Kadek Suartaya. (BP/Istimewa)

Oleh Kadek Suartaya

Ratna Mangali adalah seorang wanita pujaan yang tercampak dalam cerita Calonarang. Pementasan teater Calonarang di tengah masyarakat Bali  senantiasa menghadirkan wanita jelita ini dalam sejumlah episodenya. Putri tunggal seorang janda dari Desa Dirah ini dikisahkan meratapi romantika kehidupan sarat nestapa, teraniaya lahir dan batin.

Lakon “Katundung Ratna Mangali” yang sering disimak penonton, misalnya, bertutur  bagaimana  ia–sebagai seorang permaisuri raja–dinista secara hina oleh para petinggi serta dilaknat rakyat Kerajaan Daha (Kediri). Ratna Mangali diusir dari istana, diseret secara brutal ke hadapan ibunya, Ni Calonarang, yang dituduh sebagai penebar teror black magic alias leak.

Masyarakat Bali pada umumnya, tidak begitu asing dengan pementasan dramatari Calonarang. Duka lara dan laku nrimo Ratna Mangali disajikan para pegiat seni pertunjukan dengan penapsiran lurus seperti diguratkan dalam lontar Calonarang yang berseting era kerajaan di Jawa Timur abad XI. Kisah semi sejarah yang diduga baru ditulis pada abad XIV zaman keemasan Kerajaan Majapahit itu,  bertutur tentang penumpasan penguasa (Raja Airlangga) terhadap Si Calonarang.

Naskah lontar Calon Arang yang bertarikh 1540 Masehi dalam terjemahan Soewito Santoso dengan judul “Calon Arang Si Janda dari Girah” (1975) menampilkan peran dua wanita, ibu dan anak, dalam posisi yang berbeda. Si Calonarang adalah janda pemberang yang memberontak, tak berterima dengan kesewenang-wenangan penguasa. Sementara itu, putri kesayangannya, Ratna Mangali, meredam keperihan lakon hidupnya dalam bergulatan kemelut batin tanpa mencari celah sedikit pun untuk mengartikulasikan suara hatinya.

Baca juga:  Menjelang Tiga Tahun Pasca-‘’Tax Amnesty’’

Reinterpretasi terhadap posisi kedua wanita dalam cerita Calon Arang itu, pada masa kini mulai mendapatkan ruang ekspresi, seperti dapat dipantau dalam ungkapan telaah kritis dari Toeti Heraty yang memberikan pemikiran lain dengan pendekatan feminimisme berjudul “Calon Arang Kisah Perempuan Korban Patriarki” (2012) dan juga karya sastra novel Cok Sawitri bertajuk “Janda dari Jirah” (2007).

Sementara itu, para kreator seni pertunjukan Tanah Air, juga ada yang terlecut berkesenian dengan acuan cerita Calonarang,  dalam gelontoran perspektifnya masing-masing. Pada tahun 1974, seorang koreografer Indonesia, Sardono W. Kusumo, pernah menciptakan garapan teater tari bertajuk “Dongeng dari Dirah”.

Karya seni pentas itu memetik sukses ketika ditampilkan di Paris, Perancis, pada tahun yang sama. Beberapa tahun kemudian, tahun 2009, koreografer Retno Maruti dan Bulantrisna Djelantik juga menggarap cerita Calonarang dengan mengeksplorasi estetika tari Bedaya dan Legong, mengangkat judul Bedoyo-Legong Calonarang–sempat dipentaskan di arena Pesta Kesenian Bali (PKB) tahun 2010.

Baca juga:  CEO Message #26, Award: Be The Best!

Bila garapan Sardono menekankan penjelajahan ruang kreatif dengan lontaran pesan moral universal sedangkan karya tari dari duet Maruti dan Bulantrisna menukik pada elaborasi dan asimilasi pada elemen-elemen media ungkapnya, yaitu  keterpaduan rajutan estetika tari Jawa dan Bali dalam toleransi yang isi mengisi.

Kini, gugahan cerita Calonarang dalam atmosfer kreativitas di kalangan pegiat seni pertunjukan di Bali juga berfluktuasi. Salah satunya adalah karya tari berjudul Ratna Mangali Menggugat yang telah dipentaskan pada pertengahan Agustus 2021 lalu. Olah tari karya Sri Ayu Pradnya Larasari ini menguak dari Ujian Tugas Akhir S-2 Program Pascasarjana Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar.

Judul yang disodorkan, mengesankan adanya interpretasi kritis terhadap cerita Calon Arang itu sendiri dan lakon-lakon yang secara konvensional dipentaskan dramatari Calonarang. Tampak dalam penampilannya, karya ini bergelora dengan konsep artistik sarat gagasan, mengartikulasikan tema sesetaraan kaum wanita. Greget feminismenya terasa merambat halus namun berpendar menggedor.

Dibawakan oleh delapan penari (tujuh wanita dan satu pria) dalam bingkai genre tari kreasi. Tari sebagai idiom utama dalam cipta tari berdurasi 30 menit ini, tampak menghadirkan pengembangan dari elemen khas dramatari Calonarang. Dibalut oleh tata busana kain poleng dan cepuk, meletupkan derit magis. Tata panggung yang digelayuti dedaunan dan ranting pohon beringin, juntai gedang renteng serta onggokan sanggah cucuk, menghembuskan angin semilir berdesau mistis. Menggunakan dukungan gamelan Slonding, karya tari ini menyajikan carangan “pembelotan” terhadap karakter tokoh Ratna Mangali, dari wanita pasrah ke figur tegar, menggugat segala kepicikan dan kearoganan terhadap kaumnya.

Baca juga:  Calonarang dan Ajaran Kepemimpinan Dalam Menghadapi Wabah

Karya seni adalah simbol masyarakat dan zaman yang terejawantah secara tersirat dan bahkan dikomunikasikan secara eksplisit dalam bungkus kritis kontekstual. Pesan moral karya tari Ratna Mangali Menggugat, terfokus pada idealisme perjuangan yang mengetuk semua pihak mengedepankan penghormatan pada martabat kaum wanita.

Ratna Mangali dalam karya tari ini menjadi metafora atau simbol penggugat, berseru mengentaskan harga diri wanita dari kebablasan kultural, keangkuhan patriarki misalnya, atau pun dari tirani ego kekuasaan. Muatan aspirasi yang dilontarkan,  terasa relevan digaungkan dalam kehidupan masyarakat kekinian yang masih sering memposisikan kaum wanita secara minor-marginal. Garapan tari Ratna Mangali Menggugat kiranya “provokasi” kreatif-estetis yang menggeliat dari kegelisahan gender.

Penulis adalah Pemerhati Seni Budaya, Dosen ISI Denpasar

BAGIKAN