Ngurah Weda Sahadewa. (BP/Istimewa)

Oleh Sahadewa

Semangat kepemimpinan adalah salah satu bentuk dari kekuasaan. Sekalipun namanya kepemimpinan tidak melulu terkait dengan politik melainkan dapat terkait langsung terhadap diri pribadi seperti penguasaan atas diri sendiri.

Untuk itu diperlukan sebuah bangun kesadaran yang semakin murni bahwa dirinya mampu untuk tidak semata-mata menguasai diri melainkan dapat mengantarkan dirinya untuk kembali mampu bermuka asli terhadap dirinya sendiri dulu. Inilah sebagai bentuk kejujuran yang tidak selalu mudah untuk diterapkan mengingat
kompleksitas persoalannya.

Namun, satu prinsip dalam kepemimpinan adalah kejujuran yang murni pasti mengantarkan kepada jalan penyelesaian persoalan. Persoalannya adalah ketika kejujuran yang murni itu dipertanyakan apa kira-kira
maksudnya? Inilah sebagai main problem dalam tulisan ini sehingga dijadikan sebagai ajang untuk membahas kekuasaan dan kepedulian.

Kekuasaan dan kepedulian bukanlah mengawang-awang melainkan justru menjadi sebuah tantangan tersendiri untuk diterapkan dalam masyarakat. Ini sebagai bentuk kejujuran yang nyata bagi seorang pemegang kekuasaan. Inti dari persoalan ini adalah bagaimana kekuasaan itu menjadi berkah bukan musibah terhadap masyarakat.

Yang dalam bahasa demokrasi adalah rakyat. Untuk itu dalam tulisan ini ditawarkan jalan penyelesaian berupa pertama, tidak menjadikan kekuasaan sebagai sumber persoalan melainkan sebagai sumber penyelesaian persoalan menyeluruh atas nasib rakyat.

Baca juga:  Era Globalisasi, Pemuda Harus Miliki Jiwa Kepemimpinan, Cerdas, Kreatif, dan Inovatif

Kedua, menunjukkan bahwa kepedulian itu bukan sebatas empati melainkan sudah mengarah kepada diri yang murni tadi yaitu kepedulian berdasarkan kejujuran. Kejujuran sebaiknya sudah merambah kepada cita-cita pembentukan
masyarakat dunia yang kredibel. Seterusnya ini menjadi semacam tidak hanya sekedar jargon melainkan sebagai sumber pengetahuan untuk menyikapi data keadaan penduduk dunia saat sekarang, terutama dalam konstelasi ini adalah bagaimana pertemuan G20 betul-betul sebagai ajang pengujian diri terhadap diri para pemimpin G20 dalam menyikapi kondisi saat ini.

Sudah tentu kondisi saat ini mesti dijadikan sebagai pegangan utama dalam menyikapi apa yang akan terjadi di
masa depan. Oleh karena itu patut ditiru bagaimana pendiri Bangsa seperti Soekarno menjadi sebuah tauladan dalam arti bagaimana mengajarkan bangsa ini untuk
dapat berkemandirian dalam pengertian tertentu.

Sudah tentu pula, bahwa masyarakat dunia pun mestinya diajarkan oleh para pemimpinnya agar dapat menjadi bangsa-bangsa yang mandiri sehingga tidak menjadikan beban bagi bangsa lain. Ini berarti ketika kemandirian ini didengungkan sudah barang tentu didalamnya ada kejujuran atas kondisi masing-masing bangsa ini termasuk terutama dalam konteks yang sekarang sedang terjadi yaitu pertemuan G20.

Baca juga:  Aston Denpasar Ikut Perangi Sampah Plastik di Batu Bolong

Oleh karena itu, cita-cita kemandirian bangsa-bangsa inilah sebagai bentuk hormat dan penghormatan untuk tidak menghisap bangsa lain atas nama bangsanya sendiri melainkan bersama-sama membentuk dunia yang kondusif bebas dari kolonialisme baru. Inilah sebagai pertanda bahwa para pemimpin dunia ini mampu untuk membebaskan bangsanya dari belenggu ketergantungan yang menimbulkan bencana.

Bencana yang menjadikan bangsanya sebagai objek dari bangsa lain. Oleh karena itulah prinsip kesetaraan pantas untuk dikedepankan namun tidak berhenti di sana melainkan betul-betul di-breakdown ke dalam berbagai bentuk kebijakan strategis yang mengatur agar zetiap bangsa untuk berpeluang dan saling memberikan peluang kemandirian itu.

Asalkan tetap atas dasar kejujuran yang melandasi kepedulian. Ini bukan sekadar persoalan nilai justru untuk menciptakan suatu bentuk kebahagiaan tersendiri bagi setiap bangsa di dunia terutama dalam konstelasi saat ini yaitu G20. Inilah sebagai bentuk konstruktif dari G20
jika berhasil menunjukkan komitmen seperti itu agar kelak bangsa-bangsa di dunia ini tidak saling menyerang satu
sama lain melainkan saling membantu dengan asah-asih-asuh.

Baca juga:  Filosofi Peradaban dari Dongeng I Cangak

Itulah poin utama ketika kepedulian dilaksanakan dengan
kekuasaan sehingga kekuasaan itu tidak menjadi menyeramkan melainkan didambakan atas dasar kepedulian yang direalisasikan berdasarkan kejujuran
atas data kondisi di lapangan kehidupan masyarakatnya masing-masing.

Untuk itulah maka perlu dicanangkan sebuah dewan pengawas dalam G20 yang memberikan pertimbangan atas dasar pengawasan terhadap perkembangan
kehidupan bangsa-bangsa di dunia selanjutnya sebagai bentuk pemberian pertimbangan atas keputusan terutama
menilik ketimpangan yang terjadi. Jangan sampai ajang G20 ini hanya sebatas formalitas yang menunjukkan kehebatan Indonesia dalam penyelenggaraannya melainkan sebuah komitmen dari seluruh anggota G20 dalam menunjuk kepada dirinya masing-masing sebagai bangsa dan negara yang komit atas perdamaian untuk kesejahteraan seluruh dunia karena dikatakan bahwa pengaruh ekonomi G20 cukup dominan atas perekonomian dunia dewasa ini.

Penulis, Dosen Fakultas Filsafat UGM

BAGIKAN