Ilustrasi. (BP/Istimewa)

DENPASAR, BALIPOST.com – Jumlah investor pasar modal di Bali tahun 2022 sebanyak 191.979 single investor identification (SID) atau mengalami peningkatan sebesar 29% dari tahun sebelumnya. Jumlah investor saham sebanyak 94.751 SID atau meningkat 25% dari tahun sebelumnya.

Kepala Otoritas Jasa Keuangan Regional 8 Bali Nusra Giri Tribroto mengatakan, berdasarkan survey nasional literasi dan iklusi keuangan tahun 2022, indeks literasi keuangan di Bali sebesar 57,66%, sedangkan secara nasional sebesar 49,68%. Sementara indeks inklusi keuangan di Bali sebesar 92,21%, sedangkan secara nasional sebesar 85,10%.

Baca juga:  Siaga SAR Khusus Nataru, Basarnas Libatkan 136 Personil

Tingkat literasi keuangan mencerminkan pengetahuan, keterampilan , keyakinan yang mempengaruhi sikap dan perilaku keuangan seseorang terhadap produk dan jasa keuangan di lembaga jasa keuangan formal. Sementara tingkat inklusi keuangan mencerminkan ketersediaan akses bagi masyarakat untuk memanfaatkan produk dan layanan jasa keuangan di lembaga jasa keuangan formal.

Khusus untuk tingkat literasi dan inklusi keuangan di pasar modal masih terbilang rendah dibandingkan sektor jasa keuangan lainnya yakni secara nasional indeks literasi keuangan sebesar 4,11% dan inklusi keuangan sebesar 5,19%.

Baca juga:  Baru 3 Perusahaan di Bali Go Public

Direktur Utama BEI, Iman Rachman mengatakan, jumlah investor dalam negeri di pasar modal Indonesia tumbuh secara signifikan selama 2022. Jumlahnya mencapai 10.311.152 SID dan jumlah investor saham sebanyak 4.439.933 SID.

Meningkatnya investor pasar modal tersebut tentu tidak hanya didorong oleh kegiatan sosialisasi dan edukasi pasar modal yang dilakukan secara massif, tapi juga karena adanya kemudahan dalam membuka rekening efek yang dapat dilakukan secara online.

Baca juga:  Bobol Sejumlah Hotel, Residivis Ditangkap

BEI akan terus meningkatkan upaya literasi dan inklusi pasar modal dengan menggandeng berbagai elemen masyarakat seperti desa adat yang ada di Bali. Dengan peningkatan literasi masyarakat diharapkan dapat meningkatkan pemahaman mengenai investasi, khususnya di Bali agar tidak ada lagi masyarakat yang terjerumus ke dalam investasi illegal atau bodong dan modus–modus penipuan. (Citta Maya/balipost)

BAGIKAN