Krama Desa Adat Karangasem saat ngayah di Pura Buddha Hireng. (BP/Istimewa)

AMLAPURA, BALIPOST.com – Desa Adat Karangasem akan menggelar karya agung berupa Piodalan Nyatur Rebah, Rsi Gana, Melaspas, Nubung Pedagingan dan Ngenteg Linggih di Pura Buddha Hireng, Jalan Gajah Mada, Amlapura. Upacara yang puncaknya jatuh pada 26 Juni itu kembali dilaksanakan setelah terakhir digelar sekitar 149 tahun silam.

Ketua I panitia karya yang juga Wakil Bendesa Adat Karangasem, Cokorda Alit Surya Prabawa, mengungkapkan, karya agung tercatat terakhir pernah dilaksanakan Caka 1797 (tahun 1875 masehi). Kata dia, rehab terakhir palinggih dan bangunan lainnya Pura Buddha Hireng dilaksanakan pada 2019 lalu.

“Beberapa palinggih yang ada di Pura Buddha Hireng dan sudah mengalami perbaikan fisik, berjejer dari arah barat ke timur kemudian ke selatan, yakni palinggih Bathara Buddha (Ratna Traya), Bhatara Amitaba (Mahadewa), Bhatara Amoghasidi (Wisnu), Bhatara Wirocana (Ciwa), Bhatara Aksobya (Iswara), Bhatara Ratnasambawa (Brahma), Bhatari Sri Bajrapani, Bhatara Sri Sakyamuni, Bhatara Sri Lokeswara, Pengrurah, Apit Lawang Tengen, Apit Lawang Kiwa, Bale Paruman, Bale Pawedaan, dan Candi Gelung,” ucapnya.

Baca juga:  2024, Sentra IKM Kopi Kintamani Ditargetkan Beroperasi

Surya mengatakan, Ida Bhatara nyejer selama tiga hari dan mesineb pada Sanicara Paing Kelawu, (29/6). Yajmana karya Ida Pedanda Gede Putu Cau dari Gria Cau, Kelurahan Karangasem dan Ida Pedanda Istri Keniten dari Gria Keniten, Kelurahan Karangasem, sedangkan Pedanda Buddha, Ida Pedanda Gede Swabawa Karang dari Gria Karang Budakeling, Desa Budakeling, Kecamatan Bebandem.

“Karya agung diawali dengan matur piuning di pura kahyangan tiga, pura maksan dan pura banjar masing-masing pada Budha Wage Menail, 22 Mei lalu. Selanjutnya secara terjadwal dudonan upacara sudah tersusun oleh panitia meliputi, ngias palinggih Ida Bhatara di Pura Bhudda Hireng, Nyurat Sunari, Negtegang Daging Karya, Munggah Sunari, Memenjor, Rsi Gana, Melaspas dan Nyengker Setra, nedunang Ida Bhatara Kahyangan Desa, Mepepada Wewalungan dan lainnya,” katanya.

Baca juga:  Menelusup Ruang Kosong dengan Laku Brata Panyepian

Sementara itu, Jero Mangku Wayan Dresta menjelaskan, nyengker setra akan dilakukan selama sembilan hari, 21-29 Juni 2024. Apabila krama ada yang meninggal saat nyengker setra, tidak diperkenankan melakukan upacara pitra yadnya dibakar di wilayah setra adat Karangasem. Krama hanya boleh menggelar mekingsan di pertiwi setelah matahari terbenam, tidak megegumuk dan narpana. “Megegumuk dilakukan setelah nyengker setra dibuka,” jelasnya.

Dia menjelaskan, untuk ritual selanjutnya pada Budha Paing Wayang, (19/6), Ngelungsur tirtha di enam Pura Sad Kahyangan Jagat di wilayah Bali. Pura tersebut meliputi Pura Besakih, Karangasem, Pura Gunung Agung/Pasar Agung, Karangasem, Pura Ulun Danu, Bangli, Pura Andekasa, Karangasem, dan Pura Watu Karu, Tabanan, sedangkan ngelungsur Tirtha Jatu Sidhakarya, Denpasar pada Saniscara Pon Wugu, (15/6).

Baca juga:  Pujawali Pura Dalem Khayangan Kedaton, Sejumlah Keunikan Jadi Daya Tarik

Ida Bhatara akan melasti kedua dua tempat yakni di segara (pantai) Ujung, Desa Dinas Tumbu, Kecamatan Karangasem pada Redite Umanis Kelawu, (23/4), pukul 08.00 dan dua hari laginya, Anggara Pon Kelawu, (25/6), pukul 15.00 melasti ke kelebutan (mata air) Desa Tauke, Desa Dinas Tiyingtali, Kecamatan Abang.

Sedangkan, Koordinator panitia seksi melasti I Made Arnawa mengatakan, melasti melibatkan 35 banjar, dan diperkirakan krama yang ikut melasti sekitar lebih dari 500 orang. “Saat melasti akan memundut 14 buah jempana, beberapa taulan Ida Bhatara dan perangkat upacara lainnya,” katanya.

Lebih lanjut dikatakannya, untuk pendanaan karya sekitar Rp305 juta diambil dari kas desa adat sekitar Rp150 jutaan dan ditambah punia dari 35 banjar masing-masing banjar sebesar Rp 2 juta. (Eka Parananda/balipost)

 

BAGIKAN