Ilustrasi. (BP/Istimewa)

DENPASAR, BALIPOST.com – Fenomena matahari terbit dari utara yang sempat viral karena adanya seorang guru di Jeneponto, Sulawesi Selatan merekamnya pada Kamis (17/6), dianggap hal lumrah. Dalam astronomi Hindu, fenomena ini disebut Uttarayana.

Biasanya terjadi pada Sasih Karo dan terjadi setiap tahun. Ahli astronomi Hindu Dr. I Gede Sutarya, SST., Par., M.Ag., Jumat (18/6), mengatakan dalam Bhagavad Gita disebutkan, Yogi yang meninggal pada musim ini, rohnya akan mencapai moksa atau tidak akan kembali ke dunia (reinkarnasi).

Baca juga:  CCTV Merekam 19 Ribu Butir Ekstasi Dibawa Polisi ke Akasaka

Ia mengatakan, Uttarayana artinya matahari bukan di utara tapi tetap di timur, hanya memang agak ke utara sedikit. Fenomena ini bukan termasuk fenomena langka, namun rutin setiap tahun terjadi.

Dalam ilmu astronomi modern, kondisi ini merupakan gerak semu matahari, pergerakannya dari selatan menuju utara, dari utara menuju selatan, berganti setiap setiap 6 bulan. “Jadi ketika matahari bergerak dari selatan khatulistiwa ke utara. Setelah sasih karo, dia bergerak ke selatan, disebut Daksinayana. Memang fenomena ini adalah alamiah terjadi, hukum alam, yang menciptakan musim-musim di dunia,” jelasnya.

Baca juga:  11 Desa di Bangli Ini Terbebas dari COVID-19

Menurut astronomi Hindu (Jyotisa), hari tersebut merupakan hari baik untuk melakukan upacara pengabenan. “Makanya di Bali orang sudah mulai ngaben massal dan cuaca sekarang agak dingin karena matahari berada di utara,” ujarnya.

Selain upacara Ngaben, juga hari baik untuk upacara Pitra Yadnya. Berdasarkan cerita Mahabrata, Bhagawan Bhisma menunggu hari kematiannya ketika matahari terbit dari utara.

“Ketika Bhagawan Bhisam ditanya oleh Yudhistira, kapan berangkat ke alam sana, Bisma mengatakan bahwa sedang menunggu matahari berada di utara. Itulah jalan bagi seorang Yogi untuk mendapatkan pembebasan. Jadi Yogi yang meninggal pada kondisi Uttarayana khususnya pada siang hari, rohnya tidak akan kembali ke dunia, dia akan mencapai Moksa,” ungkapnya. (Citta Maya/balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

Captcha *