Ngurah Weda Sahadewa. (BP/Istimewa)

Oleh Ngurah Weda Sahadewa

Ketika orang berbicara tentang konsep berbisnis memerlukan suatu pengalaman tertentu sekarang persoalannya adalah ketika era atau masa pandemi sekarang ini belum tentu semua orang sudah memiliki suatu pengalaman berbisnis. Sesuatu yang patut untuk dipertanyakan adalah kemudian apakah jika belum pernah punya pengalaman dalam berbisnis kemudian juga mematikan kesempatan bagi orang tersebut?

Inilah sudah menjadi pertanyaan klasik dalam dunia berbisnis sebab, tidak hanya karena persoalan pengalaman semata sebenarnya yang mengemuka akan tetapi bagaimana menaruh kepedulian terhadap nasib dan masa depan rakyat di tengah situasi dan kondisi pandemi ini patut menjadi pertimbangan jitu.

Ketika pula masyarakat atau katakanlah rakyat banyak yang kesulitan keuangan untuk memenuhi kebutuhan ataupun keperluan hidup sehari-hari belum lagi biaya sekolah dan sebagainya tentu menjadi faktor penting yang patut terus dipertimbangkan oleh pengambil kebijakan baik di tingkat pusat dan daerah sehingga menjadikan rakyat dapat terselematkan sebisa mungkin dengan pula mengikutsertakan peran masyarakat itu sendiri dan tentu dengan kebijakan serta kebijaksanaan negara ataupun pemerintah dalam menentukan garis masa depan rakyatnya itu.

Baca juga:  Pentingnya Kecakapan Literasi Baca-Tulis

Pada saat yang hampir bersamaan nyaris begitu sulit mencari peluang berbisnis di tengah kondisi pandemi sekarang ini ataupun kemungkin di masa depan. Kenyataan ini bukanlah sebagai bentuk dari ketidakmengertian masyarakat tentang dunia bisnis melainkan bagaimana masyarakat terbantukan untuk berbisnis dengan benar berdasarkan kebenaran (satyam) itu sendiri. Inilah yang mestinya menjadi salah satu implementasi dalam program Nangun Sat Kerthi Loka Bali yang penuh dengan idealisme namun dapat terancam dalam implementasinya di berbagai lini itu. Oleh karenanya jika masyarakat ataupun rakyat terinspirasi oleh pemerintah maka timbal baliknya secara logis mestinya pemerintah juga terinspirasi dari rakyatnya untuk bersaama membangkitkan kondisi yang sedang terpuruk ini.

Baca juga:  Reformasi vs Radikalisme

Pada dasarnya kebenaran (satyam) sebagai bentuk implementasi dalam berekonomi tidak patut dipandang sebelah mata jika orang ataupun pengambil kebijakan benar-benar mengerti tentang apa yang dimaksud dengan arah jangka panjang pengembangan bidang ekonomi yang berbasis pada bisnis itu. Karena, bisnis merupakan suatu program hidup yang bersifat jangka panjang pula jika memang mengerti akan masa depan dari bisnis yang bersangkutan dengan dasar pertimbangan sejauhmanakah bisnis yang dimaksud memiliki keterkaitan langsung dengan spirit hidup masyarakatnya ataupun rakyatnya secara ketuhanan yang praktis.

Artinya ketuhanan yang dapat memunculkan kepercayaan dalam wadah kemanusiaaan. Wadah kemanusiaan inilah merupakan pasar dalam berbisnis dengan dasar ketuhanan yang menjadikan manusia itu semakin dewasa untuk menyikapi hidupnya dan hidup orang lain pula. Oleh karena itu pula tidaklah patut meragukan tentang masa depan jika memang masyarakatnya ataupun rakyat ber-Tuhan. Artinya ber-Tuhan yang diimplementasikan ke dalam nilai-nilai keluhuran interaksi antar manusia dengan jaminan keamanan dari negara untuk melakukan berbagai kegiatan bisnis itu. Inilah kemudian dapat dijadikan batu sandaran ataupun batu pijakan sementara yang penting artinya untuk membentuk batu fondasi bangunan ekonomi berbasis bisnis itu.

Baca juga:  Gerakan Sekolah Menyenangkan

Selanjutnya, jika kemudian masyarakatnya memang dipenuhi dengan berbagai bentuk keindahan termasuk dalam seni sebagai bagian dari kebudayaannya akan muncul pertanyaan yang bisa dijawab langsung yaitu akankah masyarakat ataupun rakyat yang menjunjung nilai seni itu akan pudar hanya karena ekonomi mandek?

Inilah jawabannya, bahwa ketika ekonomi mandeg akankah masyarakat ataupun rakyat itu berhenti berkreasi seni dalam kebudayaannya. Tentu tidak jika masyarakat tersebut dapat menjalin keindahan dalam hatinya sendiri digunakan sebagai jalinan kebutuhan atas dasar bisnis yang saling memberikan keuntungan sebagai seni baru dalam kebudayaan ekonomi atas dasar bisnis itu.

Penulis, staf Pengajar Fakultas Filsafat UGM

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

Captcha *