
DENPASAR, BALIPOST.com – Usia SMAN 12 Denpasar masih terbilang sangat muda, baru 2 tahun. Namun, siswanya sudah mampu meraih prestasi internasional.
Meski siswanya baru berjumlah 254 orang, terbagi dalam 9 rombongan belajar; 4 rombel kelas X, 3 rombel kelas XI, dan 2 rombel kelas XII, SMANDAS tidak bisa dianggap enteng. Dua tim siswanya berhasil menorehkan prestasi membanggakan di ajang IPITEX 2026 (Bangkok International Intellectual Property, Invention, Innovation and Technology Exposition) yang digelar di Bangkok International Trade & Exhibition Centre (BITEC), Thailand.
Dari kompetisi inovasi tingkat dunia itu, SMANDAS membawa pulang satu Silver Medal dan satu Bronze Medal.
Bronze Medal diraih Tim 1 SMANDAS melalui karya bertajuk “AELORA: A Natural Deodorant from a Combination of Grapefruit Seeds (Citrus paradisi) and Aloe Vera (Aloe barbadensis miller) to Reduce Body Odor”. Penelitian ini memanfaatkan biji jeruk grapefruit dan lidah buaya sebagai deodoran alami yang ramah lingkungan untuk membantu mengurangi bau badan.
Sementara itu, Silver Medal diraih Tim 2 SMANDAS lewat penelitian “Altur Patch: An Innovative Patch made from Aloe Vera and Turmeric Extract (Curcuma longa) as an Anti Acne”. Inovasi ini mengembangkan plester perawatan jerawat berbahan lidah buaya dan ekstrak kunyit sebagai alternatif solusi perawatan kulit yang lebih alami.
Kepala SMA Negeri 12 Denpasar, I Putu Eka Yasdika, S.Pd., M.Pd., tak menyembunyikan rasa bangganya. Menurutnya, capaian tersebut menjadi tonggak penting bagi SMANDAS yang masih dalam tahap bertumbuh.
“Capaian ini bukan hanya mengharumkan nama sekolah, tetapi menjadi bukti nyata bahwa siswa SMA Negeri 12 Denpasar, meskipun tergolong sekolah baru, mampu bersaing, berpikir kritis, dan berinovasi di panggung dunia,” ujarnya, Minggu (11/1).
Ekstrakurikuler Karya Ilmiah Remaja (KIR) menjadi ruang tumbuh bagi budaya riset dan berpikir ilmiah di sekolah yang masih muda ini. “Riset bukan hanya milik perguruan tinggi. Sejak SMA, bahkan sejak sekolah baru berdiri, siswa sudah bisa belajar meneliti dan bermimpi besar,” tambahnya.
Tim 1 SMANDAS peraih Bronze Medal diperkuat oleh Elysia Sharlene Gautama, Michael Perangin Angin, Kadek Wina Cahaya Kirani, dan I Nyoman Dandy Christian Sucitra. Sementara Tim 2 peraih Silver Medal terdiri dari Ni Putu Eka Indira Sastrayani, Made Bagus Suardika, Janeeta Anindya Budiarto, Putu Gyana Kalyani Devi, Putu Malika Isvarya Devi, serta Komang Praja Wijaksa.
Di balik keberhasilan tersebut, ada peran penting pembina Ni Wayan Adikana Wiandari Yadnya, S.Pd., M.Pd. yang mendampingi para siswa sejak tahap awal riset hingga presentasi di Thailand.
“Dewan juri berkeliling dari booth ke booth. Setiap tim diwawancarai langsung tentang latar belakang penelitian, metode, hingga potensi pengembangan produk. Interaksi langsung ini menjadi salah satu aspek penting penilaian IPITEX,” jelasnya. (Ketut Winata/balipost)



