Dewa Gde Satrya. (BP/Istimewa)

Oleh Dewa Gde Satrya

Kunjungan kerja Presiden Jokowi ke daerah selalu disertai pemantauan ke mal dan pasar tradisional. Diakui Presiden, tujuannya ke pusat perbelanjaan adalah memantau kondisi pasar dan memastikan terjadinya pertumbuhan ekonomi yang dapat dilihat salah satunya dari aktivitas di pusat-pusat perdagangan.

Aksi Presiden ke mal bukan hal baru. Presiden SBY ketika memimpin negeri ini juga memanfaatkan waktu untuk pergi ke mal ketika melakukan kunjungan kerja.

Ada pesan yang melekat dari keteladanan Presiden, di pusat perbelanjaan bisa berwisata sekaligus berbelanja. Di samping dukungan pada wisata belanja dan kampanye berwisata/berbelanja di dalam negeri, ada empati yang dimunculkan dalam aktivitas leisure tersebut.

Ada multi makna yang menyertai ketika pemimpin nasional pergi ke mal dan pasar tradisional. Dulu kerap didengungkan seruan “Ayo Berwisata di dalam Negeri”, termasuk wisata belanja di dalam negeri. Menjadi semacam seruan nasional.

Namun dewasa ini, entah karena seruan itu dinilai telah berhasil mendorong minat warga atau ada alasan lain, kampanye berwisata dan berbelanja di dalam negeri tidak pernah lagi terdengar. Ada sebuah nilai, bahwa aktivitas jasa, perdagangan dan setiap hal yang terkait interaksi dengan orang lain, dilakukan untuk saling menciptakan dan meningkatkan nilai lebih di kehidupan.

Baca juga:  Bali dan Ledakan Covid-19

Kesadaran akan nilai tersebut membutuhkan pembiasan terus menerus, dan dilakukan bersama sebagai perayaan yang meriah di sektor hospitality and
leisure business. Hospitality yang melekat di mal,
menyangkut pembentukan karakter sebagai bangsa yang berorientasi mencurahkan segala sesuatu yang terbaik untuk sesama.

Pembiasaan memberikan yang terbaik pada orang lain di setiap aspek kehidupan telah dilatih dengan medium
pelayanan kepada masyarakat. Bagian penting lain menindaklanjuti aktivitas leisure Presiden Jokowi ke mal adalah, perlunya koordinasi, integrasi, sinergi dan sinkronisasi antar stakeholder shopping center untuk memperkuat destinasi wisata belanja di masing-masing daerah bahkan negara.

Dalam konteks ini, perlulah kita belajar dari pengalaman yang menunjukkan kekuatan dan sisi baik koordinasi,
integrasi, sinergi dan sinkronisasi antar pelaku usaha shopping center dalam membuat even wisata belanja. Kita mengenal banyak daerah tujuan wisata berbasiskan kota mengandalkan wisata belanja untuk membangun trademark.

Baca juga:  NFT dalam Tata Ruang Kota

Hong Kong misalnya, memiliki ”Hong Kong Shopping Festival” yang spektakuler. Singapura dengan ”The
Great Singapore Sale”. Di Jakarta ada even Jakarta Great Sale, di Surabaya ada Surabaya Shopping Festival. Hal ini menunjukkan kerjasama antar pelaku usaha pariwisata yang mampu mendatangkan keuntungan bagi semua pihak.

Pemda mendapat pendapatan daerah, tenant-tenant mal yang terlibat meraih peningkatan penjualan, citra daerah terdongkrak, masyarakat bisa berbelanja dengan harga kompetitif dan berkualitas, mendapatkan diskon dan hadiah. Semuanya ikut senang.

Jakarta Great Sale yang dulu dikenal dengan Pesta Diskon Jakarta, digelar untuk memeriahkan HUT kota Jakarta selama sebulan, biasanya pada bulan Juni-Juli.
Dengan target transaksi triliunan rupiah, even wisata belanja itu biasanya diikuti 16 asosiasi.

Pemerintah RI sebenarnya telah melihat tanda-tanda potensi sektor pariwisata sebagai penyelamat pendapatan devisa negara, terutama mengatasi ancaman resesi global. Beberapa parameter krisis global yang berdampak pada penurunan ekspor, penurunan daya beli masyarakat (secara umum) dan ancaman PHK jutaan pekerja, membuat kita membulatkan tekad untuk memajukan pariwisata dalam negeri pertama-tama dengan menggerakkan potensi wisatawan dalam negeri.

Baca juga:  Larangan ASN Pamer Harta

Seruan Presiden SBY dalam website-nya ketika memimpin negeri ini masih relevan, ”jika berencana berlibur, silakan berlibur bersama keluarga. Sambil berlibur, makan di warung atau restoran, itu produksi petani dan nelayan kita.”

Di Surabaya, misalnya, visitors tidak sekadar dapat menikmati berbelanja dengan ragam pilihan mal yang tersebar di Surabaya pusat, barat, selatan, timur dan utara. Tetapi juga melalui program city tour semakin memberikan benefit yang lebih kepada mereka. Pasar wisatawan Belanda dan daratan Eropa lainnya misalnya, tidak sekadar dapat berbelanja produk-produk khas Surabaya dan daerah lain di Indonesia, tetapi juga bisa mengunjungi bangunan-bangunan peninggalan zaman kolonial. Di sana, mereka dapat menyusuri warisan Belanda mulai Jembatan Petekan, pintu air Jagir, rumah tinggal, hotel, rumah sakit, hingga penjara Kalisosok dan makam Peneleh. Kedua, pengemasan wisata belanja dengan wisata kuliner.

Penulis, Dosen Hospitality Business, School of Tourism, Universitas Ciputra Surabaya

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA *