Calon penumpang berjalan di selasar terminal untuk lapor diri di Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Rabu (29/12/2021). (BP/Antara)

DENPASAR, BALIPOST.com – Pada libur Lebaran tahun ini, pemerintah memberikan cuti bersama selama 4 hari. Namun, di tengah libur yang cukup panjang ini, pemerintah meminta warga tak bepergian ke luar negeri. Hal ini ditegaskan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, Senin (18/4) dalam keterangan virtualnya usai rapat terbatas evaluasi PPKM dipimpin Presiden Joko Widodo.

Ia mengatakan imbauan untuk tidak berlibur ke luar negeri guna mencegah penularan COVID-19. “Dengan adanya libur panjang, masyarakat diimbau untuk tidak bepergian ke luar negeri karena kita tahu di negara lain situasinya tidak sama dengan di Indonesia,” kata Airlangga.

Baca juga:  Cegah Klaster Pengusaha Tempe Meluas, Kelurahan Ini Lakukan PKM Mandiri

Menurut Koordinator PPKM Luar Jawa-Bali ini, masih terjadi tren kenaikan kasus COVID-19 di beberapa negara lain. Ia mencontohkan meningkatnya kasus COVID-19 di Shanghai, China sehingga menyebabkan lockdown di wilayah itu. “Ada potensi penularan dari luar negeri,” sebutnya.

Dengan tren peningkatan kasus tersebut, Ketua Komite Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN) ini menekankan pandemi COVID-19 belum berakhir. “Kita tidak ingin kenaikan tersebut membawa virus yang nanti dibawa oleh PPLN (Pelaku Perjalanan Luar Negeri) kita ke dalam negeri,” kata dia.

Baca juga:  Satgas Fasilitasi Masyarakat Akses Layanan PeduliLindungi

Terkait masih adanya tren kenaikan kasus di luar negeri juga dilontarkan Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin. Ia mengataka ada catatan yang disampaikan Presiden Joko Widodo dalam rapat terbatas terkait evaluasi PPKM. “Catatan dari Bapak Presiden, sangat baik kalau kita tetap hati-hati dan waspada. Kenapa? Karena banyak yang belum kita ketahui dari virus ini,” sebut Menkes.

Terlebih, lanjutnya, beberapa negara tetangga, seperti China dan Korea Selatan, kasusnya masih naik tinggi. Kalau di Indonesia, kasus harian sudah ratusan, di Korsel jumlahnya masih ratusan ribu orang. “Jadi tetap, harus hati-hati dan waspada. Jangan sombong dan jumawa,” tegasnya.

Baca juga:  Inflasi Tak Selalu Merugikan, Salah Satunya untuk Petani

Pergerakan bisa dilakukan dengan normal. Terpenting adalah menggunakan masker. Ia menilai saat ini, masker sudah menjadi gaya hidup. “Kita jaga terus disiplin memakai masker. Tidak usah terlalu terburu-buru mengikuti negara-negara lain yang terlampau agresif, tapi kemudian naik lagi (kasus COVID-19, red). Karena sayang, momentum perbaikannya sudah kita capai dan ini akan sangat mendorong momentum perbaikan ekonomi ke depannya,” sarannya. (Diah Dewi/balipost)

BAGIKAN