Menkes Budi Gunadi Sadikin. (BP/iah)

DENPASAR, BALIPOST.com – Penanganan pandemi COVID-19 dalam sepekan lalu menunjukkan perbaikan. Bahkan dikatakan dalam evaluasi PPKM Level 4, 3, dan 2 yang dilakukan secara mingguan, Senin (30/8), terjadi penurunan kasus konfirmasi COVID-19 yang signifikan, mencapai 90,4 persen secara nasional dari titik puncaknya 15 Juli 2021.

Dari data Kementerian Kesehatan penambahan kasus COVID-19 per 30 Agustus sebanyak 5.436 orang. Kumulatifnya menjadi 4.079.267 orang.

Dilaporkan pula yang sembuh sebanyak 19.398 orang. Total pasien sembuh menjadi 3.743.716 orang.

Korban jiwa tercatat 568 orang. Sehingga kumulatif menjadi 132.491 orang selama pandemi berlangsung sejak Maret 2020. Jumlah pasien COVID-19 yang masih dirawat mencapai 203.060 orang atau sebesar 5 persen dari seluruh kasus yang dilaporkan selama pandemi di Indonesia.

Baca juga:  Dukung Kunjungan Wisman, Ini Yang Dilakukan Sriwijaya Air

Meski penanganan membaik, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin meminta masyarakat untuk harus hati-hati dan tetap mewaspadai adanya penurunan ini. “Tetep eling lan waspada (tetap ingat dan waspada) karena angka positif bisa tiba-tiba naik lagi seperti yang terjadi di berbagai negara lainnya karena munculnya berbagai kegiatan yang mengumpulkan masyarakat dalam jumlah besar,” ingatnya.

Ia lantas mencontohkan naiknya kasus COVID-19 di Indonesia pascalibur Tahun Baru atau Lebaran serta naiknya kasus di India karena ada perayaan upacara keagamaan berskala besar. Menkes Budi juga menambahkan bahwa sektor publik seperti perdagangan, transportasi, pariwisata, kantor atau pabrik, pendidikan, serta keagamaan secara bertahap akan menggunakan aplikasi Peduli Lindungi ini sebagai bagian dari upaya tracing pemerintah.

Baca juga:  Disdik Evaluasi Belajar Kelompok Kelas Rendah

Dijelaskan bahwa hingga seterusnya ada 3 strategi yang harus dilakukan, yaitu deteksi, terapeutik, dan vaksinasi. “Ketiga hal ini tidak bisa dijalankan sendiri, karena jika hanya satu dijalankan, maka kasus kita bisa kembali naik,” ujarnya dalam keterangan pers yang disiarkan kanal YouTube Sekretariat Presiden, Senin (30/8) malam dipantau dari Denpasar.

Ia pun menyebut hingga sekarang Varian Delta dari COVID-19 masih menjadi varian paling umum di dunia dalam 60 hari ke depan dan menyebabkan angka kematian paling cepat. Untuk itu, kewaspadaan dari masyarakat juga diharapkan oleh pemerintah.

Walau begitu, Indonesia masih menjadi salah satu yang paling cepat dalam penyelesaian Varian Delta dari COVID-19, terbukti dari adanya angka konfirmasi mingguan yang sudah pada 12,89 persen (sedang) dan posisi penyuntikan vaksin di Indonesia yang sudah berada di peringkat ke-6 dunia.

Baca juga:  Pandemi COVID-19, Gepeng dan Pengamen Makin Marak

“Kita termasuk yang cepat, tetapi kita tetap harus waspada. 3T kita terus kencangkan, terapeutik berupa obat-obatan untuk COVID-19 juga kita kencangkan, dan vaksinasi kita perbanyak penyuntikannya bahkan hingga 100 juta sesuai arahan Presiden RI hingga akhir Agustus,” jelasnya.

Dalam kesempatan itu, Menkes juga kembali memaparkan strategi peralihan pandemi COVID-19 menjadi endemik. “Kita sedang siapkan hal ini, oleh karena itu kita perlu mempersiapkan dari hulunya, yaitu perubahan perilaku, deteksi dini, dan vaksinasi,” paparnya.

Semua ini akan dilakukan secara bertahap dan terukur. Bantuan dari masyarakat untuk tetap disiplin protokol kesehatan menjadi salah satu kunci utama keberhasilan Indonesia melewati pandemi COVID-19. (Diah Dewi/balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA *