Sejumlah payung dan kursi pantai yang kosong di Pantai Semawang, Sanur, Denpasar. Kondisi minim kunjungan wisatawan di pantai ini telah terjadi sejak pandemi COVID-19 melanda Bali. (BP/eka)

DENPASAR, BALIPOST.com – Untuk membantu meningkatkan kunjungan ke Bali, Kementerian Koordinator Maritim dan Investasi (Kemenko Marvest) sudah menandatangani nota kesepahaman dengan The Nusa Dua untuk pelaksanaan Work From Bali (WFB). Nantinya, tujuh kementerian/lembaga yang ada di bawah Kemenko Marves akan melakukan WFB.

Ketua Bali Tourism Board (BTB) IB. Agung Partha Adnyana didampingi Ketua PUTRI Bali Inda Trimafo Yudha dan stakeholders pariwisata lain, Sabtu (22/5), menilai akan percuma jika WFB dan MICE yang diselenggarakan di Bali menggunakan pelaku usaha dari luar Bali. Ia menyatakan, Profesional Conference Organizer (PCO) atau EO Bali sangat siap jika pemerintah pusat atau lembaga lain membuat event di Bali.

Baca juga:  Masker Scuba Bukan Standar Cegah COVID-19, Ini Penjelasannya

Menurut Gus Agung, demikian ia biasa disapa, Bali tak kekurangan sumber daya manusia dan sumber daya lain untuk mendukung kegiatan MICE. “Jangan sampai ide Work From Bali yang kita cetuskan, dinikmati PCO dari luar. Kita yang masak, mereka yang pesta,” ujarnya.

Di masa pandemi seperti saat ini, ia menilai wajar bila Bali menuntut dilibatkan dengan segala sumber daya yang dimiliki dalam pelaksanaan MICE. Alasannya, dari 34 provinsi di Indonesia, Bali terpukul paling keras hingga menyebabkan pertumbuhan minus 9 persen lebih.

Baca juga:  Tambah Kantor Cabang, BPR Lestari Bali Resmikan Cabang Gatsu Tengah

Berbagai alasan yang kerap dikemukakan lembaga pemerintah maupun swasta terkait penggunaan SDM lokal, menurutnya hanyalah soal niat baik dari pengguna jasa. Jika selama ini permasalahan pembayaran menjadi kendala, Gus Agung menyatakan siap jika harus dihutangin 3 bulan. “Kami tahu apa yang kami miliki, mau cari barang apapun, cari perajin apapun, destinasi apapun, kami tahu seluk beluknya,” pungkasnya.

Ketua Bali MICE Forum Putu Gede Wiwin Gunawasika mengatakan, selama ini 95 persen event MICE yang dilaksanakan di Bali menggunakan jasa bahkan sumber daya dari luar Bali. Tidak hanya jasa EO, bahkan sampai souvenir dan konsumsi dari luar Bali.

Baca juga:  Semua Pihak Kerjasama Promosikan "Bali Aman"

Akibatnya implikasinya untuk masyarakat Bali kecil. Dalam rangka membantu Bali yaitu Work From Bali (WFB), ia berharap lembaga pemerintah atau swasta menggunakan jasa EO dan sumber daya Bali. “Kita buktikan kita siap jika program ini berjalan,” ujarnya. (Citta Maya/balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

Captcha *