Trofi Piala Dunia U-17. (BP/Ant)

JAKARTA, BALIPOST.com – Para pemain dan ofisial dari 24 negara yang akan berlaga di Piala Dunia U-17 bisa masuk ke Indonesia menggunakan visa olahraga.

“Pemain asing dan tim ofisialnya cukup melampirkan rekomendasi dari organisasi olahraga. Persyaratannya lebih sederhana, sebagaimana yang diatur dalam PP 40 tahun 2023 dan Permenkumham 22 tahun 2023. Jadi bisa langsung diberikan visa tanpa syarat keterangan
pengalaman kerja, surat keterangan berkelakuan baik dari kepolisian negara asal,” ungkap Direktur Jenderal Imigrasi, Kementerian Hukum dan HAM Silmy Karim dalam keterangannya yang diterima di Jakarta, dikutip dari kantor berita Antara, Minggu (29/10).

Baca juga:  Presiden Minta Semua Pihak Tidak Diam Atas Perlakuan Tim Indonesia di All England 2021

Visa olahraga merupakan kategori visa kunjungan satu kali perjalanan untuk tinggal di Indonesia selama 60 hari dan dapat diperpanjang. Skema visa tersebut telah disederhanakan dari versi sebelumnya dengan peruntukan yang sama.

Visa olahraga bagi tim ofisial dan atlet bisa diajukan melalui evisa.imigrasi.go.id sejak 28 September 2023. Saat ini baik atlet maupun tim ofisial tidak perlu lagi melampirkan rekomendasi dari instansi terkait untuk mengikuti kegiatan olahraga atas undangan pemerintah Indonesia.

Baca juga:  Bahas Visi Makmurkan Indonesia, Anies Baswedan Temui Pengurus PWI Pusat

Hingga saat ini telah diterbitkan sebanyak 438 visa kunjungan berindeks C8A atau C8B (visa olahraga). Di tahun 2023, Indonesia menjadi tuan rumah piala dunia U-17 yang diikuti oleh 24 negara pada 10 November hingga 2 Desember 2023.

Pertandingan akan diselenggarakan di empat kota yaitu Jakarta, Bali, Solo dan Surabaya. Laga perdana akan diawali dengan pertandingan Timnas Indonesia melawan Ekuador di Stadion Gelora Bung Tomo, Surabaya pada 10 November 2023.

Baca juga:  BU Menang Perdana di Kandang

Penghapusan beberapa poin dalam persyaratan visa tersebut didasari pertimbangan bahwa atlet dan artis manca negara hanya beraktivitas dalam waktu singkat di Indonesia.

Terlebih lagi, konteks pekerjaan yang dilakukan atlet dan artis asing tidak memberikan efek persaingan kepada tenaga kerja lokal. “Tahun ini Indonesia ada banyak event olahraga internasional. Kita manfaatkan momentum ini untuk memperbaiki layanan keimigrasian agar Indonesia semakin diperhitungkan dalam penyelenggaraan event internasional,” tutup Silmy. (Kmb/Balipost)

BAGIKAN