AAGN Ari Dwipayana. (BP/Istimewa)

JAKARTA, BALIPOST.com – Setiap proses pendidikan tidak boleh melupakan manusia dan kemanusiaan. Peserta didik harus ditempa untuk menjadi manusia seutuhnya, yang bukan hanya menguasai sains dan teknologi, tapi juga menjadikan pengetahuan mewujud dalam tubuhnya menjadi “Sastra Paraga”. Demikian dikemukakan Koordinator Staf Khusus Presiden RI, Ari Dwipayana, Minggu (24/10) saat menyampaikan orasi ilmiah dalam Dies Natalis ke-27 Sekolah Tinggi Agama Hindu Dharma Nusantara Jakarta.

Ari mengangkat tema “Menjadi Manusia Tatwa.” Ia menyebutkan di balik kemajuan sains dan teknologi, manusia tidak boleh melupakan kemanusiaan.

Baca juga:  Yayasan Puri Kauhan Ubud Gelar Sastra Saraswati Sewana II

Mengutip apa yang disampaikan IBM Dharma Palguna, dari manusia, segala sesuatu bisa berawal, dan juga sekaligus bisa membuat semuanya berakhir. Manusia adalah pusat arah. Sebab manusia adalah pusat, maka segala sesuatu mengada darinya dan meniada kepadanya.

Ia mengatakan manusia bukan hanya menguasai sains dan teknologi, tapi juga menjadikan pengetahuan mewujud dalam tubuhnya menjadi “Sastra Paraga”. Selanjutnya, “sastra paraga” akan menuju “sastra-dresta”, di mana satra atau pengetahuan bisa dijadikan fondasi dalam membangun sistem sosial dan menyelesaikan persoalan hidup bersama. Dalam proses kebijakan, hal itu disebut sebagai knowledge based policy.

Baca juga:  ISI Denpasar Gelar Wisuda ke-26, Hadirkan "Bali Sangga Dwipantara"

“PR besar kita yaitu mempersiapkan ekosistem dan sumber daya manusia yang siap menyambut Revolusi Industri 4.0, sehingga Indonesia tidak tergulung dan tenggelam oleh gelombang disrupsi. Sebaliknya, kita bisa berselancar menyiasati gelombang untuk menuju arah yang ingin kita tuju bersama,” tutur Ari, dalam rilis yang diterima.

Ari menegaskan bahwa manusia memiliki tiga unsur kepentingan, kepentingan teknis, kepentingan praktis dan kepentingan emansipatoris. Ketiganya bisa dirujuk untuk membangun fondasi pembelajaran dalam institusi pendidikan.

“Dengan mengadopsi tiga fondasi tersebut, saya ingin menekankan bahwa di tengah disrupsi dan perubahan yang begitu cepat, kita harus tetap merawat nilai-nilai luhur dan semangat kemanusiaan,” tandas Ari.

Baca juga:  Perkuat Arus Tengah dalam Masyarakat Multikultur

Menutup orasi ilmiahnya, Doktor Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada ini berharap agar STAH DNJ tumbuh menjadi Kampus Merdeka, penetas insan-insan berdikari yang mampu menentukan masa depannya. Dan untuk para peserta wisuda, Ari berpesan agar para alumni STAH DNJ menjadi manusia-manusia utuh, yang memiliki kemampuan inovasi, kapasitas adaptasi, wawasan budaya, visi kemanusiaan dan menjaga keberlanjutan lingkungan. (kmb/balipost)

BAGIKAN