Luhut B. Pandjaitan. (BP/Istimewa)

DENPASAR, BALIPOST.com – Industri kesehatan nasional memiliki potensi yang sangat besar jika melihat tren kebutuhan saat ini. Sayangnya, pemenuhan alat kesehatan ini masih lebih banyak diimpor dibandingkan produksi dalam negeri. Demikian dikemukakan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut B. Pandjaitan saat menjadi pembicara kunci dalam acara Health Business Gathering 2021, Jumat (3/12) di Nusa Dua, Bali.

Dalam penanganan pandemi ini, Menko Luhut memaparkan bahwa defisit perdagangan alat kesehatan Indonesia terus meningkat. Defisit perdagangan naik hampir 4 kali lipat dari USD 161 juta pada 2013 menjadi USD 531 juta pada 2020.

Meningkatnya defisit perdagangan disebabkan impor alat kesehatan yang terus meningkat sejak 2015. Selama dua tahun terakhir impor tumbuh dua digit (>10% yoy) dan mencapai USD 703 juta pada 2020.

Sementara itu, pertumbuhan ekspor terbatas. Pertumbuhan ekspor sekitar 3-5% yoy dalam 3 tahun terakhir dan hanya mencapai USD 171 juta pada 2020.

“Indonesia mengandalkan produk impor sebagian besar untuk alat kesehatan kompleks, sedangkan produk ekspor sangat terbatas. Kita punya segalanya di negara ini. Tapi, hampir seluruh impor alat kesehatan Indonesia terus meningkat,” ungkap Luhut dalam rilisnya.

Baca juga:  Distan Canangkan Gelar Vaksin Rabies

Urutan tertinggi untuk produk impor ini  adalah Electrodiagnosis Devices (USD 87 juta). Disusul Ultrasonic Scanning Devices (USD 70 juta), Needles, Catheters, Cannula & more (USD 43 juta).

Dalam hal ini, diketahui  Pasalnya, ada perubahan permintaan konsumen, pertumbuhan kelas menengah, penemuan terapi baru, konsentrasi penyakit dan peningkatan pandemi, fokus pada pengendalian biaya, inovasi digital dan telemedis.

“Industri kesehatan di Indonesia memiliki potensi besar yakni naiknya pendapatan rumah tangga kelas menengah, dan kampanye perawatan kesehatan universal,” ujarnya.

Tak ingin terus tergantung dari produk impor, Menko Luhut mengatakan bahwa pemerintah membuka peluang untuk investasi di bidang kesehatan. “Belajar dari pengalaman penanganan Pandemi Covid-19, Indonesia perlu mengurangi ketergantungan pada impor sehingga Industri kesehatan adalah salah satu area prioritas untuk Investasi,” beber Menko Luhut.

Dengan dukungan untuk pengembangan industri kesehatan, dia yakin bahwa ragam ekspor akan meningkat dan mengurangi ketergantungan pada ekspor bahan mentah.

Lebih jauh, diapun mencontohkan pengembangan industri hilir yang awalnya berasal dari ekspor bahan mentah. Yakni pengembangan baterai lithium (menggunakan mineral seperti nikel dan kobalt, dua komponen utama baterai EV).

“Ini sangat penting, kita sangat peduli mengenai ini. Karena kalau kita salah langkah, kita akan merusak generasi selanjutnya, dan saya tidak mau membuat kesalahan mengenai ini,” sambungnya.

Baca juga:  Kluster Industri Mulai Muncul, Implementasi PPKM Darurat Diminta Diperketat

Menko Luhut pun lantas berpesan kepada calon investor agar tidak takut untuk menanamkan investasi di Indonesia. “Kita harus bangga jadi orang Indonesia, kita bukan negara second class, kita great country yang bisa menyelesaikan masalahnya sendiri. Jangan pernah mau dilecehkan orang lain,” katanya.

Dalam kesempatan itu, ia mengungkapkan bahwa jumlah kasus di Indonesia turun secara signifikan. “Sejak penerapan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) pada Juli, jumlah kasus Covid di Indonesia mulai turun secara signifikan. Presiden memberikan saya intruksi untuk melaksanakan beberapa program untuk ini,” kata Menko Luhut.

Untuk update terbaru, diketahui kasus terkonfirmasi di Indonesia per- 1 Desember 2021 yakni 278 kasus (terjadi penurunan 99,51 persen dari puncak kasus terkonfirmasi pada 15 Juli 2021). Sementara itu, jumlah kasus terkonfirmasi positif di Jawa dan Bali  per tanggal  1 Desember 2021 adalah 196 kasus (terjadi penurunan 99,55 persen dari puncak kasus yang dikonfirmasi pada 15 Juli 2021). Pada periode yang sama,  jumlah kasus aktif secara nasional adalah  7.883 kasus (terjadi penurunan 98,63 persen dari puncak kasus aktif pada 24 Juli 2021).

Baca juga:  Kendalikan COVID-19, Ini 3 Pilar Utama dan Targetnya

“Kita mampu menangani pandemi ini dengan baik, negara kita adalah negara yang baik, saya berjanji kalau kalian investasi di sini, kita akan menjaganya,” ujarnya.

Tiga LOI

Selain pemaparan Menko Luhut, pada acara ini juga dilaksanakan penandatanganan tiga LOI (Letter of Intent) antara Deputi Koordinasi Bidang Investasi dan Pertambangan Kemenko Marves Septian Hario Seto dengan tiga Perusahaan Alat Kesehatan yaitu PT. Tawada Healthcare mengenai kerja sama di bidang pengadaan dan pemanfaatan lahan untuk sarana produksi alat kesehatan dalam negeri, PT. Siemens Healthineers tentang kerja sama di bidang pendidikan dan alih teknologi alat Kesehatan, serta PT Binabakti Niagaperkasa tentang kerja sama di bidang alih teknologi alat kesehatan.

Kerja sama ini akan bernilai sekitar Rp 110 miliar. Penandatanganan LOI ini adalah tindak lanjut dari kegiatan klarifikasi dan konfirmasi investasi alat kesehatan di Indonesia pada 22-23 November 2021 dalam rangka mewujudkan kemandirian alat kesehatan di Indonesia.

Ketiga perusahaan di atas merupakan perusahaan yang telah nyata menjalankan produksi alat kesehatan di Indonesia. Selain perusahaan-perusahaan tersebut, diharapkan masih ada sekitar 30-an perusahaan lagi yang segera menyusul untuk berinvestasi dan melaksanakan produksi alat kesehatannya di Indonesia. (kmb/balipost)

BAGIKAN