Ilustrasi. (BP/dok)

DENPASAR, BALIPOST.com – Bali diguncang gempa berkekuatan magnitudo 4,6 SR, Sabtu (9/4). Gempa ini terjadi bertepatan dengan Hari Tumpek Landep.

Hasil analisis BMKG, gempa yang terjadi pada pukul 17.41 WITA itu dipicu aktivitas subduksi lempeng Indo-Australia. Kepala Balai Besar MKG Wilayah III Denpasar, cahyo Nugroho, SE, S.Si, dalam rilisnya mengatakan gempabumi terjadi pada koordinat 8,76° LS; 114,73° BT, atau tepatnya berlokasi di laut pada jarak 48 km Tenggara Jembrana, Bali pada kedalaman 82 km.

Baca juga:  Tambahan Pasien COVID-19 Sembuh Lebih dari Dua Kali Lipat Kasus Baru, Korban Jiwa Masih Bertambah

Secara metafisis, Sulinggih Ida Pandita Mpu Siwa Budha Daksa Darmita dari Geria Agung Sukawati, Gianyar, menjelaskan bahwa gempa yang terjadi bertepatan dengan Tumpak Landep menandakan bahwa dunia akan mengalami kesulitan. Para pemimpin besar mengalami kesulitan dalam memimpin negaranya.

Bahkan perang terjadi tidak akan terelakkan. Hal ini disebabkan, karena dunia didominasi energi negatif.

Untuk itu, manusia harus tetap waspada tentang adanya penyakit-penyakit yang muncul. “Hal itu semua menurut teks Palalindon. Dalam teks itu diharapkan ada bebayuhan jagat yang khusus diperuntukkan kepada Sang Banaspati, energi kekuatan negatifnya Dewi Durgha kesaten Siwa,” jelasnya.

Baca juga:  Rekor Baru Korban Jiwa COVID-19 Dicatatkan Nasional! Kasus Bertambah di Atas 13.600

Tawur/caru dipersembahkan pada saat kajeng kliwon, celeng butuan (anak babi jantan masih memiliki buah pelir umurnya antara 1 sampai 1, 5 bulan), olah lengkap, ditambah caru pakai asu hitam olah lengkap. “Antisipasi perlu biaya tidak seberapa hendaknya dilaksanakan sesuai tattwa, susila dan ritualnya, karena kita meyakini susastra Nibanda yang sudah diwarisi secara turun temurun dan biasanya terbukti realitanya,” ujarnya. (Winatha/balipost)

BAGIKAN