Dishub Bali melakukan uji coba bus listrik Trans Metro Dewata dengan jurusan Kuta-Nusa Dua. (BP/Istimewa)

DENPASAR, BALIPOST.com – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali terus mengakselerasi penggunaan kendaraan listrik (electric vehicle/EV) dan pengembangan ekosistem e-mobility sebagai bagian dari transisi energi bersih. Ini, sekaligus upaya menjadikan Bali sebagai pelopor ekonomi hijau.

Gubernur Bali Wayan Koster menargetkan Bali menjadi pionir industri kendaraan listrik nasional, dengan mendorong pegawai pemerintah hingga masyarakat umum beralih ke kendaraan berbasis baterai.

Bahkan, Koster mengusulkan zonasi awal kendaraan listrik di kawasan wisata seperti Ubud, Sanur, Kuta, Nusa Dua, hingga Nusa Penida. “Nusa Penida akan kita arahkan menjadi green island. Bupati Klungkung sudah siap dan mendukung penuh kebijakan ini,” tegasnya.

Untuk mendukung kebijakan tersebut, Koster menekankan pentingnya ketersediaan infrastruktur Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) yang memadai, kampanye masif yang melibatkan komunitas, serta penyelenggaraan event yang melibatkan pemerintah, pelaku usaha, dan pengguna sebagai ajang promosi kendaraan listrik.

“Dengan kendaraan listrik, masyarakat lebih hemat. Tidak perlu beli bensin, tidak perlu ganti oli, biaya servis juga lebih ringan,” tambahnya saat memimpin rapat Percepatan Penggunaan Kendaraan Listrik bersama Direktur Retail dan Niaga PT PLN (Persero) Adi Priyanto, di Ruang Rapat Kertha Sabha, Rumah Jabatan Gubernur Bali, Jayasabha, belum lama ini.

Baca juga:  Sedang Diperjuangkan, Hak Paten Arak Sebagai Usada Tradisional Bali

Rapat ini merupakan tindak lanjut pembahasan awal pengembangan ekosistem kendaraan listrik di Bali yang sebelumnya digelar pada 26 Desember 2025, melibatkan Pemprov Bali, PLN, serta perwakilan Agen Tunggal Pemegang Merek (ATPM).

Gubernur Koster kembali menegaskan bahwa kendaraan listrik lebih efisien, hemat energi, tidak bising, dan bebas emisi, sejalan dengan visi pembangunan Bali “Nangun Sat Kerthi Loka Bali” yang menekankan kesucian dan keharmonisan alam Bali demi kesejahteraan masyarakat secara sekala dan niskala.

“Sebenarnya program ini sudah lama direncanakan, namun sempat tertunda akibat pandemi Covid-19. Sekarang ekonomi masyarakat sudah membaik, sehingga kendaraan listrik bisa kita dorong kembali,” ujar Koster.

Baca juga:  Solar Langka, Antrean Truk di Sejumlah SPBU Timbulkan Kemacetan

Sementara itu, Direktur Retail dan Niaga PT PLN (Persero) Adi Priyanto menyatakan kendaraan listrik menawarkan banyak keuntungan, mulai dari biaya operasional harian yang lebih rendah, perawatan yang sederhana, hingga pengalaman berkendara yang senyap dan bebas emisi.

PLN, lanjutnya, menjamin suplai listrik yang andal untuk mendukung industri, bisnis, dan rumah tangga, sekaligus meningkatkan daya saing ekonomi. Perencanaan infrastruktur kendaraan listrik juga telah masuk dalam RUPTL dan RJPP PLN.

“PLN berkomitmen meningkatkan infrastruktur charging secara signifikan dan menjadikan Bali sebagai episentrum pengembangan ekosistem EV yang terintegrasi melalui PLN Mobile,” jelas Adi.

Ia memaparkan, PLN Mobile kini dilengkapi fitur Trip Planner untuk mencari lokasi SPKLU, AntreEV untuk pemesanan antrean secara transparan, serta layanan hotline SPKLU 24 jam demi kenyamanan pengguna kendaraan listrik.

PLN juga mendukung percepatan ekosistem EV melalui berbagai program diskon, baik untuk pengguna Home Charging Services maupun penyedia infrastruktur pengisian daya seperti SPKLU dan SPBKLU.

Baca juga:  Traktir Masyarakat saat Tumpek Krulut, Gubernur Koster: Kopi Bareng Media Interaksi dan Kasih Sayang

“Seiring meningkatnya jumlah mobil listrik di Bali, Home Charging menjadi pilihan utama untuk kebutuhan harian, sementara SPKLU berperan sebagai tulang punggung pengisian di destinasi wisata dan jalur perjalanan jauh,” ungkapnya.

Adi menambahkan, dalam tiga tahun terakhir, jumlah mobil listrik tumbuh rata-rata 2,5 kali lipat per tahun. Hingga 2025, jumlah kendaraan listrik di Indonesia telah mencapai sekitar 175 ribu unit, didorong oleh insentif pemerintah, variasi merek yang semakin banyak, serta harga yang makin kompetitif.

Di Bali sendiri, konsumsi energi kendaraan listrik didominasi Home Charger sebesar 55 persen atau 2,24 GWh, sementara SPKLU menyumbang 45 persen atau 1,82 GWh. Pola ini menunjukkan pentingnya keseimbangan pengembangan keduanya untuk keberlanjutan ekosistem kendaraan listrik di Bali.

“Perlu akselerasi bersama dari Pemerintah Provinsi Bali agar ekosistem kendaraan listrik benar-benar tumbuh dan mendukung pariwisata hijau,” pungkasnya. (Ketut Winata/balipost)

BAGIKAN