenya” ujarnya.
Dalam kondisi cuaca normal, Kertayasa mampu memproduksi garam rata-rata 15 kilogram per hari, meskipun terkadang hasilnya lebih sedikit. Garam produksi Kusamba sendiri terbagi menjadi dua jenis, yakni garam yang diproses menggunakan teknik membran (terpal plastik) dan palungan dari batang kelapa.
Garam membran dibeli koperasi dengan harga Rp10 ribu per kilogram, sedangkan garam palungan memiliki nilai jual lebih tinggi, yakni Rp30 ribu per kilogram. Perbedaan kedua jenis garam tersebut terlihat dari warna dan rasa. Garam membran berwarna putih, sementara garam palungan cenderung berwarna kecokelatan dan memiliki cita rasa khas.
“Garam palungan ini banyak disukai tamu lokal seperti dari Jakarta karena rasanya lebih gurih. bahkan sampai luar negeri seperti Jepang,” jelasnya.
Ia menuturkan, pernah ada tamu asal Jepang yang memesan hingga 20 kilogram garam palungan untuk dibawa ke negaranya. Garam tersebut digunakan untuk mandi dan bahan lulur.
Saat ini, jumlah petani garam di Kusamba terus berkurang. Kertayasa menyebutkan, kini hanya tersisa 14 orang petani garam di Kusamba, sementara dua orang lainnya masih memproduksi garam di wilayah Tribuana.
Akibat sepinya kunjungan wisatawan dan terhentinya produksi, para petani hanya mengandalkan stok garam yang tersisa. Kertayasa mengaku memiliki stok garam mimran sekitar 50 kilogram dan garam palungan sekitar 60 kilogram. Untuk memenuhi permintaan, ia juga membeli garam dari warga lain yang masih memiliki stok dengan harga Rp20 ribu per kilogram.
Selain itu, selama tidak memproduksi garam, Kertayasa mencari penghasilan tambahan dengan menjual “yeh kabar”. Air laut yang telah melalui proses ini dijual seharga Rp100 ribu per 35 liter dan biasanya digunakan sebagai bahan pembuatan tahu. (Sri Wiadnyana/denpost)



