Pabrik biodiesel. (BP/Istimewa)

JAKARTA, BALIPOST.com – Tren penggunaan biodiesel mengalami peningkatan seiring adanya upaya pengurangan emisi karbon yang kini dicanangkan pemerintah. Bahkan, Kementerian ESDM telah menetapkan 21 perusahaan yang memperoleh penetapan alokasi volume dalam rangka pengadaan bahan bakar nabati jenis biodiesel untuk campuran solar hingga Desember 2022.

Direktur Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian Putu Juli Ardika menyampaikan bahwa aktivitas industri pengolahan sawit mampu mendongkrak ekonomi daerah. “Industri pengolahan sawit kian berkembang. Bahkan, aktivitasnya mampu memberikan kontribusi yang signifikan bagi perekonomian daerah,” kata Putu dikutip dari Kantor Berita Antara.

Putu menambahkan, sektor industri pengolahan sawit telah menyerap tenaga kerja langsung tidak kurang dari 5,2 juta orang dan menghidupi hingga 20 juta orang dalam rantai sektor industri ini. Pada 2021, ekspor produk sawit mencapai 40,31 juta ton dengan nilai ekspor 35,79 miliar dolar AS, meningkat sebesar 56,63 persen dari nilai ekspor  2020.

“Dalam kurun 10 tahun, ekspor produk turunan kelapa sawit meningkat cukup signifikan, dari 20 persen pada 2010 menjadi 80 persen pada 2020. Hal ini sesuai target peta jalan pengembangan industri hilir kelapa sawit yang diatur melalui Peraturan Menteri Perindustrian No 13 Tahun 2010,” ungkapnya.

Putu menegaskan, hilirisasi industri berbasis kelapa sawit merupakan salah satu keberhasilan dari kebijakan pemerintah yang menetapkan sektor ini sebagai program prioritas nasional.

Baca juga:  Sudah Sebulan, Pedagang Sulit Peroleh Stok Minyak Kita

“Saat ini terdapat 168 jenis produk hilir kelapa sawit yang telah mampu diproduksi oleh industri di dalam dalam negeri untuk keperluan pangan, fitofarmaka/nutrisi, bahan kimia/oleokimia, hingga bahan bakar terbarukan/biodiesel FAME. Sementara pada tahun 2011, hanya ada 54 jenis produk hilir kelapa sawit yang kita produksi,” imbuhnya.

Dalam visi hilirisasi 2045, Indonesia menargetkan akan menjadi pusat produsen dan konsumen produk turunan minyak sawit dunia, sehingga mampu menjadi price setter (penentu harga) CPO global.

Adapun sejumlah kebijakan yang perlu dijalankan, antara lain peningkatan produktivitas, hilirisasi pada oleofood, oleokimia, dan biofuel. Selain itu, memperkuat ekosistem, tata kelola, dan capacity building.

Menurut Direktur Keuangan PT Jhonlin Agro Raya Tbk, Temmy Iskandar,  melalui keterangan tertulis, Selasa (19/7) permintaan terhadap biodiesel ini mampu mendongkrak penjualan bersih. Dikatakannya, berdasarkan Keputusan Menteri ESDM Nomor 150.K/EK.05/DJE/2021 tanggal 30 November 2021, JAR merupakan salah satu dari 21 perusahaan yang memperoleh penetapan alokasi volume sebanyak 302.998 KL (2,98%) dari total 10.151.018 KL dalam rangka pengadaan bahan bakar nabati jenis biodisel untuk pencampuran BBM jenis solar periode Januari sampai Desember 2022.

Baca juga:  Dukung Target Bauran Energi Indonesia, Bisnis Biodiesel Cerah

Penjualan bersih dari perusahaan yang sedang dalam proses IPO di BEI dengan kode emiten JARR melesat tajam pada kuartal I/2022 sebesar 12.433 persen atau meningkat dari Rp10,3 miliar menjadi Rp 1,29 triliun pada periode yang sama. “Melesatnya penjualan bersih terjadi akibat peningkatan volume penjualan FAME (Fatty Acid Methyl Ester) Rp1,09 triliun, seiring beroperasinya pabrik pengolahan biodiesel milik JARR pada September 2021, di mana perseroan juga mengeluarkan produk baru seperti Palm Fatty Acid Distillate (PFAD), Crude Glycerin (CG), dan Fatty Matter (FM),” kata Temmy.

Pabrik pengolahan sawit menjadi biodiesel milik JARR yang dibangun 2019 dan beroperasi September 2021 telah diresmikan oleh Presiden Joko Widodo pada 21 Oktober 2021, di Kabupaten Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan. JARR merupakan anak perusahaan Jhonlin Grup milik pengusaha Haji Samsudin Andi Arsyad yang akrab disapa Haji Isam.

Menurut Temmy, meningkatnya penjualan pada kuartal I/2022 memang membuat meningkatnya beban pokok penjualan menjadi Rp1,17 triliun dari Rp5,71 miliar pada periode yang sama 2021.

Saat ini JARR telah melakukan IPO di Bursa Efek Indonesia (BEI). Masa penawaran awal 12 Juli hingga 15 Juli 2022 dengan penjamin pelaksana emisi efek PT Investindo Nusantara Sekuritas.

JARR menawarkan 1.222.950.000 saham baru dengan nilai nominal Rp100 per saham atau mewakili 15,29 persen dari modal ditempatkan dan disetor penuh dalam perseroan setelah penawaran umum perdana. “Keseluruhan saham tersebut ditawarkan kepada masyarakat dengan harga penawaran berkisar Rp250-Rp300. Nilai penawaran umum perdana saham sebanyak-banyak Rp366,88 miliar,” kata Temmy.

Baca juga:  Di Tengah Pandemi, Pelaku UMKM Diminta Terus Berkreativitas

Setelah IPO, PT Eshan Agro Sentosa bakal mengusai 84,64 persen saham atau 6,77 miliar saham dengan nominal Rp677,10 miliar, sementara PT Sinar Bintang Mulia menguasai 0,08 persen saham atau setara 6 juta saham yang nominalnya Rp600 juta.

Adapun 15,29 persen akan dimiliki oleh masyarakat dengan saham yang beredar 1,22 miliar saham dengan nilai nominal Rp122,29 miliar.

Menurut Temmy, JARR saat ini sudah bersiap untuk mendapatkan ISO 19001. “JARR bakal semakin meningkatkan profesionalitas dalam beroperasi. Saat ini masa penawaran umum tanggal 12-15 Juli 2022 telah selesai,” pungkas Temmy.

JARR memiliki sumber daya untuk mewujudkan hilirisasi usaha perkebunan dan pengolahan kelapa sawit yang terintegrasi mulai dari perkebunan kelapa sawit sampai dengan pengolahan menjadi bahan campuran biodiesel. Tak hanya itu, JARR memiliki lahan perkebunan sawit seluas 17.020,26 Ha yang menghasilkan tandan buah segar dan pabrik biodiesel berkapasitas 1.500 ton per hari yang diresmikan Presiden Jokowi. (kmb/balipost)

BAGIKAN