I Gusti Kompyang Pujawan. (BP/Istimewa)

Oleh I G.K. Pujawan

Berita mengenai penolakan backpackers ke Bali yang dimuat di Bali Post sangat mengusik perhatian saya. Namun demikian, insting naluriah saya mengatakan rasanya tidak mungkin pendapat ini dilontarkan oleh Menparekraf, Sandiaga Uno.

Saya sangat yakin akan diadakan kajian yang lebih mendalam tentang hal ini. Apalagi turis asal Canada, Michel, menerangkan bahwa 70 persen turis yang masih tinggal di Bali di masa pandemi merupakan turis backpackers.

Sebagai praktisi pariwisata, tourist guide, saya sangat intens berhubungan dengan para backpackers, sebelum pandemi. Marilah kita simak sekelumit pengalaman saya dengan mereka para backpackers sebelum pandemi.

Mendapat undangan dari N.A.Y.D. Jepang (National Assembly for Youth Development Japan) selama 40 hari, saya berkesempatan untuk melihat-lihat dan belajar di Jepang bersama 21 orang pemuda
dari 13 negara lain. Dalam kesempatan ini, saya tinggal di hotel yang mahal, Yoyogi Olympic Centre, ryokan dan di homestay tinggal bersama penduduk
Jepang.

Baca juga:  Membangun Sistem Pendidikan Antikorupsi

Saya teringat akan guru saya, Almarhum Matake Sensei, ketika backpackers mengatakan Jepang sangat mahal untuk dikunjungi. Dengan kalem beliau menjawab “ada tempat yang mahal dan ada juga yang
murah”.

Selanjutnya pada tahun 1981, saya pergi ke Australia, karena hasrat ingin tahu kehidupan para turis yang datang dari Australia. Di dalam berkomunikasi dengan mereka semua, saya tidak mempunyai kendala.

Malahan mereka tertawa terbahak-bahak ketika saya memakai bahasa slang yang saya pelajari dari mereka. Keesokan harinya, setelah saya menginap, managernya datang menanyakan kepada saya, kenapa saya tinggal di youth hostel-nya.

Saya jawab dengan sederhana saja, saya ingin menghemat biaya dan bercita-cita mendirikan homestay di Bali. Sang Manager sangat antusias menyambut saya disertai dengan kemudahan untuk saya tinggal di tempatnya.

Menurut peraturan youth hostel tersebut, tamu hanya boleh tinggal paling lama 3 hari saja dan jam 10 pagi setelah bersih-bersih di youth hostel, tamu harus
pindah dari tempat itu. Saya ti￾?dak harus mengikuti aturan itu dan boleh tinggal selama saya mau, tidak usah bersih-bersih, dan bebas masuk keluar youth
hostel kapan saja.

Baca juga:  Masa Kehidupan Baru: Rasionalisasi atau Tendensi

Janji saya kepada manager tersebut, tentang saya akan mendirikan homestay, dapat saya wujudkan di tahun 1991. Menurut hemat saya, sangat menyenangkan bercakap-cakap dengan mereka, karena kebanyakan dari mereka adalah orang yang sangat berpenbgalaman, seperti wartawan, penulis, pekerja sosial, Greenpeace, dosen, mahasiswa, dan
seterusnya.

Saya, dalam kehidupan saya, merasa beruntung karena telah menginjakkan kaki saya di 4 benua, hanya benua Amerika yang belum sempat saya kunjungi. Kemana pun saya pergi, saya selalu bertemu dengan backpackers.

Berbicara tentang backpackers, saya teringat dengan datangnya para backpackers di Kuta, di tahun 1970. Kebanyakan tamu dari benua Kangguru itu, umumnya adalah pemuda yang terkenal dengan papan selancarnya dan tinggal di rumah-rumah penduduk.

Baca juga:  Guru, Teknologi dan Moralitas

Dalam interaksinya dengan penduduk lokal, mereka berkomunikasi dengan bahasa Inggris dan para tamu tersebut dengan sabar mengajarkan bahasa Inggris pada penduduk lokal. Ada juga yang diajar memasak.

Banyak dari mereka diajak ke Australia oleh para
peselancar itu, dan ada pula yang kawin dan tinggal di negeri tersebut. Menurut pendapat saya, dari Bali lah olah raga selancar itu diperkenalkan ke daerah lain.

Terakhir, saya ingin mengingatkan sekali lagi, bahwa backpackers itu secara umum ingin hemat dalam perjalanan mereka, bisa melihat dan mempelajari suatu tempat agak lama, mereka ingin melihat yang authentic, yang real. Kepada Krama Bali, janganlah
melihat backpackers hanya dari tampilan luarrnya saja. Don’t judge the book by it’s cover, karena para backpackers itu punya uang juga.

Sejatinya, backpackers adalah orang-orang
yang tanpa disadari telah ikut mewujudkan
Nangun Kerthi Sad Loka Bali.

Penulis krama Bali, Pelaku Pariwisata

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA *